Perut

Infeksi Usus

21 Apr 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Infeksi Usus
Penyebab infeksi usus kebanyakan ditularkan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Infeksi usus atau enterokolitis adalah penyakit radang usus yang disebabkan oleh mikroorganisme, seperti virus, bakteri, dan parasit. Biasanya, infeksi terjdi karena seseorang mengonsumsi makanan atau air yang sudah terkontaminasi.Tak hanya itu, kontak dengan orang yang telah terinfeksi juga bisa menjadi sarana penularan penyakit ini. Demikian pula dengan kontak dengan barang yang tercemar. Misalnya mainan, lap, dan peralatan makan.Bagi orang yang sehat, enterokolitis kemungkinan akan pulih dengan sendirinya dan tidak menimbulkan komplikasi. Namun untuk kalangan lanjut usia dan orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, penyakit ini mungkin saja membahayakan.Dalam memberantas penyakit ini, pencegahan adalah kunci utamanya. Pasalnya, infeksi usus (terutama akibat virus) tidak memiliki pengobatan yang efektif.Pencegahan yang optimal bisa dilakukan dengan menghindari makanan dan minuman yang terkontaminasi. Selain itu, mencuci tangan dengan sabun secara rutin wajib dilakukan. 

Jenis-jenis infeksi usus

Ada beberapa jenis infeksi usus atau enterokolitis, yang masing-masing memiliki gejala dan penyebab yang berbeda.
  • Enterokolitis nekrotikans

Enterokolitis nekrotikans terjadi karena adanya kematian jaringan di lapisan usus yang menyertai peradangan. Kondisi ini paling sering terjadi pada bayi prematur.
  • Enterokolitis terkait antibiotik

Enterokolitis juga bisa berkembang setelah pemberian antibiotik. Obat ini bisa jadi menyebabkan kematian massal pada bakteri baik.Akibatnya, tercipta lingkungan sempurna untuk bakteri jahat berkembang dan menyebabkan infeksi, seperti Clostridium difficile.
  • Enterokolitis pseudomembran

Enterokolitis pseudomembran melibatkan peradangan pada lapisan usus. Kondisi ini biasanya terjadi karena infeksi bakteri dan setelah seseorang minum antibiotik.Sebagian besar pengidap enterokolitis pseudomembran juga menderita enterokolitis terkait antibiotik. Namun tidak selalu demikian.
  • Enterokolitis hemoragik

Enterokolitis hemoragik adalah jenis peradangan lain yang terjadi karena infeksi bakteri. Strain tertentu dari bakteri E. coli menginfeksi usus, menghasilkan racun yang memicu masalah pada tubuh.Infeksi usus mungkin dapat menimbulkan risiko yang parah jika tidak diobati. Misalnya, bakteri masuk ke aliran darah dan menyebar serta merusak organ lain.Dalam kasus yang parah, penderita juga bisa mengalami sindrom uremik hemolitik. Penyakit ini akan meningkatkan risiko gagal ginjal, kerusakan saraf, dan stroke. 
Infeksi Usus
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaDiare, mual, sakit perut
Faktor risikoUsia, sistem imun lemah, musim tertentu
Metode diagnosisPemeriksaan feses, tes darah, kolonoskopi
PengobatanObat-obatan
ObatOralit, antibiotik
KomplikasiDehidrasi
Kapan harus ke dokter?Mengalami diare lebih dari enam kali per hari, demam tinggi, darah atau lendir pada feses
Beberapa gejala infeksi usus yang umumnya muncul meliputi:
Beberapa penderita mungkin mengalami gejala infeksi usus berupa munculnya darah di dalam feses. Kondisi ini bisa juga muncul dalam kasus infeksi yang biasa dikenal dengan disentri.BAB berdarah bisa disebabkan bakteri atau parasit. Namun hal ini mungkin menandakan adanya sesuatu yang serius dalam tubuh Anda. 
Penyebab infeksi usus bisa berupa virus, bakteri, atau parasit lain di bawah ini:

Virus

  • Norovirus
Norovirus bisa menyebabkan gastroenteritis.
  • Rotavirus
Rotavirus merupakan kelompok virus yang sering menginfeksi bayi dan anak-anak. Penularannya juga sangat mudah, yaitu melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi muntahan atau tinja penderita.
  • Adenovirus
Gejala yang paling umum dari infeksi adenovirus adalah gangguan pernapasan. Namun virus ini juga bisa emicu diare, demam, konjungtivitis, infeksi kandung kemih, dan ruam.

Bakteri

  • Clostridium perfringens
Clostridium perfringens merupakan penyebab umum dari keracunan makanan. Gejalanya akan muncul dengan cepat dan berkurang atau hilang dalam waktu 24 jam.
  • Campylobacter jejuni
Campylobacter jejuni sering dikaitkan dengan memakan daging ayam dan susu yang sudah terkontaminasi. Bakteri ini sering menginfeksi anak-anak (terutama di usia dua tahun ke bawah), lansia, dan pengidap malnutrisi.
  • Salmonella
Salmonella umummnya ditularkan melalui makanan, terutama daging, telur, ayam, seafood, dan susu. Gejalanya meliputi diare, demam, dan sakit perut yang timbul antara 12-72 jam setelah konsumsi makanan yang sudah tercemar.
  • Shigella
Shigella paling sering ditemukan di negara berkembang. Gejala infeksinya bisa berupa sakit perut, muntah, diare berdarah, dan disertai lendir.
  • E. coli
E. coli merupakan penyebab paling umum dari diare wisatawan.
  • Helicobacter pylori
H. pylori merupakan penyebab infeksi usus yang terkait dengan tukak pada lambung dan usus 12 jari. Pada kebanyakan kasus, infeksi ini tidak bergejala.
  • Staphylococcus aureus
Staphylococcus aureus adalah bakteri yang paling sering memicu keracunan makanan. Biasanya, kondisi ini ditandai dengan serangan mendadak yang hebat seperti mual, kram, muntah, dan diare selama 1 hingga 2 hari.
  • Yersinia enterocolitica
Y. enterocolitica adalah penyebab diare dan sakit perut yang jarang. Bakteri ini biasanya menginfeksi produk daging mentah atau setengah matang. Kontaminasi bisa juga terjadi pada es krim dan susu.

Parasit

  • Giardia lamblia
Giardia lamblia paling sering ditemukan pada pelancong yang mengalami diare kronis.
  • Kriptosporidiosis
Parasit ini disebarkan melalui makanan atau air yang terkontaminasi.
  • Amoebiasis
Amoebiasis merupakan parasit yang kerap menyerang kalangan dewasa muda. 

Faktor risiko infeksi usus

Beberapa faktor risiko infeksi usus yang sebaiknya diwaspadai antara lain:
  • Anak-anak

Anak-anak lebih berisiko menderit infeksi usus karena sistem kekebalannya belum berkembang dengan sempurna.
  • Lansia

Sistem kekebalan orang lansia cenderung menurun, sehingga mereka lebih rentan untuk mengalami infeksi usus.
  • Tempat umum

Kerumunan dapat menjadi lingkungan penularan infeksi usus. Misalnya, di sekolah, tempat ibadah, kantor, atau asrama.
  • Orang dengan sistem imun lemah

Jika daya tahan tubuh lemah, risiko infeksi akan meningkat, termausk infeksi usus. Misalnya pada penderita HIV/AIDS, orang yang menjalani kemoterapi, atau orang yang menggunakan imunosupresan. 
Untuk memastikan diagnosis infeksi usus dan menentukan jenisnya, dokter bisa melakukan beberapa langlah pemeriksaan di bawah ini:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala, faktor risiko, serta riwayat penyakit pasien.
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan memeriksa tubuh pasien untuk mencari tanda-tanda infeksi usus.
  • Pemeriksaan tinja

Pemeriksaan sampel tinja bertujuan mengetahui ada tidaknya struktur tinja yang abnormal dan menemukan mikroorganisme penyebab infeksi.
  • Tes darah

Tes darah dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya tanda-tanda infeksi.
  • Kolonoskopi

Kolonoskopi bertujuan melihat kondisi bagian dalam dari saluran pencernaan. Prosedur ini biasanya dilakukan jika pasien mengalami gejala yang berat guna menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit pencernaan lain 
Secara umum, pengobatan infeksi usus ditujukkan untuk mencegah dehidrasi dan mempertahankan nutrisi. Oleh karena itu, saat terserang penyakit ini, pasien perlu mengonsumsi banyak air dan makan makanan yang lunak.Untuk konsumsi air, dapat ditambahkan dengan oralit (dapat dibuat di rumah dengan mencampurkan satu sendok teh gula dan setengah sendok teh garam ke dalam satu liter air). Makanan yang perlu dihindari adalah yang mengandung susu, makanan berlemak, dan alkohol karena dapat memperparah diare.Terapi spesifik untuk infeksi usus tergantung penyebabnya. Jika infeksi disebabkan oleh virus, biasanya tidak ada terapi spesifik yang diberikan. Sementara itu, infeksi bakteri membutuhkan antibiotik dengan pilihan jenis antibiotik tergantung dengan jenis bakteri penyebab.Obat yang biasanya digunakan untuk infeksi usus adalah fluorokuinolon, metronidazole, azitromisin, dan trimethoprim-sulfamethoxazole. Untuk infeksi parasit, biasanya akan diberikan obat antiparasit. 

Komplikasi infeksi usus

Komplikasi infeksi usus, terutama yang disebabkan oleh virus, adalah dehidrasi. Kondisi ini terjadi karena tubuh pasien kehilangan banyak air, garam, serta mineral penting.Pada penderita dengan gejala ringan, mencukupi cairan tubuh dapat dilakukan untuk mencegah dehidrasi. Namun pada bayi, manula, dan orang dengan sistem imun lemah, dehidrasi bisa menjadi masalah yang serius.Jika dehidrasi sudah parah, rawat inap mungkin diperlukan agar cairan tubuh dapat diganti melalui infus. Meski jarang, dehidrasi juga dapat berakibat fatal jika terus dibiarkan. 
Karena penyebab infeksi usus kebanyakan ditularkan melalui makanan, maka perilaku hidup sehat diperlukan untuk mencegah infeksi usus, seperti:
  • Mencuci tangan, terutama sebelum makan
  • Disinfeksi benda-benda yang terkontaminasi (misalnya permukaan meja yang sebelumnya terkontaminasi dengan muntahan anak)
  • Mencuci bahan makanan yang akan dimasak hingga bersih
  • Memasak makanan hingga matang, terutama daging dan telur
  • Saat bepergian ke negara berkembang, selalu minum dari air mineral kemasan
  • Hindari kontak dekat dengan penderita infeksi usus
  • Infeksi rotavirus dapat dicegah dengan vaksin
 
Anda disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gejala-gejala seperti di bawah ini: 
  • Gejala berat, seperti diare lebih dari enam kali sehari, sakit perut yang parah
  • Diare berkepanjangan, yakni lebih dari dua hari
  • Demam tinggi
  • Darah atau lendir pada tinja
  • Gejala dehidrasi, seperti rasa haus berlebihan dan frekuensi buang air kecil berkurang atau jumlah urine yang lebih sedikit
 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami oleh pasien. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh pasien.
  • Catat riwayat perjalanan yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan pasien?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait infeksi usus?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis infeksi usus agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Health Direct. https://www.healthdirect.gov.au/infections-of-the-bowel
Diakses pada 26 Desember 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/viral-gastroenteritis/diagnosis-treatment/drc-20378852
Diakses pada 26 Desember 2018
UHN. https://universityhealthnews.com/daily/digestive-health/intestinal-infection-three-common-causes-two-treatment-options
Diakses pada 26 Desember 2018
Biomerieux. https://www.biomerieux-diagnostics.com/gastrointestinal-infections
Diakses pada 26 Desember 2018
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email