Penyakit Lainnya

Hernia Epigastrik

02 Jun 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Hernia Epigastrik
Hernia epigastrik merupakan salah satu jenis penyakit hernia, yakni kondisi medis ketika organ dalam tubuh menekan keluar dari jaringan otot karena jaringan tersebut melemah. Pada hernia epigastrik, terjadi kelemahan pada otot perut yang menyebabkan usus keluar dari rongga perut ke area epigastrium. Epigastrium merupakan area di dinding abdomen yang terletak di antara pusar dan tulang dada.Kondisi ini biasanya ditemukan sejak lahir, dan cenderung  lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Alasan di balik perbedaan risiko ini belum diketahui dengan pasti.Pada beberapa kasus, hernia epigastrik berukuran kecil, tidak bergejala, dan tidak membutuhkan penanganan khusus. Hanya saja jika ukuran benjolan besar dan menimbulkan gejala, kondisi ini memerlukan tindakan operasi untuk mengatasinya agar tidak menyebabkan komplikasi di kemudian hari.
Hernia Epigastrik
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaBenjolan di atas pusar, nyeri ulu hati
Faktor risikoObesitas, kehamilan, batuk kronis
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, USG, CT scan
PengobatanOperasi
KomplikasiHernia yang semakin membesar, penyumbatan usus
Kapan harus ke dokter?Benjolan di perut disertai muntah, demam, nyeri perut
Hernia epigastrik bisa saja muncul sejak lahir namun baru terdiagnosis ketika dewasa. Pada umumnya kondisi ini tidak menimbulkan gejala apapun, namun pada kasus tertentu bisa muncul gejala yang meliputi:
  • Benjolan kecil atau pembengkakan di atas pusar
Benjolan ini dapat muncul setiap saat atau hanya pada waktu-waktu tertentu, seperti ketika batuk, bersin, atau tertawa. Benjolan juga dapat membesar seiring berjalannya waktu dan berjumlah lebih dari satu.
  • Rasa nyeri atau tidak nyaman
Hernia epigastrik dapat menimbulkan rasa nyeri atau tidak nyaman di area epigastrium. Baca juga: Hernia pada Wanita Berbeda dengan Pria, Benarkah?
Hernia epigastrik biasanya ditemukan sejak lahir. Kondisi ini terjadi karena adanya kelemahan pada otot dinding perut atau jaringan perut yang tidak menutup dengan sempurna selama perkembangan janin. Karena otot dinding perut berfungsi untuk menopang organ dalam perut, adanya celah dalam otot yang melemah dapat membuat organ dalam terdorong keluar melalui celah tersebut.Jika otot perut melemah, kondisi-kondisi berikut dapat mendorong usus keluar:

Faktor risiko

Tidak jarang hernia epigastrik baru diketahui ketika penderita sudah dewasa. Laki-laki cenderung beresiko lebih tinggi daripada perempuan untuk menderita penyakit ini. Risiko terjangkit hernia epigastrik pun dapat meninggi akibat faktor-faktor berikut:
  • Terkena obesitas (berat badan berlebih)
  • Otot perut melemah setelah operasi atau karena jarang bergerak
  • Otot perut tegang atau cidera akibat melakukan aktifitas fisik berat, seperti berolahraga yang terlalu intensif dan mengangkat barang berat
Faktor-faktor tersebut dapat mengganggu penderita yang mengalami hernia epigastrik. Ketika organ dalam keluar melalui celah dinding perut yang lemah, otot-otot di sekitar celah tersebut dapat menjepit organ yang keluar dan menyebabkan nyeri. 
Untuk menegakkan diagnosis hernia epigastrik, dokter dapat melakukan tanya jawab, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Berikut penjelasannya:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan seputar gejala yang dialami oleh pasien.
  • Pemeriksaan fisik

Dokter kemudian akan menekan perut pasien dan meminta pasien duduk, berbaring, atau berdiri dalam berbagai posisi.
  • Pemeriksaan penunjang

Apabila diperlukan, pemeriksaan pencitraan seperti CT scan, MRI, dan ultrasonografi (USG) perut juga akan dilakukan. Keduanya bertujuan mengecek ada tidaknya komplikasi atau kondisi medis lainnya.
Karena hernia epigastrik tidak bisa membaik dengan sendirinya, satu-satunya cara menangani kondisi ini adalah melalui operasi. Tindakan operasi bertujuan mencegah komplikasi seperti pembesaran hernia yang dapat terjadi jika kondisi dibiarkan. Dokter bedah akan melakukan sayatan dan mengembalikan organ ke posisi semula, lalu memperbaiki kerusakan pada otot perut.Sebelum tindakan operasi dilakukan, pasien akan melalui proses assessment yang terdiri dari pemeriksaan berikut, yakni:
  • Tes darah
  • Pemeriksaan kardiogram
  • Pemeriksaan rontgen di area dada
Agar meminimalisir terjadinya komplikasi pasca operasi, dokter bisa menyarankan pasien untuk menurunkan berat badan dan berhenti merokok sebelum tindakan medis dilakukan.Tindakan operasi bisa dilakukan dengan dua cara berikut:
  • Operasi terbuka
Operasi ini dapat dilakukan menggunakan anestesi umum, spinal, dan lokal. Dokter akan membuat sayatan besar di dekat lokasi hernia untuk mendorong organ yang keluar agar kembali ke posisi seharusnya. Setelah posisi organ sudah benar, dokter akan memperbaiki bagian otot yang melemah menggunakan jahitan jika area kelemahannya kecil atau epigast sintetis (mesh) jika besar.
  • Operasi laparoskopi
Dalam tindakan ini, dokter bedah melakukan operasi menggunakan alat laparoskop, yakni alat bantu bedah berbentuk tabung tipis dengan kamera dan cahaya di ujungnya. Dokter akan membuat membuat 3 sayatan yang masing-masing berukuran sekitar 1,5 cm. Alat laparoskop akan dimasukkan pada salah satu sayatan tersebut untuk membantu prosedur operasi, sementara sayatan lainnya merupakan celah untuk alat bedah lainnya dalam mengembalikan organ ke posisi semula. Sama seperti operasi terbuka, setelah posisi organ sudah benar dokter akan memperbaiki bagian otot yang melemah dengan jahitan atau mesh.Setelah tindakan, pasien bisa langsung pulang atau harus menjalani rawat inap di rumah sakit minimal satu hari, tergantung dari seberapa berat prosedur operasi yang dijalani. Selama proses penyembuhan, terdapat hal-hal yang harus dihindari agar tidak terjadi komplikasi, diantaranya:
  • Dilarang menyetir, terutama dalam 24 jam pertama setelah tindakan.
  • Jangan berpindah-pindah posisi seperti dari tidur ke duduk, atau dari duduk ke berdiri
  • Hindari bersin, batuk, dan menangis berlebihan
  • Hindari tekanan perut saat buang air besar
Umumnya pasien bisa pulih dan kembali beraktifitas dalam 4 hingga 6 minggu setelah operasi, meskipun untuk pasien berusia lanjut kurun waktunya dapat menjadi lebih lama. Tindakan operasi laparoskopi biasanya lebih cepat pemulihannya dibandingkan operasi terbuka. Hanya saja meskipun pasien telah terlihat sehat, sangat dianjurkan agar menghindari aktifitas-aktifitas berat selama dua bulan untuk memastikan luka sayatan operasi benar-benar sembuh.

Komplikasi

Pada umumnya penyakit hernia bisa ditanggulangi sebelum adanya komplikasi. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan komplikasi berikut dapat terjadi pada penderitanya, terutama jika kondisi dibiarkan:
  • Pembesaran hernia
  • Nyeri hebat
  • Obstruksi usus, dimana ditandai dengan demam dan muntah
  • Membesarnya area otot yang melemah hingga tidak bisa diperbaiki oleh mesh
Setelah tindakan operasi pun penderita hernia epigastric dapat mengalami beberapa komplikasi umum pasca pembedahan, seperti adanya rasa sakit pada area sayatan, infeksi, timbulnya blood clot, dan pendarahan.Baca jawaban dokter: Bolehkah dipijat jika memiliki hernia?
Hernia epigastrik bisa terjadi karena dua hal, yakni akibat kelainan bawaan dan muncul tanpa ada pengaruh genetis. Hernia epigastrik akibat bawaan tidak bisa dicegah, namun untuk kasus lainnya risiko terkena kondisi ini bisa dikurangi dengan mengurangi tekanan dalam rongga perut agar organ tidak terdorong melalui area otot perut yang lemah.Beberapa upaya pencegahan hernia episgatrik meliputi:
  • Menjaga berat badan agar tetap pada batas ideal.
  • Mengonsumsi makanan bergizi.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Mencegah konstipasi, misalnya dengan meningkatkan asupan serat dan melakukan latihan fisik.
  • Jangan sembarangan mengangkat barang berat.
  • Berhenti merokok
  • Mencegah batuk kronis.
Baca juga: Tanpa Operasi, Ini Pengobatan Hernia yang Bisa Anda Jalani
Segera hubungi dokter apabila Anda dan anak Anda mengalami benjolan pada area epigastrik yang disetai dengan muntah, demam, atau nyeri perut. Gejala ini dapat mengindikasikan terjadinya sumbatan pada usus.
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang dirasakan.
  • Catat rutinitas yang mungkin berpengaruh pada munculnya hernia epigastrik.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan?
  • Sejak kapan gejala tersebut muncul?
  • Apakah penderita memiliki faktor risiko terkait hernia epigastrik?
  • Apakah penderita rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah penderita sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang sudah dicoba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis hernia epigastrik. Dengan ini, pengobatan bisa diberikan secara tepat.

Healthline. https://www.healthline.com/health/epigastric-hernia
Diakses pada 20 Mei 2021
Very Well Health. https://www.verywellhealth.com/epigastric-hernia-diagnosis-treatment-and-surgery-3157222
Diakses pada 20 Mei 2021
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/318541.php
Diakses pada 22 Januari 2020
Medicine Net. https://www.medicinenet.com/hernia_overview/article.htm
Diakses pada 20 Mei 2021
Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/epigastric-hernias.html
Diakses pada 20 Mei 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email