Kepala

Cauliflower Ear

12 Jan 2022 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Cauliflower Ear
Cauliflower ear adalah kelainan bentuk telinga yang menyerupai kembang kol akibat cedera benturan dari benda tumpul yang berulang. Cedera berat pada bagian luar telinga yang disebut pinna dapat mengakibatkan darah menggumpal sehingga mengganggu aliran darah normal. Tanpa adanya aliran darah yang memadai, tulang rawan akan kekurangan nutrisi penting. Hal ini dapat menyebabkan jaringan di tulang telinga menjadi keras dan berserat sehingga bentuknya berubah seperti kembang kol.Kondisi ini umumnya dialami oleh atlet olahraga yang sering melibatkan pukulan seperti petinju, rugby, atau pegulat.Baca juga: Mengenal Bagian-bagian Telinga dan Masing-masing Fungsinya
Cauliflower Ear
Dokter spesialis THT, Bedah
GejalaTelinga yang terlipat bergelombang, membengkak, kemerahan
Faktor risikoAtlet gulat, tinju, dan bela diri lainnya, mengalami pukulan di telinga, tindikan yang terinfeksi
Metode diagnosisTanya jawab, pemeriksaan fisik, tes pencitraan, tes neurologis
PengobatanObat-obatan, operasi
ObatAntibiotik, antiperadangan
KomplikasiRentan mengalami infeksi, sulit membersihkan kotoran telinga
Kapan harus ke dokter?Mengalami cedera telinga yang ditandai pembengkakan
Gejala utama cauliflower ear adalah bentuk telinga yang berubah menjadi keras, terlipat, dan bergelombang, seperti kembang kol. Seiring waktu, jaringan mati yang ada di bawah kulit telinga dapat membuat lekukan khas kembang kol tersebut terlihat lebih menonjol. Sebelum terjadi perubahan bentuk, orang dengan cauliflower ear secara bertahap akan mengalami gejala yang mirip dengan cedera akibat pukulan benda tumpul pada umumnyaBerikut ini adalah beberapa gejala awal yang muncul pada orang yang punya cauliflower ear:
Kasus cauliflower ear yang lebih parah dapat juga ditandai dengan pembengkakan pada wajah dan perdarahan berat. 
Penyebab paling umum dari cauliflower ear adalah pukulan keras dari benda tumpul atau pukulan berulang di telinga. Benturan tersebut dapat menyebabkan terbentuknya hematoma atau menggumpalnya keping darah di bawah kulit telinga. Gumpalan tersebut kemudian dapat menarik kulit dari tulang rawan dan membentuk jaringan semi-kaku yang mengubah bentuk telinga.Adapun beberapa faktor yang sering memicu terjadinya cedera pada telinga, di antaranya adalah:
  • Olahraga yang melibatkan kontak dekat, seperti gulat, tinju, dan olahraga bela diri lainnya.
  • Kecelakaan yang menyebabkan benturan pada telinga.
  • Infeksi telinga bagian atas
  • Komplikasi akibat tindik telinga yang menginfeksi tulang rawan, dikenal juga sebagai auricular perikondritis. 
Dalam mendiagnosis cauliflower ear dokter akan melakukan pemeriksaan berikut:

1. Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala yang dirasakan dan riwayat kesehatan pasien. 

2. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik melibatkan evaluasi menyeluruh dari telinga luar. Dokter akan menggunakan suatu alat yang disebut otoskop untuk memeriksa struktur telinga terutama saluran telinga luar dan membran timpani (gendang telinga). Diagnosis cauliflower ear biasanya ditandai dengan temuan pemeriksaan fisik berupa hematoma yang konsisten dengan ketidakteraturan kontur telinga, disertai pembengkakan di atas tulang rawan telinga.

3. Pemeriksaan saraf kranial dan pemeriksaan neurologis

Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan gejala yang muncul bukan disebabkan dari cedera intrakranial (rongga kepala). Selain itu, diperlukan juga pemeriksaan saraf untuk mengevaluasi kelemahan saraf wajah.Pasalnya, saraf wajah melewati telinga dan dapat rusak ketika ada cedera pada telinga. 

4. Tes pencitraan

Pemeriksaan pencitraan, seperti ultrasonografi dapat digunakan untuk mengevaluasi pembengkakan telinga serta menyingkirkan kemungkinan penyebab lain, seperti abses aurikularis. Jika ditemukan cedera yang signifikan atau kelainan di intrakranial pada pemeriksaan sebelumnya, dokter akan merekomendasikan pemeriksaan CT scan atau MRI.
Pengobatan terbaik untuk cauliflower ear adalah dengan mencegah pembentukannya. Oleh karena itu, jika Anda mengalami cedera akibat benturan keras di telinga, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan perawatan lebih dini. Sebab, pada tahap awal, masih ada kemungkinan kondisi tersebut tidak akan berkembang menjadi cauliflower ear.  Beberapa perawatan yang biasa dilakukan untuk mengobati telinga berbentun kembang kol, antara lain:

1. Perawatan awal

Jika telinga mengalami benturan segera kompres 3-4 kali sehari menggunakan es selama 15 menit. Hal ini dapat membantu mengurangi pembengkakan yang bisa menyebabkan kerusakan lebih lanjut.Dokter juga mungkin akan meresepkan obat antibiotik jika terjadi pembengkakan yang disebabkan oleh infeksi serta antiperadangan untuk meringankan gejala yang ditimbulkan dari telinga yang membengkak.                             

2. Drainase dan kompresi

Jika gumpalan darah telah terbentuk, dokter akan membuat sayatan kecil untuk mengeluarkan gumpalan darah (drainase) yang menyumbat jaringan telinga. Nantinya, sayatan itu akan dijahit dan ditutup dengan perban khusus untuk memberi tekanan (kompresi) agar bentuk telinga tidak berubah. Perban ini mungkin perlu dipasang beberapa hari. Jika ada tanda-tanda infeksi pada area tersebut, dokter akan memberikan pengobatan tambahan berupa antibiotik. Untuk menghindari cauliflower ear terbentuk kembali, hindarilah aktivitas yang memicu cedera pada telinga, setidaknya sampai telinga Anda benar-benar sembuh. Segera konsultasikan ke dokter jika terjadi pembengkakan setelah tindakan dilakukan.

3. Operasi bedah

Bentuk telinga seperti kembang kol bisa saja bersifat permanen. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, kondisi ini bisa diperbaiki dengan otoplasti.Dalam operasi ini, dokter akan membuat sayatan di belakang telinga untuk mengakses tulang rawan. Dokter kemudian akan mengubah posisi atau membentuk ulang tulang rawan dengan mengambil sebagian tulang dan menjahitnya kembali agar daun telinga kembali ke bentuk seharusnya.Setelah operasi selesai, Anda disarankan untuk menghindari aktivitas fisik, terutama yang dapat memengaruhi area telinga selama enam minggu atau saat area pembedahan telah sembuh sepenuhnya. 
Cara mencegah cauliflower ear adalah dengan menghindari benturan atau cedera lain di telinga. Jika Anda menggeluti olahraga yang berisiko tinggi menghasilkan benturan pada sisi kepala, seperti tinju, gulat, rugby, dan olahraga bela diri, beberapa cara berikut dapat Anda lakukan untuk mencegah cauliflower ear:
  • Menggunakan pelindung kepala yang memadai, seperti helm atau penutup kepala lainnya.
  • Gunakan pelindung kepala yang ukurannya pas.
  • Selalu periksa kondisi telinga Anda setelah selesai berolahraga untuk memastikan tidak ada tanda-tanda cedera. Pengobatan dini dari benturan benda tumpul dapat mencegah perubahan pada bentuk telinga.
  • Untuk anak-anak, pastikan anak Anda dan pelatih mereka memahami tanda-tanda awal cauliflower ear.
  • Jika Anda rutin mengonsumsi obat pengencer darah, konsultasikan pada dokter terlebih dahulu. Anda mungkin harus menghentikan penggunaan pengencer darah sebelum berolahraga.
  • Menjaga kebersihan telinga.
  • Memilih tempat tindik telinga yang tepercaya.
Baca juga: Cara Membersihkan Telinga yang Bersih dan Aman Dilakukan

Komplikasi 

Cauliflower ear biasanya tidak berbahaya. Namun, satu studi yang diterbitkan dalam Asian Journal of Sports Medicine menunjukkan bahwa pegulat dengan telinga kembang kol lebih mungkin menderita gangguan pendengaran.  Selain itu, cauliflower ear dapat menyebabkan terganggunya aktivitas sehari-hari yang melibatkan telinga, seperti kesulitan memakai headphone atau kesulitan saat mengeluarkan kotoran telinga. Akibatnya, orang yang memiliki cauliflower ear lebih berisiko untuk mengalami infeksi.  Baca jawaban dokter: Apa penyebab benjolan di telinga?
Segera kunjungi ke dokter apabila Anda mengalami benturan keras yang mengakibatkan cedera pada telinga. Cari pertolongan medis segera jika terbentuk hematoma yang biasa ditandai dengan telinga yang membengkak. Semakin dini hematoma diobati, semakin kecil kemungkinannya berkembang menjadi cauliflower ear. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter. 
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda menggeluti olahraga seperti tinju, gulat, rugby, atau bela diri?
  • Apakah Anda baru-baru ini mengalami cedera akibat pukulan atau hantaman dari benda keras?
  • Apakah Anda baru-baru ini melakukan tindik telinga?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis cauliflower ear agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Statpearls. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470424/
Diakses pada 31 Desember 2021
https://www.medicalnewstoday.com/articles/316220
Diakses pada 31 Desember 2021
Statpearls.https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK531499/
Diakses pada 31 Desember 2021
WebMD. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/cauliflower-ear-symptoms-causes-treatments
Diakses pada 31 Desember 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/cauliflower-ear
Diakses pada 31 Desember 2021
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17574-ear-injuries-and-trauma#management-and-treatment
Diakses pada 31 Desember 2021
Medicinenet. https://www.medicinenet.com/cauliflower_ear/article.htm#what_causes_cauliflower_ear
Diakses pada 31 Desember 2021
Asian Journal of Sports Medicine. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4592768/
Diakses pada 31 Desember 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email