Penyakit Lainnya

Cedera Saraf Tulang Belakang

17 Dec 2021 | Rena WidyawinataDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Cedera Saraf Tulang Belakang
Cedera saraf tulang belakang ditandai dengan kelumpuhan dan nyeri pada bagian punggung atau leher
Cedera saraf tulang belakang (spinal cord injury) adalah kerusakan pada sumsum tulang ataupun saraf yang terletak di sepanjang tulang belakang. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan motorik (gerak) dan sensorik seseorang. Cedera saraf tulang belakang umumnya terjadi akibat kecelakaan berkendara, cedera olahraga atau akibat aktivitas outdoor, atau kekerasan fisik. Saraf tulang belakang terdiri atas sekelompok saraf dan jaringan lunak lain yang membentang sepanjang tulang belakang, dari dasar otak hingga tulang ekor. Fungsinya untuk mengantarkan sinyal dari otak ke seluruh tubuh dan sebaliknya.Jika cedera terjadi, fungsi pengantaran sinyal dari otak ke seluruh tubuh ataupun sebaliknya akan terganggu. Tergantung pada lokasi kerusakannya, hal ini berakibat pada hilangnya sensasi dan pergerakan tubuh.Cedera yang terjadi di saraf dekat tulang leher misalnya, dapat menyebabkan kelumpuhan pada sebagian besar tubuh dibandingkan dengan cedera pada 1 bagian saraf tulang belakang bagian bawah.
Cedera Saraf Tulang Belakang
Dokter spesialis Ortopedi
GejalaKesulitan berjalan, kaku otot, tidak bisa menggerakkan kaki
Faktor risikoLaki-laki, usia di atas 65 tahun
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, rontgen, CT scan, MRI
PengobatanObat-obatan, operasi, terapi
ObatMetilprednisolon
KomplikasiKehilangan kontrol kantung kemih, gangguan pencernaan, masalah pernapasan
Kapan harus ke dokter?Mengalami trauma yang signifikan pada kepala atau leher
Secara umum, tanda dan gejala cedera saraf tulang belakang (spinal cord injury) adalah:
  • Kaki dan tangan yang lemah
  • Mati rasa, kebas, atau kesemutan di tangan dan kaki (kehilangan sensasi)
  • Tidak mampu menggerakkan tangan atau kaki
  • Tidak mampu menahan buang air kecil ataupun besar
  • Nyeri atau rasa tertekan pada leher atau punggung
  • Benjolan yang tidak biasa di sepanjang tulang belakang
  • Sesak napas
  • Sakit kepala
  • Gerakan kaki atau tangan yang tiba-tiba (refleks)
Meski demikian, gejala yang muncul mungkin saja berbeda tergantung pada lokasi cedera dan seberapa berat kerusakan yang terjadi. Umumnya, kondisi ini terbagi menjadi dua, yaitu lengkap dan tidak lengkap.
  • Cedera saraf tulang belakang lengkap (complete)
    Gejala yang muncul membuat seseorang kehilangan kemampuan sensorik dan motorik sama sekali. Artinya, pasien tidak dapat menggerakkan atau mati rasa sama sekali.
  • Cedera saraf tulang belakang tidak lengkap (incomplete)
    Kondisi ini terjadi saat kemampuan merasakan dan menggerakkannya melemah. Derajat kelemahannya bisa berbeda-beda setiap orang.
Selain kedua jenis kondisi, spinal cord injury juga dapat membuat penderitanya mengalami kelumpuhan dengan skala yang berbeda-beda, yaitu:
  • Tetraplegia atau quadriplegia, yaitu kelumpuhan terjadi pada tangan, lengan, badan, kaki, dan organ dalam panggul.
  • Paraplegia, yaitu kelumpuhan terjadi semua atau sebagian dari badan, kaki dan organ dalam panggul.
Penyebab utama cedera saraf tulang belakang (spinal cord injury) adalah kecelakaan atau kondisi yang menyebabkan kerusakan pada tulang belakang, ligamen (jaringan penyambung tulang dan otot), diskus (jaringan di antara tulang belakang) pada kolom tulang belakang, atau kerusakan saraf tulang belakang itu sendiri.Kerusakan yang terjadi bisa disebabkan oleh 2 hal, yakni:

1. Cedera traumatis 

Kerusakan saraf tulang belakang terjadi akibat pukulan atau kecelakaan yang melukai tulang belakang. Kecelakaan atau pukulan ini menyebabkan tulang patah (fraktur), bergeser (dislokasi), hancur, atau menekan satu atau lebih dari ruas tulang belakang.

2. Cedera nontraumatis 

Cedera nontraumatis pada saraf tulang belakang dapat disebabkan oleh penyakit tertentu, seperti arthritis, kanker, inflamasi atau peradangan saraf tulang belakang, infeksi atau degenerasi diskus tulang belakang.Jika dirangkum, penyebab umum spinal cord injury adalah:
  • Kecelakaan lalu lintas
  • Cedera akibat terjatuh, khususnya pada lansia berusia di atas 65 tahun
  • Kekerasan fisik, seperti luka tembak atau luka tusuk
  • Cedera olahraga atay aktivitas outdoor
  • Komplikasi operasi
  • Penyakit tertentu, seperti kanker dan osteoporosis 

Faktor risiko cedera saraf tulang belakang

Penyebab utama spinal cord injury adalah kecelakaan. Meski begitu, ada beberapa faktor yang menyebabkan Anda lebih berisiko mengalami cedera sumsum tulang belakang, yaitu:
  • Berjenis kelamin laki-laki
  • Berusia antara 16-30 tahun
  • Berusia di atas 65 tahun atau lebih karena risiko jatuh yang lebih tinggi
  • Konsumsi alkohol
  • Perilaku berisiko, seperti olahraga ekstrem tanpa pengamanan yang sesuai
  • Memiliki penyakit tertentu, seperti kanker atau masalah tulang dan persendian
Pertama-tama, dokter akan memastikan dulu jalan napas pasien. Jika cedera tulang belakang terjadi karena kecelakaan, dokter mungkin akan bertanya terlebih dulu mengenai kecelakaan yang terjadi dan memeriksa kemampuan gerak serta sensasi yang Anda rasakan.Akan tetapi, jika pasien tidak sadar, mengeluhkan sakit leher, atau menunjukkan tanda-tanda kelumpuhan, ada beberapa tes yang digunakan untuk mendiagnosis kondisi ini, yaitu:
  • Rontgen leher atau punggung
    Lewat rontgen, dokter dapat menemukan adanya gangguan pada tulang belakang, tumor, patahan, atau perubahan akibat usia (degeneratif) pada tulang belakang.
  • CT scan
    CT scan dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih baik terhadap masalah yang mungkin muncul pada rontgen.
  • MRI
    MRI menggunakan gelombang radiomagnetik untuk melihat ke dalam sumsum tulang belakang dan menemukan ada tidaknya saraf terjepit (herniated disc), sumbatan darah, atau massa lain yang mungkin menekan sumsum tulang.
Sayangnya, masalah saraf tulang belakang ini bersifat permanen dan tidak bisa diperbaiki. Pengobatan yang dilakukan hanya bersifat mencegah terjadi kerusakan yang lebih hebat dan mengusahakan pasien untuk dapat tetap hidup produktif.Meski begitu, bukan berarti seseorang dengan spinal cord injury akan menjadi tidak berdaya sama sekali. Para peniliti terus melakukan riset terkait pengobatan, termasuk penggunaan prostesis (kaki atau tangan palsu) dan obat-obatan yang dapat merangsang regenerasi sel.Pada tahap awal, penanganan cedera saraf tulang belakang bertujuan untuk meminimalisir efek trauma kepala dan leher dengan memberikan penyangga yang keras. Setelah itu, dokter akan melakukan:
  • Mempertahankan kemampuan bernapas pasien
  • Mencegah syok
  • Memasang penyangga leher atau tempat tidur khusus agar tulang belakang tidak bergerak dan mencegah kerusakan lebih lanjut (imobilisasi)
Berikut ini adalah beberapa penanganan atau pengobatan spinal cord injury yang mungkin dilakukan:

1. Operasi

Mengutip dari American Association of Neurological Surgeons, operasi mungkin perlu segera dilakukan untuk mengangkat patahan tulang, benda asing, bantalan saraf, atau massa yang mungkin menekan tulang belakang.Operasi juga mungkin dibutuhkan untuk membuat tulang belakang stabul dan mengatasi rasa sakit yang terjadi.Umumnya, operasi dilakukan pada pasien yang mengalami kelumpuhan tidak lengkap (incomplete).

2. Obat-obatan

Beberapa penelitian menyebutkan injeksi kortikosteroid dapat membantu mengobati kerusakan saraf tulang belakang. Injeksi ini harus diberikan dalam 8 jam setelah kecelakaan terjadi.Pemberian obat-obatan pada pasien spinal cord injury dapat membantu menstabilkan tekanan darah, mempertahankan fungsi saraf, dan mengurangi peradangan.Selain pada tahap awal, obat-obatan untuk meredakan nyeri dan obat untuk otot juga dapat diberikan selama perawatan.

3. Rehabilitasi

Kebanyakan orang yang mengalami cedera saraf tulang belakang membutuhkan terapi, alias rehabilitasi. Beberapa terapi yang dianjurkan untuk penderita kerusakan saraf tulang belakang, antara lain fisioterapi, terapi okupasi, ataupun konseling psikologi.Rehabilitasi memang tidak bisa mengembalikan fungsi saraf seperti semula. Akan tetapi, Anda akan diajarkan banyak keahlian baru lewat rehabilitasi, di antaranya:
  • Mempelajari penggunaan alat bantu, seperti kursi roda
  • Meningkatkan kekuatan dan mobilitas
  • Membantu beradaptasi dengan aktivitas sehari-hari
  • Mempelajari cara mencegah komplikasi

Komplikasi cedera saraf tulang belakang

Terdapat komplikasi cedera saraf belakang jangka panjang yang mungkin Anda alami, yaitu:
  • Tidak bisa mengendalikan keinginan buang air kecil ataupun besar
  • Kelumpuhan di tangan dan kaki
  • Mengecilnya otot-otot karena aktivitas yang terbatas dan anggota gerak tak bisa digunakan
  • Tubuh kehilangan kemampuan mengatur suhu tubuh dan tekanan darah
  • Kehilangan kontrol kantung kemih
  • Luka tekan (ulkus dekubitus)
  • Gangguan pernapasan, seperti pneumonia karena cedera memengaruhi kemampuan sistem pernapasan
  • Osteoporosis
  • Obesitas akibat aktivitas yang terbatas
  • Nyeri terus-menerus
  • Masalah disfungsi seksual
  • Depresi
  • Kulit mati rasa
  • Pembekuan darah
Untuk cedera traumatis yang menyebabkan kerusakan saraf tulang belakang dapat dicegah dengan cara:
  • Menggunakan sabuk pengaman ataupun helm saat berkendara
  • Memakai alat pelindung saat berolahraga atau pengaman saat melakukan olahraga ekstrem
  • Berkendara secara hati-hati
  • Memeriksa kedalaman kolam sebelum melompat masuk
  • Meminimalisir risiko jatuh dengan memasang keset antilicin pada kamar mandi
  • Jangan menyetir dalam pengaruh alkohol
Umumnya, cedera saraf tulang belakang terjadi akibat kecelakaan dan ini bersifat darurat. Jadi, Anda biasanya akan segera dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan.Setelah divonis mengalami spinal cord injury, Anda harus segera menemui dokter jika mengalami gejala berikut ini:
  • Tekanan darah tinggi ekstrem (disrefleksia otonom)
  • Pembekuan darah (deep vein thrombosis)
  • Pneumonia
  • Luka tekan
Mengingat cedera saraf tulang belakang sifatnya gawat darurat dan disebabkan oleh kecelakaan, Anda mungkin tidak bisa mempersiapkan apa pun saat bertemu dokter.Terdapat beberapa dokter spesialis yang mungkin terlibat untuk menangani masalah saraf tulang belakang, seperti dokter spesialis saraf, dokter bedah saraf, dokter spesialis ortopedi, dokter spesialis rehabilitasi medik, ataupun psikolog.Beberapa hal yang dapat Anda persiapkan, antara lain:
  • Informasi mengenai kejadian yang menyebabkan cedera, sekalipun tampak tidak berhubungan
  • Meminta anggota keluarga atau teman untuk mendampingi Anda ketika berbicara dengan dokter untuk membantu mengkomunikasikannya kepada dokter
  • Menuliskan pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait cedera tulang belakang?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis cedera tulang belakang agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Healthline. https://www.healthline.com/health/spinal-injury
Diakses pada 10 Desember 2018
Medicinenet. https://www.medicinenet.com/spinal_cord_injury_treatments_and_rehabilitation/article.htm
Diakses pada 10 Desember 2018
Medline Plus. https://medlineplus.gov/spinalcordinjuries.html
Diakses pada 10 Desember 2018
WebMD. https://www.webmd.com/pain-management/pain-management-spinal-cord-injury-medref
Diakses pada 10 Desember 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/spinal-cord-injury/diagnosis-treatment/drc-20377895
Diakses pada 16 Desember 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/spinal-cord-injury/symptoms-causes/syc-20377890
Diakses pada 16 Desember 2021
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/12098-spinal-cord-injury
Diakses pada 16 Desember 2021
American Association of Neurological Surgeons. https://www.aans.org/en/Patients/Neurosurgical-Conditions-and-Treatments/Spinal-Cord-Injury
Diakses pada 16 Desember 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email