Penyakit Lainnya

Albuminuria

23 Feb 2022 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Albuminuria
Albuminuria atau ginjal bocor adalah kondisi terdapatnya albumin pada urine dalam jumlah banyak di atas normal. Albumin sendiri adalah salah satu jenis protein yang terdapat dalam darah. Itu sebabnya, albuminuria juga dikenal dengan nama proteinuria. Protein berguna untuk membangun otot dan tulang, mengatur jumlah cairan dalam darah, mencegah terjadinya infeksi dan memperbaiki jaringan. Normalnya, protein di dalam darah tidak mengalir melalui urine dalam jumlah banyak. Tugas ginjal adalah menyaring protein di dalam darah agar tidak bocor dan terbuang lewat urine.Ditemukannya albumin di dalam darah menandakan fungsi ginjal yang rusak. Semakin banyak kebocoran albumin yang ditemukan di ginjal, menandakan semakin berat pula kerusakan ginjal yang Anda alami.Kadar normal albumin terbagi berdasarkan kelompok usia, yaitu:
  • Dewasa: 3,8 – 5,1 gr/dl
  • Anak-anak: 4,0 – 5,8 gr/dl
  • Bayi: 4,4 – 5,4 gr/dl
  • Bayi baru lahir (neonatus): 2,9 – 5,4 gr/dl
Proteinuria bukanlah sebuah penyakit, melainkan tanda dari kondisi kesehatan tertentu, khususnya penyakit ginjal.Baca juga: Mengenal Anatomi Ginjal dan Fungsinya pada Tubuh
Albuminuria
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaUrine berbuih, sering buang air kecil, wajah, kaki, tangan, dan perut membengkak
Faktor risikoUsia lanjut, merokok, obesitas
Metode diagnosisTes dipstick urine, tes rasio albumin-kreatinin urine, tes darah
PengobatanObat-obatan, penyesuaian gaya hidup
ObatACE inhibitor, kortikosteroid, diuretik
KomplikasiEdema paru, gagal ginjal akut, infeksi
Kapan harus ke dokter?Ketika mengalami gejala ginjal bocor
Pada tahap awal, albuminuria biasanya tidak menunjukkan tanda dan gejala yang khusus karena jumlah protein yang bocor masih sedikit. Salah satu gejala umum yang bisa dilihat adalah adanya busa atau buih yang berlebihan pada urine. Namun, ketika kerusakan ginjal sudah semakin parah, protein yang bocor ke dalam urine pun bisa semakin banyak. Hal ini biasa ditandai dengan berbagai gejala berikut:
  • Urine berbuih
  • Sering buang air kecil
  • Wajah, kaki, tangan, dan perut yang membengkak
  • Sesak napas
  • Mudah merasa lelah
  • Mual dan muntah
  • Kurang nafsu makan
  • Kram otot di malam hari
  • Mata bengkak terutama di pagi hari
Penyebab albuminuria adalah bocornya protein ke ginjal akibat rusaknya ginjal akibat penyakit tertentu. Kerusakan itu menyebabkan kerusakan fungsi ginjal untuk menyaring.Pada ginjal yang sehat, glomerulus akan menyaring darah dari berbagai macam zat sisa tubuh yang sudah tidak dibutuhkan. Limbah tersebut kemudian akan dibuang melalui urine. Sementara, zat lain yang diperlukan tubuh seperti protein dan nutrisi penting lainnya akan tetap disimpan di dalam darah. Saat terjadi kerusakan pada ginjal, protein yang seharusnya bertahan di dalam darah, malah bocor dan terbuang lewat urine. Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan kerusakan ginjal dan menyebabkan protein bocor ke urine, di antaranya adalah:

1. Dehidrasi

Dehidrasi terjadi ketika tubuh kehilangan banyak cairan. Tubuh membutuhkan cairan untuk mengantar protein ke dalam ginjal. Jika jumlah cairannya tidak cukup, ginjal akan kesulitan untuk menyaring protein. Akibatnya, protein dapat bocor ke dalam urine. Ginjal bocor akibat dehidrasi biasanya hanya bersifat sementara dan dapat diatasi dengan memenuhi kebutuhan cairan.

2. Tekanan darah tinggi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi juga bisa menyebabkan ginjal bocor. Saat tekanan darah tinggi terjadi, pembuluh darah di ginjal dapat melemah. Kemampuannya dalam menyerap protein pun terganggu, sehingga protein terbuang lewat urine.

3. Diabetes mellitus

Kadar gula darah yang tinggi pada penderita diabetes akan memaksa ginjal bekerja lebih keras untuk menyaring darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan pada glomerulus dan mengganggu fungsinya, sehingga protein pun bisa bocor ke dalam urine.

4. Glomerulonefritis 

Glomerulonefritis adalah peradangan glomerulus. Kondisi ini bisa menyebabkan glomerulus tidak bekerja dengan baik sehingga menyebabkan banyaknya protein yang keluar melalui urine.

5. Penyakit ginjal kronis

Penyakit ginjal kronis adalah hilangnya fungsi ginjal secara progresif yang biasanya disebabkan oleh hipertensi atau diabetes. Ginjal bocor atau proteinuria sering kali menjadi gejala awal dari penyakit ginjal kronis.

6. Penyakit autoimun

Penyakit autoimun dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh keliru menyerang sel-sel sehat yang terdapat di ginjal. Hal ini kemudian merusak ginjal dan menyebabkan albuminuria.Beberapa penyakit autoimun yang sering kali menyebabkan ginjal bocor di antaranya adalah Systemic Lupus Erythematosus (SLE), sindrom goodpasture (antibodi menyerang ginjal dan paru-paru), dan nefropati IgA (deposit immunoglobulin A menumpuk di glomeruli).

7. Preeklampsia

Preeklampsia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai dengan naiknya tekanan darah secara tiba-tiba. Tekanan darah yang sangat tinggi pada preeklampsia dapat merusak fungsi ginjal dalam menyaring protein. Alhasil, Anda bisa mengalami albuminuria.

8. Kanker

Beberapa jenis kanker juga bisa menyebabkan ginjal bocor, seperti kanker paru, kanker payudara, kanker sel plasma (multiple myeloma), limfoma Hodgkin, hingga kanker kolorektal (usus besar).Pasalnya, efek peradangan yang disebabkan oleh kanker dapat merusak fungsi ginjal, sehingga albuminuria pun bisa terjadi.

9. Penyebab lainnya

Penyebab lain dari proteinuria meliputi:
  • Gangguan atau disfungsi yang mempengaruhi tubulus ginjal
  • Radang saluran kemih, yang mungkin disebabkan oleh kondisi seperti infeksi saluran kemih atau tumor
  • Kelebihan produksi protein tertentu
  • Efek samping penggunaan obat aspirin
  • Terpapar cuaca dingin
  • Aktivitas fisik yang berlebihan
 

Risk Factors (Faktor risiko)

Albuminuria dapat terjadi pada siapa saja. Namun beberapa orang berisiko lebih tinggi mengalami ginjal bocor. Beberapa orang yang lebih berisiko mengalami albuminuria (ginjal bocor), antara lain:
  • Berusia 65 tahun ke atas
  • Memiliki keluarga dengan riwayat ginjal bocor
  • Memiliki riwayat penyakit jantung atau cedera ginjal akut
  • Etnis tertentu (Asia, latin, African American, dan American Indian) memiliki risiko lebih tinggi mengalami proteinuria
  • Obesitas atau kelebihan berat badan
  • Merokok 
Albuminuria dapat didiagnosis melalui tes urine. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menganalisis kandungan urine, termasuk jumlah protein yang ada di dalam urine. Albuminuria biasanya diuji menggunakan tes dipstik urin diikuti dengan tes rasio albumin-kreatinin urine, dan beberapa pemeriksaan lanjutan lainnya. Berikut beberapa pemeriksaan yang dapat mendeteksi albuminuria.

1. Tes dipstick 

Pada pemeriksaan ini, Anda akan diminta untuk mengumpulkan sampel urine dalam wadah khusus. Kemudian, strip indikator yang disebut dipstick akan dicelupkan ke dalam sampel urine. Strip ini telah dilengkapi dengan bahan kimia yang akan berubah warna ketika bersentuhan dengan zat seharusnya tidak berada di dalam urine.Jika dipstick berubah warna, hal tersebut menandakan adanya albumin dalam urine. Tes dipstick biasanya dilakukan secara berulang untuk memastikan bahwa kerusakan ginjal telah terjadi. 

2. Tes rasio albumin-kreatinin urine

Meski tes dipstick sangat sensitif dalam mendeteksi keberadaan protein dalam urine, tes ini tidak bisa mengukur seberapa banyak kadar protein albumin di dalam urine. Oleh karena itu, tes dipstick biasanya diikuti oleh suatu pemeriksaan yang disebut tes rasio albumin-kreatinin urine.Tes rasio albumin-kreatinin urine bertujuan untuk membandingkan jumlah albumin terhadap jumlah kreatinin yang telah dikeluarkan dalam urine selama 24 jam. Kreatinin adalah produk sisa dari metabolisme otot yang dikeluarkan melalui urine dan menggambarkan konsentrasi urine.Pada pemeriksaan ini, pasien akan diminta mengumpulkan sampel urine setiap buang air kecil selama 24 jam. Sampel urine tersebut kemudian akan dianalisis di laboratorium.Normalnya, hasil tes rasio albumin-kreatinin urine yang disebut albumin-to-creatinine ratio (ACR) adalah kurang dari 30 mcg per mg kreatinin.Jika hasilnya menunjukkan angka 30 mcg per mg kreatinin atau lebih tinggi, hal ini bisa menandakan adanya penyakit ginjal. Dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan lanjutan yang dapat memeriksa kondisi dan fungsi ginjal dari berbagai faktor. 

3. Pemeriksaan lanjutan

Pasien yang menunjukkan hasil ACR tinggi biasanya direkomendasikan untuk melakukan berbagai tes berikut:
  • Tes darah untuk mengukur kadar kreatinin, memperkirakan laju filtrasi glomerulus (GFR) dan mengukur semua protein dalam serum darah.
  • Tes pencitraan seperti CT scan dan ultrasound ginjal. Tes ini dapat menunjukkan bagian dalam ginjal yang bermasalah seperti adanya batu ginjal, tumor, atau penyumbatan saluran kemih yang dapat memengaruhi fungsi kerja ginjal.
  • Elektroforesis protein urin. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi jenis protein tertentu dalam sampel urine. Misalnya, protein yang disebut Bence-Jones yang dapat mengindikasikan multiple myeloma (kanker sel plasma).
  • Tes darah imunofiksasi. Tes ini dilakukan untuk mendeteksi keberadaan imunoglobulin, yakni protein yang dihasilkan saat tubuh mengalami infeksi. Kadar imunoglobulin yang terlalu tinggi dapat mengindikasikan kanker darah.
  • Biopsi ginjal. Prosedur ini dilakukan dengan mengambil sejumlah kecil jaringan ginjal yang akan diperiksa di bawah mikroskop. Biopsi ginjal dapat membantu dokter dalam menentukan penyebab kerusakan ginjal dan tingkat keparahannya. 
Baca jawaban dokter: Bagaimana cara membaca hasil pemeriksaan laboratorium fungsi ginjal
Mengingat albuminuria bukanlah penyakit, melainkan suatu gejala, maka pengobatan yang diberikan tergantung pada penyebab itu sendiri. Jika penyebab ginjal bocor adalah nefritis atau radang ginjal, pengobatannya akan berfokus pada pengobatan radang atau infeksi bakteri maupun virus. Termasuk ke dalamnya adalah pemberian antibiotik, kortikosteroid, atau diuretik.Dalam kasus diabetes, bocornya protein ke dalam urine biasanya dapat diatasi dengan pengobatan diabetes. Penanganan diabetes umumnya meliputi pengaturan pola makan, olahraga secara teratur, dan konsumsi obat diabetes yang dapat membantu mengontrol gula darah.Pengobatan penyakit ginjal kronis yang berhubungan dengan diabetes juga melibatkan pengelolaan kadar glukosa darah, serta melakukan penyesuaian gaya hidup yang dapat menurunkan tekanan darah, seperti menurunkan berat badan, mengurangi konsumsi garam, alkohol, berhenti merokok, dan aktif bergerak.Beberapa penggunaan obat seperti ACE inhibitor terkadang diperlukan untuk mengobati hipertensi yang disebabkan gangguan ginjal. Diet rendah protein juga efektif untuk mengobati penyakit ginjal. Jika langkah-langkah ini tidak mencegah gagal ginjal, dialisis (cuci darah) atau transplantasi ginjal mungkin diperlukan.Baca juga: Makanan untuk Memperbaiki Fungsi Ginjal Ini Patut Diperhatikan

Komplikasi 

Jika tidak diobati dengan baik, ginjal bocor atau albuminuria dapat menyebabkan sejumlah komplikasi seperti:
  • Edema paru karena kelebihan cairan
  • Gagal ginjal akut 
  • Peningkatan risiko infeksi bakteri
  • Peningkatan risiko trombosis arteri dan vena, termasuk trombosis vena ginjal
  • Peningkatan risiko penyakit kardiovaskular
Albuminuria tidak dapat dicegah, tetapi dapat dikendalikan. Melakukan pemeriksaan ginjal rutin sangat dianjurkan terutama jika Anda memiliki faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terjadinya ginjal bocor.Selain itu, mengobati penyebab albuminuria bisa mencegah ginjal bocor semakin parah. Menjalani gaya hidup sehat dengan mengatur pola makan, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, dan aktif berolahraga juga dapat memperbaiki kondisi albuminuria. 
Segera konsultasikan ke dokter apabila Anda mengalami tanda dan gejala albuminuria atau ginjal bocor.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter. 
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait albuminuria?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis ginjal bocor agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Kidney Health. https://kidney.org.au/uploads/resources/kidney-health-australia-albuminuria-fact-sheet.pdf
Diakses pada 17 Februari 2022
American Journal of Kidney Diseases. https://www.ajkd.org/article/S0272-6386(14)00011-0/fulltext
Diakses pada 17 Februari 2022
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. https://www.niddk.nih.gov/health-information/kidney-disease/chronic-kidney-disease-ckd/tests-diagnosis/albuminuria-albumin-urine
Diakses pada 17 Februari 2022
Verywellhealth. https://www.verywellhealth.com/understanding-albuminuria-1087350#toc-diagnosis
Diakses pada 17 Februari 2022
Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/proteinuria
Diakses pada 17 Februari 2022
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/16428-proteinuria
Diakses pada 17 Februari 2022
Healthline. https://www.healthline.com/health/what-causes-protein-in-urine#causes
Diakses pada 17 Februari 2022
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/238158-overview
Diakses pada 17 Februari 2022
American Kidney Fund. https://www.kidneyfund.org/kidney-disease/kidney-problems/protein-in-urine.html#what-causes-protein-in-the-urine
Diakses pada 17 Februari 2022
Journal of The International Society of Nephrology. https://kdigo.org/wp-content/uploads/2017/02/KDIGO_2012_CKD_GL.pdf
Diakses pada 17 Februari 2022
Journal of the American Society of Nephrology. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2723977/
Diakses pada 17 Februari 2022
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email