Kepala

Cedera Kepala Ringan

14 Jul 2021 | Popy Hervi PutriDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Cedera Kepala Ringan
Cedera kepala ringan tetap dapat memengaruhi fungsi otak
Trauma kepala ringan atau cedera kepala ringan adalah cedera atau trauma pada kepala dan otak yang dapat memberikan dampak pada fungsi otak. Dampak kondisi ini biasanya hanya sementara dan disertai dengan sakit kepala serta gangguan pada memori, keseimbangan, koordinasi, serta konsentrasi seseorang.Cedera kepala ringan didefinisikan sebagai kerusakan otak yang minimal karena ditandai dengan hilangnya kesadaran dalam waktu singkat maupun tidak terdapat kehilangan kesadaran sama sekali.Umumnya, penderita cedera kepala ringan dapat pulih kembali dalam jangka waktu sekitar dua minggu. Tapi masa pemulihan tersebut harus tetap dipantau agar komplikasi tidak terjadi di kemudian hari. Cedera kepala ringan juga dikenal dengan istilah cedera otak ringan dan gegar otak. 
Cedera Kepala Ringan
Dokter spesialis Bedah Saraf
GejalaSakit kepala, gangguan penglihatan, penurunan kesadaran
Faktor risikoKecelakaan, pukulan keras pada kepala dan leher,
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, glasgow coma scale, CT Scan
PengobatanObat-obatan
ObatParacetamol
KomplikasiSakit kepala pasca trauma, vertigo pasca trauma
Kapan harus ke dokter?Merasakan gejala yang mengarah pada cedera kepala ringan
Gejala yang terjadi pada penderita cedera kepala ringan mungkin tidak langsung terlihat tepat pada saat cedera. Pada umumnya, gejala baru terlihat beberapa hari atau beberapa minggu setelah cedera terjadi.Selain itu, gejala juga seringkali tidak disadari baik oleh orang yang mengalami cedera, keluarga, maupun dokter yang menangani.Pasalnya, penderita kerap terlihat normal meskipun sering merasa tidak dapat berpikir dengan normal.Secara umum, tanda dan gejala cedera kepala ringan meliputi:
  • Sakit kepala
  • Gangguan penglihatan
  • Sulit berkonsentrasi
  • Pusing atau hilang keseimbangan
  • Rasa mual
  • Muntah
  • Gangguan atau kesulitan tidur
  • Rasa sensitif terhadap cahaya dan suara
  • Gangguan emosional
  • Mood yang berubah-ubah
  • Lamban dalam berpikir
  • Telinga berdenging
  • Kesadaran yang menurun (hanya sementara)
  • Kesulitan dalam mengemukakan pendapat atau perasaan (Sukar menemukan kata yang tepat saat berbicara)
  • Merasa kebingungan atau linglung
  • Kejang-kejang
  • Penurunan indera pengecap
 
Penyebab utama cedera kepala ringan adalah robeknya serabut saraf dan pecahnya pembuluh darah di bawah tengkorak yang menyebabkan penumpukan darah.Otak manusia merupakan organ lunak yang dikelilingi oleh cairan dari tulang belakang serta dilindungi oleh tulang tengkorak. Cairan ini berfungsi sebagai bantalan agar otak tidak langsung membentur tulang tengkorak bila terjadi guncangan. Tapi otak tetap dapat membentur tulang tengkorak jika muncul guncangan yang cukup keras. Akan tetapi, otak tetap dapat membentur tulang tengkorak apabila terjadi guncangan yang cukup keras. Adanya guncangan atau gerakan yang cepat ini dapat menyebabkan jaringan otak berubah bentuk, meregangkan dan merusak sel-sel otak, serta menyebabkan perubahan kimia maupun metabolisme dalam sel-sel otak sehingga timbul gejala-gejala cedera kepala.Cedera kepala ringan dapat memberikan dampak pada fungsi otak meskipun biasanya dalam periode yang singkat. Secara umum, cedera ini bisa terjadi akibat:
  • Pukulan keras pada kepala dan leher, sehingga menyebabkan otak meluncur bolak-balik secara paksa di dalam tulang tengkorak.
  • Trauma atau kecelakaan yang menyebabkan guncangan keras dan mendadak pada area kepala.
 

Faktor risiko cedera kepala ringan

Beberapa faktor risiko cedera kepala ringan meliputi:
  • Melakukan olahraga yang berisiko, seperti sepak bola, rugbyhockey, tinju, maupun olahraga lain yang melibatkan kontak fisik
  • Terjatuh (risiko ini semakin tinggi pada anak-anak usia dini dan para lanjut usia)
  • Pernah menderita cedera kepala ringan
  • Korban kekerasan fisik
 
Diagnosis cedera kepala ringan dilakukan dengan cara tanya jawab, pemeriksaan neurologis, tes kognitif, tes pencitraan, pengamatan, dan pemeriksaan glasgow coma scale. Berikut penjelasannya.

Tanya jawab

Hal pertama yang dilakukan dokter adalah melihat tanda dan gejala serta meninjau riwayat kesehatan Anda.

Pemeriksaan neurologis

Setelah dokter Anda menanyakan pertanyaan rinci tentang cedera Anda, dokter akan melakukan pemeriksaan neurologis. Evaluasi ini dilakukan dokter untuk memeriksa beberapa hal berikut ini:
  • Penglihatan
  • Pendengaran
  • Kekuatan dan sensasi
  • Keseimbangan
  • Koordinasi
  • Refleks

Tes kognitif

Dokter mungkin akan melakukan beberapa tes untuk mengevaluasi kemampuan berpikir (kognitif) Anda selama pemeriksaan neurologis. Tes dilakukan mengukur beberapa faktor, yaitu:
  • Konsentrasi
  • Kemampuan untuk mengingat informasi

Tes pencitraan

Tes pencitraan otak mungkin direkomendasikan untuk beberapa orang dengan tanda dan gejala seperti sakit kepala parah, kejang, muntah berulang atau gejala yang semakin parah. Tes pencitraan otak dapat bermanfaat menentukan apakah cedera parah dan telah menyebabkan pendarahan atau pembengkakan di tengkorak.Beberapa tes pencitraan yang mungkin disarankan dokter, yaitu:
  • CT scan

CT scan tengkorak adalah tes standar pada orang dewasa untuk menilai otak tepat setelah cedera.Untuk anak-anak dengan dugaan gegar otak, CT scan hanya digunakan jika ada kriteria tertentu yang terpenuhi, seperti jenis cedera atau tanda-tanda patah tulang tengkorak. Hal ini untuk menghindari paparan radiasi pada anak.
  • MRI

Prosedur MRI dapat digunakan untuk mengidentifikasi perubahan di otak Anda atau untuk mendiagnosis komplikasi yang mungkin terjadi setelah gegar otak.

Pengamatan

Anda mungkin perlu dirawat di rumah sakit semalaman untuk observasi setelah gegar otak. Jika dokter setuju bahwa Anda dapat diamati di rumah, seseorang harus tinggal bersama Anda dan memeriksa Anda setidaknya selama 24 jam untuk memastikan bahwa gejala tidak memburuk.Pendamping mungkin perlu membangunkan Anda secara teratur untuk memastikan Anda dapat bangun secara normal.

Pemeriksaan glasgow coma scale

Pemeriksaan glasgow coma scale dilakukan untuk mengukur tingkat kesadaran. Seseorang dengan hasil glasgow coma scale 13 hingga 15 diklasifikasikan sebagai cedera kepala ringan. 
Cara mengobati cedera kepala ringan umumnya akan tergantung dari tingkat keparahan penyakit dan seberapa lama pasien sudah mengalami kondisi tersebut. Beberapa pilihan cara mengobati cedera kepala ringan yang biasanya disarankan dokter, yaitu:
  • Cukup istirahat

Hal ini dilakukan untuk memberikan waktu pemulihan pada otak.
  • Obat pereda nyeri

Obat pereda nyeri bisa membantu dalam meredakan sakit kepala. Contohnya adalah paracetamol.Namun harap diingat bahwa pasien harus menghindari pengunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti aspirin, ibuprofen, dan lainnya. Pasalnya, obat jenis ini dapat mengencerkan darah, memperburuk kondisi, dan meningkatkan potensi perdarahan pada kepala.
  • Operasi

Meski jarang, cedera kepala ringan juga bisa saja memerlukan operasi.Selama masa penyembuhan cedera kepala ringan, Anda sebaiknya tidak langsung kembali melakukan aktivitas cukup berat yang menuntut kekuatan fisik. Misalnya, olahraga, maupun berpikir terlalu keras. 

Komplikasi cedera kepala ringan

Jika tidak ditangani dengan optimal, dapat menyebabkan komplikasi cedera kepala ringan:
  • Sakit kepala pasca trauma. Beberapa orang mengalami sakit kepala terkait gegar otak hingga tujuh hari setelah cedera otak.
  • Vertigo pascatrauma. Beberapa orang mengalami rasa berputar atau pusing selama berhari-hari, berminggu-minggu atau berbulan-bulan setelah cedera otak.
  • Sindrom pasca-gegar otak. Pada beberapa kasus, seseorang akan mengalami sakit kepala, pusing dan kesulitan berpikir yang bertahan lebih dari tiga minggu.
  • Gegar otak kedua. Namun, hal ini biasanya jarang terjadi.
 
Cara mencegah cedera kepala ringan yang bisa dilakukan meliputi:
  • Mempelajari dan memahami mengenai cedera kepala ringan.
  • Menggunakan pelindung, terutama alat pelindung kepala saat berolahraga, berkendara motor, maupun dalam aktivitas lain.
  • Berolahraga secara teratur untuk melatih otot dan meningkatkan keseimbangan, sehingga dapat mengurangi potensi cedera.
  • Jangan berkendara apabila Anda di bawah pengaruh alkohol.
  • Selalu menggunakan sabuk pengaman saat berkendara karena kecelakaan merupakan salah satu penyebab terjadinya cedera kepala ringan.
  • Membuat desain rumah yang aman agar penghuni rumah tidak mudah tersandung atau terjatuh.
 
Hubungi dokter bila Anda mengalami gejala-gejala berikut ini:
  • Muntah secara terus-menerus.
  • Sakit kepala yang semakin memburuk dari waktu ke waktu.
  • Kehilangan kesadaran lebih dari 30 detik.
  • Terdapat perubahan pada perilaku.
  • Merasa kebingungan, misalnya kesulitan dapat mengenali orang maupun tempat.
  • Keluar cairan atau darah mengalir dari hidung atau telinga
  • Kejang-kejang.
  • Gangguan penglihatan, seperti pupil mata yang membesar.
  • Adanya benjolan dan memar yang cukup besar pada area kepala.
 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait cedera kepala ringan?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis cedera kepala ringan agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Traumatic Brain Injury. https://www.traumaticbraininjury.com/mild-tbi-symptoms/
Diakses pada 11 Mei 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/concussion/symptoms-causes/syc-20355594
Diakses pada 11 Mei 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/158876.php
Diakses pada 11 Mei 2019
Health Direct. https://www.healthdirect.gov.au/concussion
Diakses pada 11 Mei 2019
HealthLink British Columbia. https://www.healthlinkbc.ca/health-topics/tp23364spec
Diakses pada 11 Mei 2019
American Association of Neurological Surgeons. https://www.aans.org/en/Patients/Neurosurgical-Conditions-and-Treatments/Concussion
Diakses pada 11 Mei 2019
Concussion Legacy Foundation. https://concussionfoundation.org/concussion-resources/what-is-concussion
Diakses pada 11 Mei 2019
Brainline. https://www.brainline.org/article/what-impact-will-mild-tbi-have-persons-life
Diakses pada 11 Mei 2019
CDC. https://www.cdc.gov/concussion/headsup/clinicians/resource_center/assessments_tools.html
Diakses pada 14 Juli 2021
Concussion Legacy Foundation. https://concussionfoundation.org/concussion-resources/what-is-concussion
Diakses pada 14 Juli 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email