Psikologi

Autisme

11 Aug 2021 | Popy Hervi PutriDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Autisme
Autisme bisa ditandai dengan sulit berinteraksi dan gerakan atau pola repetitif
Autism apectrum disorder (ASD) atau autisme adalah kondisi yang berhubungan dengan gangguan perkembangan otak pada bagian interaksi sosial dan komunikasi penderitanya.ASD mencakup berbagai kondisi, seperti autisme, sindrom Asperger, childhood disintegrative disorder, dan kondisi yang belum dispesifikasi. ASD sudah dapat dideteksi sejak kecil dan dapat memengaruhi kehidupan sosial.Sebagai contoh, penderita autisme akan sulit bersosialisasi di sekolah maupun tempat kerja. Pada kebanyakan kasus, anak-anak sudah menunjukkan gejala autisme sejak usia satu tahun.Sementara beberapa anak terlihat normal di tahun pertama kehidupannya dan baru mulai menunjukkan gejala autis pada usia 18-24 bulan.Terkadang, ada anak yang awalnya berkembang normal, tapi kemudian tiba-tiba menarik diri, menjadi agresif, atau kehilangan kemampuan berbahasa yang telah dipelajari. Pada kasus seperti ini, tanda-tanda ASD biasanya akan muncul saat anak berusia dua tahun.Tidak semua anak yang menderita autisme, memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. Ada juga penderita yang memiliki tingkat kecerdasan rata-rata bahkan di atas rata-rata.Belum ada obat atau pengobatan untuk gangguan autisme. Tapi perawatan intensif dan sejak dini dapat membantu dan menghasilkan perubahan besar terhadap hidup penderita. Perawatan ini terdiri dari terapi bahasa, terapi okupasi, pendidikan khusus, dan sebagainya. 
Autisme
Dokter spesialis Anak, Jiwa
GejalaPenurunan perkembangan, tidak bisa fokus, interaksi sosial yang tidak normal
Faktor risikoLaki-laki, faktor keturunan, bayi lahir prematur
Metode diagnosisTes genetik, observasi, kriteria DSM-5
PengobatanObat-obatan, terapi perilaku dan komunikasi
ObatObat tidur, antipsikotik, antidepresan
KomplikasiPerdarahan otak, perdarahan usus, nyeri sendi
Kapan harus ke dokter?Tidak merespons pada senyuman, tidak mengoceh, tidak menengok saat dipanggil
Secara umum, gejala autisme meliputi:
  • Regresi atau penurunan perkembangan
  • Tidak adanya penunjuk protodeklaratif, yaitu kegagalan fokus
  • Reaksi abnormal terhadap rangsangan lingkungan
  • Interaksi sosial yang tidak normal
  • Tidak tersenyum saat disapa oleh orang tua dan orang lain yang dikenal
  • Tidak ada respons khas terhadap rasa sakit dan cedera fisik
  • Keterlambatan dan penyimpangan bahasa
  • Tidak adanya permainan simbolis
  • Perilaku yang berulang dan stereotipik
Perlu diketahui bahwa gangguan yang dialami harus muncul saat masa kanak-kanak dan menganggu kehidupan sehari-hari penderita untuk dapat didiagnosis mengalami autisme. Penderita autisme akan mengalami kesulitan dengan kehidupan sosial dan interaksi dengan orang lain.Beberapa anak bahkan mengalami kesulitan dengan komunikasi tidak langsung seperti menatap mata lawan bicara, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan gestur.Mereka mungkin akan menatap mata lawan bicara sebentar dan kemudian menghindari tatapan orang tersebut. Anak dengan autisme tidak tertarik untuk berinteraksi dengan orang lain dan lebih senang bermain sendirian.Penderita sulit untuk mengerti emosi dan perasaan orang lain, tidak merespon apabila dipanggil, serta mengalami kesulitan untuk memulai pembicaraan atau menjadi bagian dari pembicaraan itu. Biasanya anak dengan ASD berbicara terlebih dahulu jika anak ingin menamakan suatu benda atau meminta bantuan.Anak yang menderita autisme juga biasanya tidak berbicara atau memiliki kemampuan berbahasa yang terhambat serta berbicara dengan nada atau ritme yang tidak wajar, misalnya berbicara dengan nada bernyanyi atau monoton seperti robot. Anak autis juga sering mengulangi kata dan kalimat orang lain dan tidak mengetahui arti atau kegunaannya. Beberapa perilaku yang akan dilakukan oleh anak yang mengalami ASD meliputi:
  • Memiliki masalah dengan koordinasi atau memiliki pola pergerakan yang tidak wajar, seperti kecanggungan, berjalan dengan jari-jari kaki, atau memiliki bahasa tubuh yang aneh, kaku, atau berlebihan. 
  • Tidak mau mengikuti permainan yang bersifat imitatif, seperti bermain rumah-rumahan, dan sebagainya. 
  • Melakukan gerakan-gerakan yang berulang-ulang, seperti mengibas-ngibaskan tangan, berputar-putar, dan sebagainya.
  • Sangat sensitif dengan cahaya, suara, atau sentuhan.
  • Memiliki preferensi makanan tertentu, seperti hanya mengonsumsi beberapa makanan saja atau menolak mengonsumsi makanan dengan tekstur tertentu.
  • Mengembangkan suatu rutinitas atau ritual yang akan membuat penderita terganggu jika terdapat sedikit saja perubahan.
  • Melakukan aktivitas yang melibatkan menyakiti diri sendiri, seperti menggigit atau memukul-mukul kepala.
  • Sangat terpaku dengan rincian tertentu dari suatu benda, misalnya perputaran roda pada mobil-mobilan. Namun, penderita tidak mengerti fungsi dari benda tersebut.
  • Memiliki fiksasi dengan objek atau aktivitas tertentu dengan intensitas atau perhatian yang yang tidak wajar. 
 
Sampai sekarang, penyebab autisme belum diketahui. Namun beberapa faktor diduga bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengalaminya.Faktor-faktor risiko autisme tersebut meliputi:
  • Mutasi gen, seperti sindrom Rett atau fragile X syndrome 
  • Faktor lingkungan, misalnya infeksi, obat-obatan, komplikasi semasa kehamilan, atau polusi udara
  • Jenis kelamin laki-laki
  • Faktor keturunan, contohnya pasangan dengan anak autisme akan mempunyai risiko lebih tinggi untuk kembali memiliki anak dengan kondisi serupa
  • Bayi prematur
  • Usia orang tua yang lebih tua saat memiliki anak
 
Diagnosis gangguan spektrum autisme dilakukan dengan beberapa cara berikut ini:
  • Melakukan tes genetik untuk mengidentifikasi apakah anak memiliki penyakit genetik seperti Sindrom Rett atau fragile X syndrome
  • Memberikan tes-tes yang meliputi kemampuan mendengar, berkomunikasi, berbahasa, tingkat perkembangan, dan masalah-masalah dalam sosial dan perilaku
  • Melakukan observasi pada anak serta menanyakan interaksi sosial, latar belakang keluarga, kemampuan berkomunikasi, dan perubahan-perubahan perilaku anak pada orangtua
  • Memberikan suatu interaksi komunikasi dan sosial yang terstruktur pada anak dan menilai bagaimana anak meresponi interaksi tersebut.
  • Menggunakan kriteria-kriteria dari DSM-5 untuk mendiagnosis apakah anak memiliki ASD

 

Kriteria autisme berdasarkan DSM-5

Berdasarkan diagnostic and statistical manual of mental disorders edisi kelima (DSM-5), penderita ASD harus memiliki kedua ciri berikut ini:
  • Kurang di komunikasi dan interaksi sosial.
  • Perilaku, aktivitas, dan minat yang berulang-ulang dan terbatas (restricted repetitive behaviors/ RRBs).
 
Cara mengobati autisme umumnya akan tergantung dari tingkat keparahan penyakit dan seberapa lama pasien sudah mengalami kondisi tersebut. Beberapa pilihan cara mengobati gangguan spektrum autisme yang biasanya disarankan dokter, yaitu:

Obat-obatan

Obat-obatan biasa diberikan untuk meringankan gejala-gejala ASD saja, beberapa pilihan obat yang diberikan adalah:
  • Obat tidur untuk membantu gangguan tidur yang dialami
  • Antipsikotik untuk menangani masalah-masalah perilaku yang parah.
  • Obat untuk meringankan gejala hiperaktif
  • Antidepresan untuk mengatasi kecemasan dan depresi

Terapi edukasi

Terapi edukasi dilakukan dengan cara mengikuti program edukasi yang sangat terstuktur.

Terapi keluarga

Terapi keluarga bertujuan meningkatkan kemampuan interaksi sosial dan komunikasi anak, menangani perilaku-perilaku anak yang bermasalah, serta mengajarkan kemampuan dasar untuk kehidupan sehari-hari melalui bermain dan berinteraksi.

Terapi perilaku dan komunikasi

Terapi ini sangat bergantung pada susunan programnya. Ada program yang lebih fokus pada mengajarkan anak untuk mengurangi perilaku-perilaku yang bermasalah serta mengajarkan kemampuan baru.Sementara ada pula program lain yang berfokus pada mengajarkan anak untuk berperilaku di situasi-situasi sosial serta berkomunikasi lebih baik.Salah satu programnya adalah analisis perilaku yang diaplikasikan (applied behavior analysis). Program terapi ini bisa membantu anak untuk mempelajari dan menerapkan kemampuan baru dalam situasi yang berbeda. Terapi ini menggunakan sistem motivasi berdasarkan pada penghargaan.

Terapi lain

Terapi yang diberikan tergantung pada kebutuhan anak, jika anak membutuhkan peningkatan pada kemampuan untuk berkomunikasi, terapi berbicara dapat membantu anak. Sementara jika anak ingin diajarkan mengenai aktivitas-aktivitas sehari-hari, anak dapat mengikuti terapi okupasi.Terapi fisik dapat diberikan jika anak ingin ditingkatkan pergerakan dan keseimbangannya. Anda dapat berdiskusi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya mengenai terapi yang tepat untuk anak Anda. Jika anak mengalami autisme, beberapa hal di bawah ini dapat Anda lakukan:
  • Mempelajari mengenai kondisi yang dialami oleh anak Anda.
  • Berdiskusi dengan dokter dan ahli kesehatan lainnya mengenai kondisi anak Anda.
  • Menerapkan teknik-teknik untuk mengatasi stres dan rileksasi, seperti olahraga ata melakukan hal yang disukai.
  • Mengikuti komunitas-komunitas dengan orangtua yang memiliki anak dengan ASD agar dapat saling berdiskusi dan mendukung satu sama lainnya. 
  • Selalu menyimpan dokumen-dokumen dan data-data kunjungan anak Anda ke dokter dan ahli kesehatan mental yang dipilih.
  • Selalu mencari dokter dan ahli kesehatan mental yang terpercaya dan profesional. 
 

Komplikasi autisme

Jika tidak ditangani dengan benar, gangguan spektrum autisme bisa menyebabkan komplikasi berupa: 
  • Masalah di sekolah dan dengan keberhasilan belajar
  • Masalah ketenagakerjaan
  • Ketidakmampuan untuk hidup mandiri
  • Isolasi sosial
  • Stres dalam keluarga
  • Menjadi korban penindasan
 
Langkah pencegahan gangguan spektrum autisme tidak diketahui hingga saat ini. Pasalnya, penyebabnya juga belum diketahui secara pasti.Namun Ada bisa mengurangi risiko penyakit ini dengan cara diagnosis sejak dini. Karena hal ini sangat membantu untuk memperbaiki perilaku, kemampuan, dan perkembangan bahasa anak. 
Hubungi dokter bila anak Anda mengalami gejala-gejala berikut ini:
  • Tidak merespon dengan senyuman atau ekspresi senang pada usia enam bulan
  • Tidak mengikuti suara atau ekspresi wajah pada usia sembilan bulan
  • Tidak berceloteh atau mengeluarkan suara pada usia 12 bulan
  • Tidak menunjukan gestur, seperti menunjuk atau melambaikan tangan pada usia 14 bulan
  • Tidak mengatakan sepatah katapun pada usia 16 bulan
  • Tidak mau bermain simulasi (seperti masak-masakan dan sebagainya) pada usia 18 bulan
  • Tidak mengucapkan frasa yang terdiri dari dua kata pada usia 24 bulan
  • Kehilangan kemampuan berbahasa atau sosial pada usia manapun.
 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dialami oleh pasien?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah pasien memiliki faktor risiko terkait autisme?
  • Apakah pasien rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah pasien pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah dicoba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis autisme agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/autism-spectrum-disorder/symptoms-causes/syc-20352928
Diakses pada 11 Agustus 2021
Med Scape. https://emedicine.medscape.com/article/912781-overview
Diakses pada 11 Agustus 2021
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/autism/
Diakses pada 11 Agustus 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email