Gigi & Mulut

Gigi Mati

23 Mar 2022 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Gigi Mati
Gigi mati atau nekrosis pulpa adalah istilah yang menggambarkan matinya jaringan terdalam pada gigi yang disebut pulpa. Ketika gigi rusak karena pembusukan atau cedera, pulpa bisa terinfeksi dan akhirnya mati.Pulpa terletak di dalam gigi tepat di bawah lapisan dentin yang dilindungi oleh lapisan email gigi (rangka terluar gigi). Di dalam pulpa terdapat saluran akar yang berada di bagian bawah gigi dan ruang pulpa yang terletak di mahkota gigi.Pulpa sendiri merupakan susunan kompleks dari pembuluh darah dan saraf yang berperan penting dalam kesehatan gigi. Pulpa menjalankan berbagai fungsi pada gigi, dari fungsi sensorik hingga menyalurkan nutrisi yang dapat mencegah kerusakan gigi.Oleh karena itu, jika terdapat kerusakan pada gigi, pulpa tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Aliran darah tidak lagi mengalir dan saraf-saraf pun akan mati. Jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat, gigi akan mengalami kerusakan yang parah, menjadi gigi mati yang pada akhirnya harus dicabut.
Gigi Mati
Dokter spesialis Gigi
GejalaPerubahan warna gigi, nyeri
Faktor risikoKebersihan gigi yang buruk, melakukan kontak fisik yang rentan cedera
Metode diagnosisPemeriksaan gigi, rontgen, tes termal
PengobatanPerawatan saluran akar gigi, cabut gigi
KomplikasiInfeksi sinus, penyakit gusi, abses gigi
Kapan harus ke dokter?Merasakan nyeri dan gigi berubah warna
Gigi mati tidak dapat diidentifikasi hanya dengan melihatnya. Hanya dokter gigi yang bisa mendiagnosisnya. Namun, terdapat dua gejala umum gejala yang biasanya menandakan adanya gigi mati antara lain:1. Perubahan warna gigiGigi yang sehat biasanya berwarna putih gading, meskipun warna gigi dapat bervariasi dari putih pucat atau kuning muda, tergantung pada pola makan dan cara Anda menjaga kebersihan mulut Anda. Namun, gigi yang mati akan terlihat kuning, cokelat muda, abu-abu, atau bahkan hitam. Perubahan warna akan meningkat seiring waktu karena gigi terus membusuk akibat saraf yang mati.2. Rasa nyeri Pada tahap awal, jika ada kerusakan pada pulpa, gigi akan menjadi sangat sensitif terhadap makanan atau minuman dingin. Permen dan makanan manis lainnya juga bisa memicu nyeri. Rasa sakit tersebut bisa terasa ringan hingga ekstrem dan biasanya berlangsung sekitar satu hingga dua detik sekali.Jika kerusakan telah berkembang menjadi tahap nekrosis (kematian jaringan), saraf akan berhenti mengirimkan sinyal yang menghasilkan rasa sakit atau ketidaknyamanan sehingga gigi tidak lagi merasakan nyeri ataupun sensitif.  Meski begitu, begitu saraf di dalam gigi mati, sistem kekebalan tubuh akan mengenali jaringan mati sebagai benda asing yang harus dilawan. Proses ini akan menimbulkan peradangan di jaringan gusi sekitarnya (membran periodontal) yang menutupi permukaan akar gigi. Peradangan tersebut dapat menghasilkan tekanan yang meningkat setiap beberapa menit sekali ketika gigi terkena makanan atau saat Anda menggertakkan gigi. Akibatnya, rasa nyeri dapat muncul dari membran periodontal karena membran ini mengandung ujung saraf sensorik untuk rasa sakit.Terkadang, jaringan yang mati juga dapat mengundang bakteri tumbuh hingga rongga pulpa terisi oleh nanah, hal ini dapat menimbulkan gejala lain seperti:
  • Rasa tidak enak di mulut
  • Bau mulut
  • Pembengkakan di gusi 
  • Jerawat gusi 
  • Terbentuknya kumpulan nanah (abses)
  • Nyeri di area abses
Penyebab utama gigi mati, alias nekrosis pulpa, adalah gigi berlubang yang tidak diobati ataupun kecelakaan yang mengakibatkan rusaknya pembuluh darah. Berikut ini penjelasan lengkap terkait penyebab gigi mati.1. Gigi berlubang Gigi berlubang biasanya disebabkan oleh adanya plak gigi yang menumpuk hingga merusak lapisan email gigi dan membentuk lubang. Jika tidak dirawat dengan baik, kerusakan akan terus berkembang ke dalam gigi hingga mencapai pulpa. Hal ini juga menciptakan jalur bagi bakteri untuk masuk ke gigi dan menyebabkan saraf mati.2. Cedera Cedera pada gigi dapat menyebabkan aliran darah di dalam pulpa terganggu sehingga asupan nutrisi berkurang dan menyebabkan gigi mati. Beberapa jenis cedera gigi tersebut adalah:
  • Cedera fisik akibat terjatuh, berolahraga, kecelakaan lalu lintas, benturan akibat dipukul, gigi bergeser, atau kebiasaan menggertakkan gigi (bruxism).
  • Cedera akibat iritasi dari zat kimia, misalnya produk pembersih gigi atau antibiotik. 
  • Efek samping dari perawatan gigi tertentu, seperti operasi gusi atau kuretase pada gusi.
Gigi mati umumnya terjadi dalam tahapan berikut ini:
  • Gigi berlubang, mengalami iritasi, atau cedera 
  • Bakteri memasuki pulpa melalui lubang di gigi.
  • Jaringan sehat di dalam pulpa berusaha mencoba melawan bakteri dan menimbulkan pembengkakan (pulpitis) yang menyebabkan rasa sakit.
  • Saraf gigi mulai kekurangan oksigen dan nutrisi.
  • Aliran darah ke gigi berkurang atau berhenti sama sekali.
  • Pulpa mati dan menyebabkan gigi mati.
Saat mendiagnosis gigi mati, dokter gigi akan menanyakan gejala dan riwayat kesehatan gigi pasien. Selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan pada gigi, gusi, dan jaringan di sekitarnya. Dokter juga akan meminta pasien menjalani rontgen gigi untuk melihat lebih jelas bagian dalam gigi. Dari hasil rontgen, dokter dapat menganalisa area pembusukan atau abses yang mungkin menyebabkan gigi mati.Jika dokter mencurigai adanya pulpitis atau nekrosis, dokter gigi dapat melakukan salah satu dari tes kepekaan pulpa berikut:1. Tes termal Tes termal adalah pemeriksaan gigi untuk menguji sensitivitas gigi terhadap panas dan dingin. Pemeriksaan ini dilakukan dengan merangsang gigi dengan sumber panas, misalnya air panas atau air dingin dengan es batu pada gigi. Jika tidak ada respons dari gigi selama lebih dari 10 detik, pulpa mungkin telah mengalami kerusakan.2. Electric pulp tester (EPT)EPT dilakukan untuk mengukur vitalitas pulpa dengan mengalirkan arus listrik yang meningkat secara bertahap pada gigi. EPT mencatat angka dari 0 hingga 80. Jika gigi menunjukkan respons saat EPT belum mencapai angka 80, berarti pulpa masih hidup. Sebaliknya, jika gigi tidak juga merespons setelah EPT menunjukkan angka 80, berarti pulpa sudah mati.Baca juga: Periksa Gigi Saat Pandemi Covid-19, Apakah Aman Melakukannya?
Pilihan pengobatan untuk gigi mati terdiri dari perawatan saluran akar dan cabut gigi. Perawatan yang dipilih akan direkomendasikan berdasarkan tingkat keparahan kondisi pasien. Berikut penjelasannya:1. Perawatan saluran akar gigiPerawatan saluran akar gigi adalah suatu prosedur yang dilakukan untuk membuang pulpa yang rusak dan terinfeksi agar tidak menyebabkan kerusakan lebih luas di jaringan sekitar gigi. Tindakan ini biasanya dilakukan melalui serangkaian perawatan yang dilakukan lebih dari satu kali kunjungan. Pada prosedur ini, dokter akan membuat lubang pada gigi, kemudian semua bagian mulai jaringan saraf yang rusak hingga pecahan gigi akan diangkat menggunakan instrumen khusus. Proses ini harus dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan semua bagian akar gigi yang rusak terangkat sempurna. Secara berkala, juga akan disemprotkan air atau sodium hypochlorite untuk membersihkan area tindakan dari pecahan gigi.Setelah dibersihkan, dokter akan menutup lubang gigi. Biasanya, tindakan ini baru dilakukan seminggu kemudian. Apabila ada jarak waktu, dokter akan memberi tambalan sementara untuk melindungi lubang gigi dari makanan atau air liur. Apabila ada infeksi, dokter juga akan mengobatinya terlebih dahulu dengan meresepkan antibiotik. Pada proses terakhir, yaitu sealing, dokter akan mengisi akar gigi dengan tambalan khusus yang disebut gutta percha yakni suatu substansi plastik dari lateks dengan tekstur seperti karet. 2. Ekstraksi gigi (cabut gigi)Pada kasusyang sudah parah, gigi yang mengalami nekrosis biasanya tidak dapat diselamatkan dengan perawatan saluran akar dan harus dicabut. Dokter gigi akan memulai prosedur pencabutan gigi dengan memberikan bius lokal di area gigi yang akan dicabut. Setelah lidah, gusi, serta bibir pada satu area dengan gigi yang akan dicabut mulai kebas atau mati rasa, maka dokter akan mulai mencabut gigi secara perlahan.Setelah gigi dicabut, bagian gusi yang ompong dapat diisi dengan gigi palsu. Tujuannya, agar tidak menggeser susunan gigi di sekitarnya. 

Komplikasi 

Gigi mati yang tidak diobati dengan baik dapat menimbulkan sejumlah komplikasi seperti:
  • Demam
  • Infeksi sinus
  • Abses gigi, yaitu penumpukan nanah di sekitar gigi dan gusi
  • Periodontitis 
  • Pembengkakan hingga pengeroposan tulang di rahang
  • Kerusakan gigi yang meluas
  • Iritasi kulit di sekitar mulut
Baca jawaban dokter: Kenapa gigi masih sakit setelah perawatan saluran akar?
Menjaga kebersihan gigi, termasuk menyikat gigi dan flossing adalah kunci untuk mencegah pembusukan gigi yang berujung nekrosis. Pola makan sehat yang mengandung vitamin dan mineral juga penting untuk menjaga kesehatan gigi dan gusi. Perhatikan konsumsi makanan manis untuk mengurangi risiko kerusakan gigi. Minumlah air putih yang cukup, terutama setelah makan, untuk membilas bakteri dari gigi, sebelum akhirnya ditutup dengan menyikat gigi. Temui dokter gigi secara rutin setiap enam bulan. Perawatan gigi preventif dapat membantu mencegah berbagai masalah gigi. Dokter gigi juga dapat mengidentifikasi tanda-tanda awal kerusakan gigi dan mengobatinya sebelum pembusukan mencapai pulpa.Pakai pelindung mulut jika Anda berpartisipasi dalam olahraga kontak, seperti hoki atau tinju. Jika terjadi cedera pada mulut segera periksakan ke dokter gigi untuk mendapatkan pertolongan.Baca juga: Cara Menyikat Gigi yang Baik dan Benar agar Mulut Bersih Maksimal
Segera periksakan ke dokter jika Anda mengalami sakit gigi atau terdapat keluhan pada rongga mulut.Selain itu, di luar jadwal pemeriksaan gigi rutin setiap 6 bulan sekali, Anda juga perlu memeriksakan diri apabila muncul lubang gigi yang tidak terasa sakit.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter. 
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait gigi mati?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis gigi mati agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
American Association of Endodontists. https://www.aae.org/specialty/wp-content/uploads/sites/2/2017/07/endodonticdiagnosisfall2013.pdf
Diakses pada 17 Maret 2022
WebMD. https://www.webmd.com/oral-health/what-is-pulp-necrosis#091e9c5e8216af2c-1-2
Diakses pada 17 Maret 2022
Medicalnewstoday. https://www.medicalnewstoday.com/articles/319062#_noHeaderPrefixedContent
Diakses pada 17 Maret 2022
Healthline. https://www.healthline.com/health/dental-and-oral-health/dead-tooth#treatment
Diakses pada 17 Maret 2022
Elite Dental Group. https://elitedentalg.com/dead-tooth-symptoms-causes-treatment/
Diakses pada 17 Maret 2022
Healthline. https://www.healthline.com/health/pulp-necrosis
Diakses pada 17 Maret 2022
Verywellhealth. https://www.verywellhealth.com/tooth-pulp-dental-terms-1059180#citation-3
Diakses pada 17 Maret 2022
Iranian Endodontic Journal. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6064033/
Diakses pada 17 Maret 2022
Dentalhealth. https://www.dentalhealth.org/root-canal-treatment
Diakses pada 17 Maret 2022
University of Babylon. https://www.uobabylon.edu.iq/eprints/publication_1_7848_607.pdf
Diakses pada 17 Maret 2022
Dental Suite. https://www.dental-suite.co.uk/blog/why-does-the-tooth-hurts-if-the-nerve-inside-is-dead/
Diakses pada 17 Maret 2022
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email