Mata

Iridosiklitis

23 Dec 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Iridosiklitis
Iridosiklitis adalah peradangan pada lapisan tengah mata (uvea), tepatnya bagian iris mata dan badan siliar. Iridosiklitis disebut juga uveitis anterior karena peradangan terjadi di bagian depan (anterior) uvea.Iris adalah bagian mata yang berwarna dan berfungsi mengontrol jumlah cahaya yang masuk ke mata melalui pupil (lingkaran hitam di tengah iris). Jika peradangan terjadi pada iris saja, kondisi ini disebut dengan iritis.Berdekatan dengan iris, terdapat badan siliaris yang mengelilingi lensa mata. Badan siliaris berfungsi untuk mengatur bentuk lensa dan mengeluarkan cairan yang disebut aqueous humor yang memberikan nutrisi bagi mata.  Jika terjadi peradangan, fungsi iris dan badan siliaris pun dapat terganggu. Kondisi ini bisa menyebabkan mata memerah, nyeri, penglihatan terganggu, hingga yang paling parah menyebabkan kebutaan.Iridosiklitis bisa terjadi secara tiba-tiba dan memburuk dengan cepat (akut) atau jadi kronis dengan gejala yang hilang timbul. Kondisi ini dapat mempengaruhi satu atau kedua mata dari berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak.Meski begitu, sebagian besar kasus iridosiklitis biasanya hanya menimbulkan gejala yang ringan dan bersifat sementara. Umumnya, penyakit ini akan hilang dalam beberapa hari atau minggu. 
Iridosiklitis
Dokter spesialis Mata
GejalaMata merah, nyeri, bengkak, penglihatan kabur
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tonometri, slit lamp
PengobatanObat-obatan dan tindakan medi
ObatKortikosteroid, antibiotik, imunosupresan
KomplikasiEdema makula, glaukoma, katarak
Kapan harus ke dokter?Mata terasa nyeri dan penglihatan terganggu
Beberapa gejala iridosiklitis yang mungkin muncul, antara lain:
  • Mata merah
  • Sakit mata
  • Mata membengkak
  • Penglihatan kabur
  • Sensitif terhadap cahaya
  • Bintik-bintik gelap dan mengambang di bidang penglihatan (floaters)
  • Kehilangan penglihatan dapat terjadi, (jarang) 
Baca jawaban dokter: Apakah penyebab sakit kepala dan sakit mata saat melihat cahaya?
Penyebab spesifik uveitis belum diketahui secara pasti dan sering kali tidak dapat diidentifikasi. Namun, setiap kondisi yang menyebabkan kerusakan atau peradangan pada iris atau badan siliaris dapat menyebabkan uveitis anterior. Meski tidak selalu, dan bahkan beberapa di antaranya sangat jarang terjadi, ada beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko Anda mengalami iridosiklitis, seperti:
  • Infeksi virus, bakteri, atau jamur
  • Gangguan autoimun, seperti lupus eritematosus sistemik adalah gangguan autoimun yang dapat mempengaruhi beberapa bagian tubuh
  • Penyakit yang melemahkan sistem imun, seperti HIV/AIDS.
  • Ankylosing spondylitis, yaitu peradangan pada sendi tulang belakang
  • Sarkoidosis, peradangan yang muncul di paru-paru, kelenjar getah bening, mata, dan kulit
  • Penyakit Crohn, peradangan yang terjadi di dalam pencernaan, mulai dari mulut hingga anus
  • Kolitis ulseratif atau peradangan usus besar
  • Efek samping obat, seperti diethylcarbamazine, kuinidin, rifabutin, streptokinase, sulfonamida, dan beberapa obat kontrasepsi minum.
  • Cedera mata atau tindakan medis di area mata seperti operasi
  • Kanker yang mempengaruhi mata, seperti limfoma (sangat jarang).
Dalam mendiagnosis iridosiklitis, dokter spesialis mata akan mengumpulkan riwayat kesehatan pasien dan melakukan pemeriksaan mata lengkap. Beberapa pemeriksaan mata yang dilakukan untuk mengecek uveitis anterior, antara lain:
  • Penilaian penglihatan dan respons pupil terhadap cahaya.
  • Pemeriksaan tonometri untuk mengukur tekanan di dalam mata (tekanan intraocular).
  • Pemeriksaan slit lamp. Alat ini bertindak seperti mikroskop yang dapat memperbesar dan menerangi bagian depan mata dengan garis cahaya. Evaluasi ini diperlukan untuk mengidentifikasi sel-sel mata yang meradang.
  • Pemeriksaan oftalmoskopi (funduskopi), pemeriksaan ini melibatkan pelebaran atau dilatasi pupil dengan obat tetes mata dan penyinaran mata dengan cahaya terang untuk memeriksa bagian belakang mata.
  • Fotografi warna bagian dalam mata (retina).
  • Pencitraan tomografi koherensi optik (OCT) untuk mendeteksi sel yang meradang dengan mengukur ketebalan retina dan koroid.
  • Angiografi mata (fluorescein). Tes ini melibatkan pemberian zat warna lewat pembuluh darah lengan yang akan menyebar ke mata. Pewarna tersebut dapat menghasilkan pencitraan pembuluh darah mata yang lebih jelas.
  • Analisis cairan berair atau vitreous dari mata.
  • Tes darah.
  • Tes pencitraan, radiografi, CT atau MRI scan.
Jika dokter spesialis mata menemukan penyebab iridosiklitis adalah penyakit atau kondisi lain yang tidak berhubungan langsung dengan mata, pasien mungkin akan dirujuk ke dokter lain untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan diberikan terapi yang sesuai. 
Sebagian kasus iridosiklitis dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari. Namun, jika disebabkan oleh infeksi atau kondisi tertentu, Anda perlu mengobati penyebabnya lebih dulu.Umumnya penanganan iridosiklitis meliputi terapi berupa obat-obatan untuk mengurangi rasa sakit, sensitivitas terhadap cahaya (fotofobia), meredakan peradangan, dan pencegahan komplikasi, seperti sinekia (melekatnya iris pada lensa), katarak sekunder, serta glaukoma. Beberapa obat yang digunakan, mencakup:

Obat-obatan

1. AntiperadanganKortikosteroid digunakan untuk meredakan peradangan akibat iridosiklitis. Obat ini dapat diberikan dalam bentuk obat tetes atau oles. Namun, jika kondisi mata pasien tidak memadai, pemberian obat diberikan secara oral (diminum) atau suntik.Beberapa jenis obat yang mungkin diresepkan, antara lain:
  • Prednisolon asetat 0,125& dan 1%
  • Betametason 1%
  • Deksametason natrium fosfat 0,1% (tersedia dalam bentuk salep 0,05%)
  • Fluorometholon 0,1% dan 0,25% (tersedia dalam bentuk salep 0,1%)
  • Lateprednol
  • Rimexolone 1%
2. Antispasmodik (relaksan otot)Obat ini biasanya diberikan dalam bentuk tetes mata yang bekerja dengan cara melebarkan pupil. Tujuannya untuk dapat mengontrol gerakan tak terkendali pada iris dan badan siliaris. Hal ini bisa membantu meredakan nyeri yang dirasakan3. Antibiotik atau antivirusJika peradangan disebabkan oleh infeksi bakteri, dokter akan meresepkan antibiotik untuk mengobatinya. Apabila disebabkan oleh infeksi virus, dokter bisa saja memberikan antivirus.4. Obat imunosupresanImunosupresan adalah golongan obat yang dapat mengendalikan sistem imun (imunomodulator) yang menyerang jaringan sehat tubuh, seperti pada lupus. Jenis obat ini biasanya diperlukan jika iridosiklitis memengaruhi kedua mata, tidak berhasil diobati dengan kortikosteroid atau kondisinya sudah cukup parah.

Tindakan medis

Pembedahan terkadang diperlukan pada kasus iridosiklitis dengan indikasi berikut:
  • Kasus iritis akut yang sangat parah, bahkan antinyeri injeksi pun tidak dapat meredakan rasa sakit dan peradangan yang terjadi.
  • Terjadi komplikasi yang menyebabkan perubahan struktur mata
  • Iridosiklitis kronis yang parah, menyebabkan peningkatan tekanan di bola dalam mata 
Beberapa tindakan bedah dan prosedur lain yang dapat dilakukan, yaitu:
  • Vitrektomi, yakni pembedahan untuk mengangkat sebagian cairan pengisi mata (vitreous).
  • Implan obat yang ditanamkan di mata pasien. Obat ini bekerja dengan melepaskan kortikosteroid ke dalam mata secara perlahan dalam jangka dua hingga tiga tahun.
Baca juga: Pilihan Obat Mata Bengkak yang Tepat Sesuai Penyebabnya

Komplikasi

Jika tidak diobati, iridosiklitis dapat menyebabkan komplikasi, termasuk:
Tidak ada cara spesifik untuk mencegah iridosiklitis. Hal yang terpenting adalah dengan menjaga kesehatan mata Anda secara umum.Mencari pengobatan yang tepat untuk penyakit autoimun atau infeksi dapat membantu mencegah iridosiklitis berkembangMenghindari penyebab cedera mata, makan-makanan bernutrisi dan berhenti merokok juga dapat mengurangi risiko terkena penyakit mata.
Jika ditemukan gejala-gejala yang mengarah ke iridosiklitis, seperti mata terasa sakit dan penglihatan kabur, segeralah pergi ke dokter.Apabila Anda memiliki kekhawatiran atau pertanyaan lain, anda dapat menghubungi dokter mata terdekat.  
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter. 
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait iridosiklitis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis iridosiklitis agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Kids Health. https://kidshealth.org/PrimaryChildrens/en/parents/az-iridocyclitis.html
Diakses pada 15 Desember 2021
Medicine. https://www.medicine.com/condition/iridocyclitis
Diakses pada 15 Desember 2021
Indian Journal of Opthalmology. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2841369/
Diakses pada 15 Desember 2021
Jama Opthalmology. https://jamanetwork.com/journals/jamaophthalmology/article-abstract/610853
Diakses pada 15 Desember 2021
Vision and Eye Health. https://www.vision-and-eye-health.com/uveitis-prevention.html
Diakses pada 15 Desember 2021
MayoClinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/uveitis/symptoms-causes/syc-20378734
Diakses pada 15 Desember 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email