Penyakit Lainnya

Distonia

16 Feb 2022 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Distonia
Distonia termasuk ke dalam gangguan pergerakan
Distonia adalah kondisi yang terjadi ketika otot-otot tubuh berkontraksi secara tidak terkontrol sehingga menyebabkan tubuh bergerak sendiri tanpa sadar. Distonia dapat berefek pada satu otot, satu grup otot, atau otot seluruh tubuh. Berdasarkan wilayah tubuh yang terkena, distonia dapat dibagi menjadi klasifikasi berikut:
  • Generalized dystonia (distonia umum), yang memengaruhi sebagian besar atau seluruh bagian tubuh
  • Focal dystonia (distonia fokal), yang memengaruhi bagian tubuh tertentu
  • Multifocal dystonia (distonia multifokal), yang melibatkan dua atau lebih bagian tubuh dengan letak berjauhan
  • Segmental dystonia (distonia segmental), yang melibatkan dua atau lebih bagian tubuh yang berdekatan
  • Hemidystonia (hemidistonia), yang melibatkan lengan dan kaki pada satu sisi tubuh 
Orang yang mengalami distonia biasanya melakukan gerakan berulang secara lambat, gerakan memutar, atau memiliki postur yang abnormal. Kondisi ini sering kali menimbulkan rasa sakit dan terkadang disertai tremor juga gejala gangguan saraf lainnya. Tidak ada pengobatan spesifik untuk dystonia, oleh karena itu, penderita distonia bisa mengalaminya seumur hidup. Meski begitu, terdapat pengobatan untuk mengendalikan berbagai gejala distonia. Baca juga: Mengenal Jaringan Otot Manusia, Si Penggerak Tubuh
Distonia
Dokter spesialis Saraf
GejalaKram kaki, kedutan, tremor, mata berkedip
Faktor risikoTerpapar logam atau karbon monoksida, riwayat perdarahan atau cedera otak
Metode diagnosisPemeriksaan darah, CT scan, MRI, EMG
PengobatanObat-obatan, operasi, fisioterapi, terapi psikologis
ObatLevodopa, trihexyphenidyl, diazepam
KomplikasiKualitas hidup terganggu, sulit menggerakan anggota tubuh yang terkena, depresi
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami otot tubuh yang berkontraksi tanpa bisa dikendalikan
Gejala distonia bisa berbeda pada tiap orang, tergantung pada bagian tubuh yang terdampak. Tingkat keparahannya pun bisa beragam dari ringan hingga berat. Gejala paling umum distonia, antara lain:
  • Kram kaki yang menyebabkan kaki sulit digerakkan hingga harus diseret ketika berjalan
  • Tulisan tangan memburuk setelah menulis beberapa baris
  • Kedutan 
  • Tremor
  • Kesulitan berbicara
  • Mata berkedip hingga sulit melihat
Pada tahap awal, gejala-gejala tersebut bisa terasa sangat ringan dan mungkin hanya akan muncul setelah melakukan aktivitas berat, saat sedang stres, atau kelelahan. Seiring waktu, gejalanya bisa semakin parah.Selain gejala di atas, gejala lain juga mungkin saja muncul tergantung area tubuh yang terdampak, seperti:1. Leher (distonia servikal/spasmodic torticollis/torticollis)Distonia ini merupakan jenis distonia yang paling umum. Distonia servikal mengenai otot leher yang mengontrol posisi kepala. Distonia servikal bisa menyebabkan kepala berputar, dan berubah ke satu sisi, atau terdorong ke depan atau ke belakang. 2. Lipatan mata (blefarospasme)Blefarospasme alias mata kedutan juga merupakan salah satu jenis distonia. Kondisi ini membuat mata sering berkedut, mengedip tanpa sengaja, dan mata jadi kering.Meski tidak menyebabkan rasa sakit, gejalanya bisa semakin berat saat melihat cahaya terang. 3. Rahang, bibir dan lidah (distonia oromandibular)Penderita distonia oromandibular dapat mengalami cadel, meneteskan air liur, serta dan kesulitan mengunyah, menelan, maupun berbicara. 4. Kotak suara dan pita suara (distonia laringeal atau disfonia spasmodik)Kondisi ini melibatkan otot yang mengontrol pita suara, sehingga penderitanya mungkin akan memiliki suara seperti tercekik atau berbisik.5. Tangan dan lengan bawah (distonia yang spesifik pada tugas tertentu)Beberapa tipe distonia terjadi ketika melakukan aktivitas yang berulang, seperti menulis atau memainkan alat musik.Baca jawaban dokter: Kenapa anak sulit berbicara setelah cedera kepala
Kebanyakan kasus distonia tidak diketahui penyebabnya, alias idiopatik. Namun, para peneliti menduga distonia berhubungan dengan kerusakan atau fungsi yang tidak normal dari basal ganglia atau daerah otak lainnya, yang mengontrol pergerakan.Selain itu, gangguan kemampuan otak dalam memproses neurotransmitter (senyawa organik pembawa sinyal di antara saraf) juga bisa menyebabkan distonia. Kelainan dalam cara otak memproses informasi juga bisa menghasilkan perintah untuk bergerak secara tidak sadar, seperti yang dialami penderita distonia.Secara umum, distonia bisa disebabkan oleh kondisi kesehatan tertentu ataupun dari lingkungan. Berikut ini adalah beberapa penyebab distonia:
  • Mutasi genetik
  • Kekurangan oksigen di otak
  • Perdarahan otak
  • Penggunaan obat-obatan, seperti antipsikotik, agonis dopamin, dan obat lainnya biasanya memicu distonia akut.
  • Paparan logam berat
  • Keracunan karbon monoksida
  • Penyakit Parkinson
  • Penyakit Huntington
  • Penyakit Wilson 
  • Cedera otak traumatik 
  • Cedera saat dilahirkan 
  • Stroke
  • Tumor otak atau gangguan tertentu yang terjadi pada penderita kanker (sindrom paraneoplastik)
  • Infeksi seperti TBC atau ensefalitis
Untuk mendiagnosis distonia, dokter akan memulai dengan memeriksa riwayat kesehatan dan melakukan pemeriksaan fisik. Untuk menentukan kondisi yang menyebabkan gejala ini, dokter akan merekomendasikan:
  • Pemeriksaan darah atau urine. Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan tanda keracunan atau kondisi medis lainnya.
  • MRI atau CT scan. Pemeriksaan pencitraan ini dapat mengidentifikasi ketidaknormalan pada otak, seperti tumor, lesi atau tanda dari stroke. 
  • Electromyography (EMG). Tes ini mengukur aktivitas listrik di dalam otot.
Sampai sekarang ini, tidak ada pengobatan untuk mencegah terjadinya distonia atau memperlambat perkembangan penyakit. Namun, terdapat pilihan perawatan yang dapat membantu meringankan gejala distonia,  antara lain:

1. Obat-obatan

  • Suntikan obat yang disebut botulinum toxin (botox) untuk melemahkan otot
  • Obat yang memengaruhi neurotransmitter di otak dan berdampak pada pergerakan otot, seperti levodopa, trihexyphenidyl, diazepam, clonazepam, baclofen

2. Operasi 

Operasi mungkin direkomendasikan dokter pada kasus distonia yang parah. Jenis operasi untuk menangani distoni, antara lain deep brain stimulation atau pembedahan denervasi selektif, yakni memotong saraf yang mengontrol kejang otot.Pengobatan ini dilakukan bila pengobatan lain tidak berhasil mengatasi distonia. 

3. Terapi lainnya 

Selain pilihan pengobatan di atas, dokter juga dapat  menyarankan jenis terapi lain, seperti:
  • Fisioterapi atau terapi okupasi, untuk membantu meringankan gejala dan memperbaiki fungsi tubuh.
  • Terapi wicara, jika distonia mempengaruhi pita suara
  • Peregangan dan pijatan, untuk meringankan rasa nyeri pada otot
  • Manajemen stres, untuk mengelola stres yang Anda alami sehari-hari

Komplikasi 

Jika dibiarkan, distonia dapat menimbulkan sejumlah komplikasi, antara lain:
  • Cacat fisik yang memengaruhi aktivitas sehari-hari atau satu kegiatan spesifik
  • Kesulitan melihat jika distonia terjadi di kelopak mata
  • Kesulitan menggerakkan rahang, menelan, atau berbicara
  • Rasa sakit dan kelelahan, karena kontraksi konstan pada otot 
  • Depresi, kecemasan, dan masalah sosial
Tidak diketahui secara pasti bagaimana mencegah terjadinya distonia. Akan tetapi, Anda dapat menghindari berbagai faktor yang dapat memperburuk distonia, seperti:
  • Stres berat 
  • Kelelahan 
  • Agitasi (perasaan gelisah, malu, marah, atau jengkel) berlebihan
  • Terlalu banyak berbicara (logorrhea)
Tanda awal dari distonia sering kali ringan, dan berhubungan dengan aktivitas spesifik. Temui dokter jika mengalami kontraksi otot yang tidak normal.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter. 
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Baca juga:  12 Cara Mengatasi Stres yang Tidak Sulit untuk Anda Lakukan
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini. Anda sebaiknya memberikan jawaban jelas, agar dokter bisa mendiagnosis lebih baik. 
  • Kapan Anda mulai merasakan gejala?
  • Apakah gejala yang terjadi berlanjut atau hanya saat tertentu?
  • Seberapa parah gejala yang dialami?
  • Apakah ada yang memperingan atau memperburuk gejala?
  • Apakah ada anggota keluarga yang didiagnosis dengan distonia?Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis distonia agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
American Association of Neurological Surgeons. https://www.aans.org/en/Patients/Neurosurgical-Conditions-and-Treatments/Dystonia
Diakses pada 2 Februari 2022
Tremor and Other Hyperkinetic Movements. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5673689/
Diakses pada 2 Februari 2022
Healthline. https://www.healthline.com/health/focal-dystonia#prevention
Diakses pada 2 Februari 2022
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dystonia/diagnosis-treatment/drc-20350484
Diakses pada 2 Februari 2022
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/dystonia/
Diakses pada 2 Februari 2022
WebMD. https://www.webmd.com/brain/qa/what-is-dystonia
Diakses pada 2 Februari 2022
NIH. https://www.ninds.nih.gov/Disorders/Patient-Caregiver-Education/Fact-Sheets/Dystonias-Fact-Sheet
Diakses pada 8 Januari 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/171354#treatment
NORD. https://rarediseases.org/rare-diseases/dystonia/
Diakses pada 8 Januari 2019
Medical Center Rochester. https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=134&contentid=31
Diakses pada 2 Februari 2022
National Institute of Neurological Disorder and Stroke. https://www.ninds.nih.gov/Disorders/Patient-Caregiver-Education/Fact-Sheets/Dystonias-Fact-Sheet
Diakses pada 2 Februari 2022
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email