Penyakit Lainnya

Anemia pada Anak

03 Jun 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Anemia pada Anak
Anemia tak hanya terjadi pada orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalaminya.
Anemia pada anak adalah suatu kondisi yang terjadi ketika jumlah sel darah merah dan hemoglobin dalam tubuh anak berada di bawah jumlah normalnya. Hemoglobin merupakan protein di dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh. Oksigen yang dibawa oleh hemoglobin sangat diperlukan oleh sel-sel dalam tubuh anak agar dapat berfungsi dengan baik.Gajala yang umum ditunjukkan dari anemia meliputi pusing, sakit kepala, atau sesak napas. Oleh karena itu, jika anemia pada anak-anak dapat membuat mereka tampak pucat, lemah, dan rewel (cranky).Tahun pertama kehidupan seorang bayi dan ketika beranjak remaja adalah masa yang sangat rentan bagi dua kelompok usia tersebut untuk terkena anemia. Oleh karena itu, deteksi sedari dini dapat membantu proses penyembuhan anemia pada anak lebih optimal. Apabila tidak ditanggulangi dalam waktu lama, anemia dapat memengaruhi perkembangan tubuh anak.Meski begitu, anemia pada anak umumnya mudah untuk diatasi. Pengobatannya meliputi pengaturan pola makan dengan mengonsumsi makanan atau suplemen yang mengandung zat besi, vitamin dan mineral. Selain itu, pemberian obat-obatan dan tindakan medis yang mungkin diperlukan bagi kasus yang lebih parah.Anak-anak bisa dikatakan menderita anemia bila kadar hemoglobin di bawah 11-13 gram per desiliter.
Anemia pada Anak
Dokter spesialis Anak
GejalaLetih, lemas, pucat, pusing, sakit kepala
Faktor risikoKekurangan zat besi, vitamin dan mineral, perdarahan, faktor genetis
Metode diagnosisTes darah, biopsi jaringan, reticulocyte count, hemoglobin electrophoresis
PengobatanMengonsumsi makanan atau suplemen bergizi cukup, transfusi darah, pembedahan untuk anemia tertentu
ObatSuplemen zat besi, vitamin, garam besi, colony stimulating factors, agen khelasi.
KomplikasiHambatan pertumbuhan tubuh dan mental anak, kerusakan sistem peredaran darah, kerusakan organ dalam
Kapan harus ke dokter?Jika anak menunjukkan gejala anemia
Gejala-gejala anemia umumnya mengarah pada kekurangan oksigen dalam tubuh penderita atau yang dikenal dengan sebutan hipoksia. Kondisi ini terjadi karena sel darah merah yang bertugas mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh mengalami penurunan. Beberapa gejala yang dapat ditemukan apabila anak Anda mengalami anemia adalah:
  • Kulit yang pucat, termasuk bibir dan pipi
  • Lemas dan lemah
  • Mudah lelah sehingga sering tertidur
  • Lapisan pada kelopak mata dan kuku yang tidak terlihat merah muda seperti pada umumnya.
  • Kulit menjadi berwarna kekuningan dan urine berwarna cokelat (pada penderita yang mengalami penghancuran sel darah merah secara berlebihan).
Selain gejala di atas, beberapa gejala lain yang umum muncul pada anak yang mengalami anemia meliputi:
  • Sesak napas
  • Sakit kepala
  • Pembengkakan pada tangan dan kaki
  • Detak jantung menjadi lebih cepat
  • Pusing atau vertigo, terutama saat berdiri
  • Pingsan
  • Pembengkakan atau rasa sakit pada lidah
  • Menjadi lekas marah (rewel)
  • Siklus haid tidak teratur
  • Haid yang tidak terjadi atau terlambat
  • Lidah sakit atau bengkak
  • Penyakit kuning atau jaundice yang ditunjukkan dengan kulit, mata dan mulut yang menguning
  • Restless leg syndrome, yakni adanya keinginan tak terkendali untuk menggerak-gerakkan kaki karena sensasi tidak nyaman
Anemia dapat terjadi karena tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh hal ini:
  • Tubuh tidak memproduksi sel darah merah yang cukup. Kondisi ini dapat terjadi apabila anak Anda tidak mengonsumsi cukup nutrisi, terutama zat besi, dalam pola makan sehari-harinya.
  • Tubuh menghancurkan terlalu banyak sel darah merah. Kondis ini umumnya terjadi pada anak yang sedang mengalami penyakit lain maupun memiliki kelainan sel darah merah, misalnya anemia sel sabit.
  • Luka atau perdarahan. Hal ini bisa terjadi secara cepat, seperti karena luka atau menstruasi berat, atau perlahan-lahan dalam jangka lama, seperti darah pada urine atau feses.
  • Beberapa penyakit dan obat-obatan tertentu

faktor risiko

Anak yang mengalami kondisi berikut ini memiliki resiko lebih tinggi untuk mengidap anemia:
  • Lahir dengan berat badan yang rendah atau lahir prematur
  • Penyakit berkepanjangan; seperti infeksi, penyakit ginjal, maupun penyakit liver
  • Memiliki anggota keluarga lain yang juga mengidap anemia.
  • Kurang mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin, serta mineral lainnya
  • Terlalu dini dalam mengonsumsi susu sapi
  • Menjalani prosedur bedah atau mengalami kecelakaan yang memicu kehilangan banyak darah
Pada tahap awal, dokter akan menanyakan gejala yang dialami serta riwayat kesehatan anak dan keluarga. Selanjutnya, dokter akan merekomendasikan beberapa pemeriksaan penunjang untuk membantu dalam memastikan diagnosis anemia. Langkah-langkah tersebut meliputi:
  • Pemeriksaan darah lengkap
  • Pemeriksaan zat besi untuk mendeteksi kekurangan zat besi yang menjadi salah satu penyebab anemia. Prosedur ini meliputi pemeriksaan total serum dari zat besi dan pemeriksaan ferritin.
  • Aspirasi sumsum tulang belakang dan biopsi jaringan. Pemeriksaan ini dapat membantu dokter untuk mengetahui apakah produksi sel terjadi secara normal pada sumsum tulang. Demikian pula dengan melihat kelainan-kelainan (seperti leukemia) yang dapat menjadi penyebab anemia.
  • Reticulocyte count untuk menghitung jumlah sel darah merah yang masih muda atau belum matang. Pemeriksaan ini dapat membantu dokter dalam melihat apakah tubuh dapat memproduksi sel darah merah pada kadar yang normal.
  • Hemoglobin electrophoresisPemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi kelainan pada hemoglobin dan melihat tanda-tanda genetik yang dapat menjadi penyebab anemia.
 
Perawatan anemia dilakukan berdasarkan kondisi kesehatan menyeluruh, usia, serta seberapa parah gejala yang dialami oleh anak Anda. Beberapa metode pengobatan yang dapat dilakukan antara lain dengan:
  • Mengonsumsi suplemen yang mengandung vitamin dan mineral.
  • Mengubah pola makan anak sehingga mendapatkan gizi yang seimbang.
  • Pemberian obat-obatan seperti suplemen zat besi.  Bagi anak yang mengalami anemia kronis (berkepanjangan) obat-obatan yang mungkin diberikan meliputi vitamin, garam besi, colony stimulating factors (sejenis hormon) serta agen khelasi.
  • Menghentikan konsumsi obat-obatan yang dapat menjadi penyebab anemia
  • Menjalani transfusi darah
  • Menjalani transplantasi stem cell
  • Menjalani prosedur pembedahan untuk mengangkat limpa (spleen)

Komplikasi

Komplikasi yang timbul akibat anemia bisa beragam, tergantung dari penyebab awal anemia. Beberapa jenis anemia bisa menyebabkan:
  • Nyeri dan pembengkakan sendi
  • Gagal sumsum tulang
  • Leukimia atau kanker lainnya.
Bila anemia pada anak sudah tergolong parah dan tidak segera ditangani, kurangnya oksigen dan darah dalam tubuh akan menimbulkan komplikasi lain, seperti:
  • Gangguan pertumbuhan fisik dan mental anak
  • Kerusakan sistem peredaran darah, seperti gagal jantung kongestif dan hipotensi.
  • Syok
  • Kejang
  • Iskemia otak, yakni salah satu jenis stroke akibat sel otak kekurangan oksigen.
  • Kerusakan organ-organ tubuh
Anemia pada anak-anak dapat dicegah apabila penyebabnya adalah kekurangan zat besi maupun nutrisi lainnya. Pencegahan tersebut dapat dilakukan dengan mengubah pola makan anak agar mendapatkan gizi yang seimbang. Beberapa cara yang dapat dilakukan berkaitan dengan hal tersebut meliputi langkah berikut ini:
  • Sebisa mungkin memberikan ASI eksklusif agar bayi mendapatkan zat besi yang cukup melalui ASI
  • Apabila Anda memberikan susu formula pada anak, pilihlah yang mengandung tambahan zat besi
  • Tidak memberikan susu sapi murni pada anak-anak sebelum mereka berusia satu tahun. Pasalnya, pencernaan mereka belum benar-benar siap dan pemberian susu sapi dapat mengurangi jumlah zat besi yang diserap dalam usus.
  • Setelah anak berusia satu tahun, hindari pemberian susu formula lebih dari 2 cangkir per hari. Susu rendah zat besi dan dapat membuat anak-anak merasa kenyang, sehingga meningkatkan kemungkinan mereka tidak akan makan dengan cukup dan kekurangan makanan kaya zat besi.
  • Mengonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi, seperti daging, kuning telur, tomat, kentang, kismis, bayam, dan kacang-kacangan.
  • Mengonsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin C (misalnya, jeruk), untuk membantu tubuh menyerap zat besi secara optimal.
Segera lakukan konsultasi pada dokter apabila Anda menyadari bahwa anak Anda mengalami gejala-gejala yang mengarah pada anemia. Bantuan dari dokter spesialis hematologis (ahli dalam masalah kelainan darah) juga mungkin diperlukan.
Buatlah janji dengan dokter terpercaya apabila gejala-gejala anemia yang dialami anak semakin parah atau tidak kunjung sembuh. Jika anemia yang dialami anak tergolong parah atau akibat faktor genetis, bantuan dari dokter spesialis hematologis (ahli dalam masalah kelainan darah) juga mungkin diperlukan.Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat Anda persiapkan sebelum berkonsultasi:
  • Tuliskan semua gejala-gejala yang dialami untuk diberitahukan pada dokter.
  • Buatlah daftar semua obat-obatan dan suplemen yang telah dikonsumsi untuk diinformasikan pada dokter.
  • Tuliskan riwayat penyakit atau alergi yang pernah dan sedang anak Anda alami, begitu juga dengan riwayat medis keluarga.
  • Tuliskan pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Dampingi anak Anda ketika berkonsultasi dengan dokter. Anak seringkali membutuhkan dukungan moral sebelum dan setelah konsultasi.
Ketika konsultasi, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini:
  • Apa saja gejala yang dirasakan?
  • Kapan gejala tersebut pertama dialami?
  • Apakah anak memiliki faktor resiko terhadap anemia?
  • Apakah anak rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah dicoba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang bila perlu. Langkah ini bertujuan untuk memastikan diagnosis anemia agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Healthy Children. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/chronic/Pages/Anemia-and-Your-Child.aspx
Diakses pada 15 April 2021
Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/anemia.html
Diakses pada 18 Mei 2019
UMC. https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=90&contentid=P02311
Diakses pada 15 April 2021
Cedars Sinai. https://www.cedars-sinai.org/health-library/diseases-and-conditions---pediatrics/a/anemia-in-children.html
Diakses pada 15 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email