Mata

Deuteranopia

17 Oct 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Deuteranopia
Deuteranopia merupakan buta warna yang menyebabkan penderitanya kesulitan membedakan warna merah dan hijau
Deuteranopia adalah salah satu jenis buta warna parsial yang menyebabkan penderitanya kesulitan membedakan warna merah dan hijau dengan warna lain.Manusia pada umumnya dapat membedakan tiga warna primer, yakni merah, biru, dan hijau, termasuk gradasi warna-warna yang mungkin dihasilkan dari kombinasi ketiganya. Diperkirakan mata manusia dapat melihat 10 juta variasi warna yang berbeda.Namun,berbeda pada seseorang yang mengalami deuteranopia. Jenis buta warna ini umumnya disebabkan oleh mutasi genetik yang diwariskan dalam keluarga. Buta warna merah-hijau juga bisa disebabkan oleh beberapa faktor lain, seperti kondisi medis atau paparan zat kimia berbahaya. Dari kasus buta warna yang pernah dilaporkan secara global, sekitar 5-8% kasus deuteranopia terjadi pada pria yang mewarisi gen buta warna sementara pada wanita hanya sekitar 0,5% hingga 1%. Di Indonesia sendiri, prevalensi buta warna (termasuk deuteranopia) mencakup 0.7% dari keseluruhan penduduk. 
Deuteranopia
Dokter spesialis Mata
GejalaMelihat warna merah menjadi kuning kecoklatan dan warna hijau menjadi krem.
Faktor risikoAda riwayat buta warna di keluarga, laki-laki
Metode diagnosisTes gambar (pseudoisochromatic plates)
PengobatanMenggunakan kacamata atau kontak lensa khusus; menggunakan alat bantu visual seperti aplikasi tertentu.
KomplikasiTidak bisa mengambil profesi yang mengharuskan memiliki kemampuan membedakan warna.
Kapan harus ke dokter?Apabila mengalami perubahan persepsi pada warna
Umumnya penderita deuteranopia akan sulit membedakan warna merah dan hijau serta variasinya, termasuk oranye dan cokelat. Gejala yang dialami penderita deuteranopia intensitasnya bisa ringan hingga berat. Biasanya penderita deuteranopia akan melihat warna merah seperti warna kuning kecoklatan dan warna hijau sebagai warna krem.Buta warna merah-hijau dapat dipecah lebih lanjut menjadi dua subtipe yang membantu menggambarkan berbagai tingkat defisiensi penglihatan warna, antara lain:
  • Protanomaly, yang menyebabkan berkurangnya kemampuan dalam melihat warna merah. Akibatnya, seseorang dengan protanomaly dapat keliru atau sulit membedakan warna berikut:
    • Beberapa warna bernuansa biru yang terlihat sebagai warna pink tua, merah, dan ungu
    • Hitam yang terlihat jadi nuansa merah
    • Hijau dengan oranye
    • Coklat tua dengan merah tua, hijau, dan oranye
  • Deuteranomaly, yang mengakibatkan berkurangnya kemampuan melihat warna hijau. Seseorang dengan deuteranomaly biasanya keliru dalam melihat warna:
    • Pertengahan merah dengan pertengahan coklat
    • Hijau cerah dengan kuning
    • Biru-hijau dengan pertengahan pink atau abu-abu
    • Pink pucat dengan abu-abu muda
    • Biru muda dengan ungu muda
Selain gangguan terhadap warna tersebut, tidak ada gejala lain yang akan dirasakan penderita. Oleh karena itu, kondisi ini seringkali tidak terdeteksi.Tidak jarang penderitanya tidak menyadari terkena deuteranopia apabila gejalanya tidak begitu berat. Ada juga yang baru menyadarinya setelah mengikuti tes penglihatan.Namun untuk kondisi bawaan, gejalanya dapat terdeteksi lebih dini, yaitu ketika usia anak-anak sedang belajar warna.Pada deuteranopia bawaan, mata kanan dan kiri memiliki gangguan yang setara. Namun pada buta warna yang diakibatkan penyakit dan paparan lingkungan, keparahan gejala bisa berbeda antara mata kanan dan kiri.
Penyebab deuteranopia adalah mutasi pada gen yang menghasilkan pigmen merah dan hijau.Secara umum, kemampuan manusia dalam melihat warna bergantung pada tiga gen yaitu OPN1LW, OPN1MW, dan OPN1SW. Gen-gen ini menghasilkan instruksi untuk membuat pigmen yang berkontribusi pada sel reseptor cahaya retina, yang terletak di bagian belakang mata.OPN1LW menghasilkan pigmen merah dan OPN1MW yang menghasilkan pigmen hijau. Sel reseptor cahaya retina ada dua bagian, yaitu sel kerucut dan sel batang. Keduanya  bekerja mengirimkan sinyal ke otak guna menghasilkan penglihatan. Sel kerucut bekerja pada cahaya terang, sedangkan sel batang bertugas untuk menghasilkan penglihatan di kondisi cahaya redup.Pada penderita deuteranopia, gen OPN1LW (penghasil pigmen merah) dan OPN1MW (penghasil pigmen hijau) mengalami mutasi. Kondisi ini memengaruhi fungsi sel kerucut dalam menginterpretasikan warna sehingga menghasilkan persepsi gelombang cahaya yang berbeda dari seharusnya.Adapun yang menyebabkan mutasi pada gen penghasil pignmen warna bisa berasal  dari faktor genetik maupun faktor yang didapat (acquired)

Faktor Genetik

Kebanyakan kasus deuteranopia dihasilkan dari mutasi gen yang diwariskan melalui kromosom X.Anak perempuan bisa menerima gen ini dari kromosom x ayah atau ibu. Seorang ayah yang buta warna selalu menurunkan gen buta warna kepada anak perempuannya. Kemudian anak perempuan tersebut dapat menjadi pembawa (carrier) gen bagi keturunannya nanti. Ia memiliki peluang 50% untuk mewariskan gen tersebut kepada anak laki-lakinya.Sementara itu bagi anak laki-laki, peluang mendapatkan gen buta warna hanya bisa diturunkan dari ibunya, karena laki-laki selalu mewarisi kromosom X dari ibu.

Faktor yang didapat

Beberapa kondisi berikut ini diketahui dapat menyebabkan deuteranopia:
  • Mengalami cedera fisik pada mata.
  • Mengidap penyakit mata, seperti glaukoma, katarak, dan penyakit lainnya yang mengganggu retina dan saraf mata.
  • Ada kerusakan pada saraf penglihatan
  • Ada kerusakan pada bagian otak yang memproses persepsi warna
  • Memiliki katarak 
  • Penuaan
  • Efek samping obat-obatan tertentu, seperti obat antipsikotik (klorpromazin dan thoridazine) dan antibiotik etambutol yang biasanya diberikan pada penderita TBC
  • Terkena paparan zat kimia syrene yang merupakan bahan baku beberapa jenis plastik, secara berulang dan berkelanjutan dalam jangka waktu panjang.
Berbeda dengan deuteranopia bawaan, kondisi buta warna yang terjadi akibat faktor-faktor ini bisa membaik atau memburuk seiring dengan hal yang mendasarinya.

Faktor risiko

Beberapa faktor berikut dapat meningkatkan risiko terjadinya deuteranopia, yakni:
  • Memiliki riwayat keluarga buta warna.
  • Mengidap penyakit tertentu, seperti diabetes dan Alzheimer.
  • Bekerja di lingkungan yang memakai zat-zat kimia berbahaya bagi mata.
  • Berjenis kelamin laki-laki.
Selain saat periksa mata ke dokter, pemeriksaan kondisi buta warna bisa dilakukan ketika hendak mendaftar menjadi profesi-profesi tertentu yang memerlukan kemampuan untuk membedakan warna, seperti pilot, insinyur kereta api, atau teknisi listrik.Salah satu jenis pemeriksaan buta warna yang umum dilakukan dokter adalah dengan menggunakan gambar khusus yang dinamakan “pseudoisochromatic plates.” Gambar ini terdiri dari sekumpulan bintik-bintik kecil dan berjumlah sangat banyak.Beberapa bintik-bintik dalam gambar tersebut memiliki warna berbeda, dan perbedaan warna tersebut menggambarkan pola seperti angka atau simbol tertentu.Seseorang dengan mata normal dapat melihat angka dan simbol yang tertera pada gambar tersebut. Sebaliknya, seseorang yang mengalami deuteranopia tidak bisa melihat angka maupun simbol tersebut karena mereka tidak bisa membedakan warna pada gambar.Baca juga: 6 Aplikasi Tes Buta Warna yang Mudah Digunakan
Hingga saat ini deuteranopia yang diturunkan secara genetik masih belum bisa disembuhkan.Meskipun begitu, penglihatan masih bisa dibantu menggunakan beberapa cara:
  • Mempergunakan kacamata atau lensa kontak khusus.
  • Menggunakan alat bantu visual, baik itu aplikasi perangkat lunak atau teknologi lainnya yang dapat membantu penglihatan warna.
Penelitian mengenai pengobatan untuk mengatasi buta warna masih berjalan hingga saat ini, sehingga mungkin saja penyakit ini bisa diobati di masa depan.Untuk penderita deuteranopia akibat penyakit atau paparan yang merusak mata, kondisi mata bisa membaik seiring penyebab kerusakan mata tersebut ditanggulangi. Misalnya, apabila buta warna terjadi akibat obat-obatan, dokter bisa menurunkan dosisnya atau memberikan obat alternatif. 

Komplikasi

Penderita buta warna umumnya akan mengalami kesulitan dalam hal-hal berikut di kesehariannya:
  • Kesulitan membedakan buah yang matang atau belum matang.
  •  Kesulitan memadukan dan memadankan warna pakaian.
  • Kesulitan memastikan kematangan daging yang dimasak.
  • Kesulitan membaca informasi pada bagan atau grafik berwarna.
Penderita buta warna pun tidak dapat mengambil profesi yang membutuhkan kemampuan membedakan warna, seperti pilot, insinyur kereta api, teknisi listrik, dan desainer grafis.
Deuteranopia bawaan tidak dapat dicegah. Meski demikian, buta warna akibat penyakit dan paparan masih bisa dicegah.Salah satu penyebab kebutaan warna adalah akibat gangguan pada retina dan sistem saraf mata. Maka dari itu, ada baiknya untuk tetap menjaga kondisi mata tetap sehat.Pola hidup sehat seperti makan buah-buahan dan sayuran, tidak terlalu lama melihat layar komputer, dan rutin periksa mata ke dokter akan sangat membantu menjaga kesehatan mata.
Segeralah berkonsultasi dengan dokter mata apabila mengalami gejala buta warna. Terutama jika sebelumnya Anda bisa melihat warna secara normal. Deuteranopia yang bukan disebabkan faktor genetik bisa jadi menandakan  gangguan atau penyakit yang kemungkinan berbahaya.
Sebelum pemeriksaan oleh dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala dan gangguan pada aktivitas akibat gangguan persepsi warna yang Anda rasakan
  • Catat riwayat penyakit atau trauma atau iritasi pada mata yang pernah Anda alami
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
Contoh pertanyaan-pertanyaan yang dapat anda ajukan pada dokter diantaranya:
  • Bagaimana kondisi ini akan mempengaruhi hidup saya?
  • Apakah kondisi ini akan mengganggu profesi saya sekarang, atau profesi yang akan diambil di masa depan?
  • Apa saja yang bisa saya lakukan untuk menanggulangi kondisi ini di kehidupan sehari-hari saya?
  • Apakah ada kacamata atau lensa kontak yang bisa saya gunakan?
Pada saat konsultasi, dokter bisa saja menanyakan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Sejak kapan perubahan persepsi warna menjadi berubah?
  • Apakah kondisi anda hanya mempengaruhi satu mata, atau keduanya?
  • Apakah ada riwayat keluarga yang memiliki kondisi buta warna?
  • Apakah anda memiliki riwayat penyakit tertentu?
  • Apakah anda terpapar zat-zat kimia tertentu di tempat kerja anda?
  • Apakah anda sedang menggunakan obat-obatan atau suplemen tertentu?
Setelah sesi pertanyaan tersebut, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik mata, dan pemeriksaan tambahan apabila diperlukan untuk memastikan kondisi apa yang sedang anda alami.
National Eye Institute. https://nei.nih.gov/health/color_blindness/facts_about
Diakses pada 8 Oktober 2021
Healthline. https://www.healthline.com/symptom/color-blindness
Diakses pada 8 Oktober 2021

WebMD. https://www.webmd.com/eye-health/color-blindness#1
Diakses pada 8 Oktober 2021

Health Communities. http://www.healthcommunities.com/color-vision-deficiency/causes.shtml
Diakses 11 Agustus 2019

News Medical. https://www.news-medical.net/health/Color-Blindness-Prevalence.aspx
Diakses pada 8 Oktober 2021

Jurnal Kedokteran Brawijaya. https://www.researchgate.net/publication/327442235_Prevalensi_Buta_Warna_pada_Mahasiswa_Universitas_Muhammadiyah_Palembang
Diakses pada 8 Oktober 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email