Perut

Hipomagnesemia

02 Jun 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Hipomagnesemia
Saat kadar magnesium di dalam tubuh terus menurun, biasanya akan muncul gejala-gejala seperti mati rasa, kejang, kelelahan, kram dan denyut jantung yang tidak normal.
Hipomagnesemia merupakan penyakit dimana tubuh kekurangan magnesium. Magnesium adalah mineral yang sebagian besar tersimpan dalam tulang dan sebagian kecil terdapat pada darah. Jika kadar magnesium dalam darah seseorang kurang dari normal, yaitu di bawah 1.8mg/dL (<0.70 mmol/L), maka orang tersebut mengalami hipomagnesemia.Magnesium merupakan mineral yang sangat penting karena diperlukan oleh lebih dari 300 proses metabolisme tubuh. Peran penting magnesium diantaranya:
  • Membantu distribusi, penyimpanan dan penggunaan energi sel
  • Membantu metabolisme karbohidrat, protein dan lemak
  • Menjaga fungsi otak agar tetap sehat, seperti menjaga konduksi sinyal antara otot dan saraf, serta menjaga transmisi sinyal dari saraf
  • Membantu membentuk protein baru dalam tubuh
  • Membantu metabolisme tulang
  • Membantu pergerakan dan pembentukan otot
  • Membantu regulasi sistem saraf
  • Menjaga fungsi jantung serta mengurangi risiko terserang penyakit jantung
  • Membantu meningkatkan kualitas tidur
  • Membantu meningkatkan kontrol gula darah pada diabetes mellitus tipe 2, yakni dengan menjaga metabolisme glukosa dan insulin
  • Membantu mencegah migrain
  • Membantu menurunkan tekanan darah
  • Membantu melawan depresi. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa magnesium merupakan obat antidepresi yang efektif
Maka dari itu, kekurangan kadar magnesium dapat menganggu jalannya berbagai fungsi metabolisme tersebut. Hipomagnesemia berkaitan pula dengan penurunan kadar kalsium dan potasium (kalium) dalam tubuh. Sebab, magnesium juga berperan dalam mendistribusikan kalsium dan potasium ke seluruh tubuh, sehingga jika kadar magnesium rendah, maka tubuh juga tidak akan menerima kadar kalsium dan potasium yang cukup.Perawatan hipomagnesemia meliputi terapi magnesium dan juga penyeseuaian gaya hidup.
Hipomagnesemia
Dokter spesialis Penyakit Dalam
Gejalamual, muntah, rasa lemah, berkurang nafsu makan.
Faktor risikoPengidap diare kronis, pengidap diabetes tipe 2, kebergantungan pada alkohol, dan faktor usia
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, pemeriksaan darah, pemeriksaan urine
PengobatanSuplemen, pola makan
ObatSuplemen, penyesuaian pola makan
KomplikasiKejang, denyut jantung tidak beraturan, vasospasme arteri koroner
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami gejala, terutama jika memiliki faktor resiko tinggi
Timbulnya gejala akibat hipomagnesemia dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pada beberapa kasus, penderita hipomagnesemia tidak mengalami gejala, sehingga penyakit tidak terdeteksi sampai kondisi sudah berat. Umumnya, gejala yang diakibatkan hipomagnesemia berkaitan dengan sistem saraf dan sistem peredaran darah.Gejala awal yang dapat dialami oleh penderita hipomagnesemia meliputi:
  • Mual
  • Muntah
  • Rasa lemas dan lemah
  • Berkurangnya nafsu makan
Apabila hipomagnesemia tidak tertangani dengan baik atau bahkan tidak terdeteksi, menurunnya kadar magnesium dalam tubuh yang semakin drastis dapat menyebabkan gejala-gejala baru, diantaranya:
  • Sensasi mati rasa
  • Kejang, terutama pada anak-anak
  • Pergerakan mata yang tidak normal (nistagmus)
  • Kelelahan
  • Kram dan kejang otot
  • Denyut jantung tidak normal
Penyebab hipomagnesemia adalah rendahnya kadar magnesium dalam tubuh. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makanan yang mengandung magnesium, dan/atau adanya penurunan kinerja ginjal dan sistem pencernaan. Dengan kata lain, tubuh bisa kekurangan magnesium karena kurang asupan yang cukup, atau terlalu banyak magnesium yang dikeluarkan dalam urine. Keadaan ini dapat dipicu oleh kelaparan, kebiasaan mengonsumsi alkohol, serta diare dalam jangka waktu lama.Selain itu, hipomagnesemia juga sangat umum ditemukan pada pasien-pasien yang sedang dirawat di rumah sakit. Kekurangan magnesium bisa berkaitan dengan penyakit yang diderita, tindakan medis yang dilalui, serta efek dari obat yang dikonsumsi. Obat-obatan untuk kemoterapi, obat-obatan dengan toksisitas terhadap ginjal (amfoterisin B, cisplatin, siklosporin, aminoglikosida) atau penggunaan diuretik seperti thiazide dan loop diuretik dapat memicu terjadinya hipomagnesemia.Kondisi tubuh lainnya yang dapat meningkatkan risiko terhadap hipomagnesemia antara lain adalah:
  • Penyakit sistem pencernaan
Salah satu penyakit pencernaan yang bisa memicu hipomagnesemia adalah diare kronis, atau diare dalam jangka waktu yang cukup lama. Kondisi ini menyebabkan tubuh kekurangan nutrisi, termasuk magnesium. Selain itu, gangguan pencernaan lainnya seperti crohn’s disease atau penyakit celiac juga bisa memicu hipomagnesemia.
  • Diabetes tipe 2
Diabetes tipe 2 adalah penyakit tingginya kadar gula darah akibat pola hidup yang buruk. Tingginya kadar gula dalam darah dapat menyebabkan ginjal memproduksi lebih banyak urine, sehingga banyak magnesium yang terbuang bersama urine.
  • Ketergantungan pada alkohol
Ketergantungan pada alkohol memiliki banyak dampak buruk untuk tubuh, seperti penyakit liver (hati), gagal ginjal, urine yang bertambah banyak dan kurangnya asupan magnesium. Ketergantungan alkohol pun dapat menyebabkan komplikasi-komplikasi lain yang merusak tubuh.
  • Usia lanjut
Seiring dengan bertambahnya usia, usus semakin kesulitan untuk menyerap magnesium dengan baik. Individu berusia lanjut seringkali mengonsumsi lebih sedikit makanan kaya magnesium atau mengonsumsi obat-obatan yang dapat memengaruhi kadar magnesium di dalam tubuh. Hal ini dapat menyebabkan kurangnya kadar magnesium dalam tubuh para lansia.
Pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis hipomagnesemia berupa:
  • Pemeriksaan fisik terhadap gejala-gejala yang Anda alami, termasuk pemeriksaan riwayat kesehatan
  • Pemeriksaan darah untuk melihat kadar magnesium dalam darah. Kadar magnesium normal dalam darah adalah 1.8- 2.2 miligram per desiliter (mg/dL). Apabila kadar magnesium dalam darah di bawah 1.8 mg/dL, maka Anda dikategorikan menderita hipomagnesemia. Sementara itu, apabila kadar magnesium dalam darah di bawah 1.25 mg/dL, maka Anda dikategorikan menderita hipomagnesemia berat. Pemeriksaan darah juga dilakukan untuk melihat kadar kalsium dan potasium (kalium) dalam darah, karena umumnya hipomagnesemia disertai juga dengan kekurangan kalsium dan potasium.
  • Pemeriksaan urine untuk melihat kadar magnesium dalam urine. Tes ini dilakukan karena kadar magnesium dalam tubuh sebagian besar dikontrol oleh ginjal yang juga mengatur produksi urine dalam tubuh.
Penanganan hipomagnesemia bertujuan untuk meningkatkan kembali kadar magnesium dalam tubuh. Hal ini bisa dicapai dengan asupan magnesium dalam bentuk obat, suplemen ataupun makanan kaya magnesium.Bentuk Magnesium yang diberikan bisa dalam bentuk obat minum atau suntikkan. Umumnya, suntikkan diberikan apabila hipomagnesemia sudah parah atau penderita mengalami kejang.Selain pemberian suplemen magnesium, hal penting lain yang harus diperhatikan adalah pola makan yang baik dan memastikan tubuh menerima jumlah magnesium yang cukup. Makanan-makanan yang kaya akan magnesium seperti sayur-sayuran hijau, almond, kacang mede, kacang tanah, susu kacang kedelai, gandum, alpukat, pisang, serta salmon perlu dimasukkan dalam pola makan agar kadar magnesium dalam tubuh cukup.Berdasarkan rekomendasi The Institute of Medicine, orang dewasa harus mengkonsumsi 310-320 mg magnesium per hari untuk wanita dan 400-420 mg magnesium per hari untuk pria.

Komplikasi

Penanganan hipomagnesemia harus dilakukan dengan tepat. Jika tidak, penurunan kadar magnesium secara drastis dalam tubuh bisa menyebabkan komplikasi yang dapat berakibat fatal, yakni:
  • Terjadinya kejang
  • Denyut jantung tidak beraturan (arrhythmia)
  • Vasospasme arteri koroner
  • Kematian mendadak
Hipomagnesemia dapat dihindari dengan cara memperhatikan pola makan supaya kadar magnesium dalam tubuh dapat terjaga dengan baik. Konsumsi air atau minuman elektrolit serta makanan yang mengandung magnesium seperti alpukat, pisang, sayuran hijau, kacang-kacangan, serta susu dapat membantu memelihara kadar magnesium tetap normal.Jika Anda memiliki penyakit gangguan pencernaan seperti Crohn’s disease, menderita diabetes, atau mengonsumsi obat-obatan seperti diuretik, maka berkonsultasilah dengan dokter untuk memastikan kadar magnesium Anda tetap stabil dan normal.
Segera lakukan konsultasi dengan dokter apabila Anda merasa memiliki gejala-gejala yang mengarah pada hipomagnesemia, agar penyakit Anda bisa ditangani sebelum bertambah buruk dan menyebabkan komplikasi. Konsultasikan gejala-gejala yang Anda alami pada dokter yang tepat.Ketika Anda merasa ada masalah pada fungsi ginjal maupun urine Anda, silahkan lakukan konsultasi dengan dokter nefrologis, yakni dokter spesialis penyakit dalam dengan fokus pada masalah ginjal.Sementara itu, apabila Anda merasakan masalah pada jantung, segeralah berkonsultasi dengan dokter kardiologis, yakni dokter spesialis jantung. Penderita hipomagnesemia dengan penyakit jantung berisiko tinggi mengalami gangguan denyut jantung pada 24 jam pertama sejak gejala tersebut timbul.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait hipomagnesemia?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis hipomagnesemia agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Journal of American Society of Nephrology. https://jasn.asnjournals.org/content/20/11/2291#
Diakses pada 2 Juni 2021
Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/10-proven-magnesium-benefits#section3
Diakses pada 2 Juni 2021
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/000315.htm
Diakses pada 28 Desember 2020
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/2038394verview
Diakses pada 2 Juni 2021
MSD Manual. https://www.msdmanuals.com/professional/endocrine-and-metabolic-disorders/electrolyte-disorders/hypomagnesemia
Diakses pada 2 Juni 2021
National Institute of Health. https://ods.od.nih.gov/factsheets/Magnesium-HealthProfessional/
Diakses pada 2 Juni 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4062555/
Diakses pada 2 Juni 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email