Psikologi

Katatonia

19 May 2021 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Katatonia
Katatonia adalah suatu gangguan medis psikomotor, artinya keadaan yang melibatkan hubungan antara fungsi mental dan gerakan tubuh. Katatonia mempengaruhi kemampuan seseorang untuk bergerak dengan normal.Pasien dengan katatonia dapat mengalami banyak gejala. Gejala paling umum adalah stupor yang ditandai dengan ketidakmampuan seseorang untuk bergerak, berbicara, atau merespon rangsangan. Akan tetapi, beberapa pasien dengan katatonia juga dapat mengalami gerakan berlebihan dan gelisah.Katatonia dapat berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa minggu, bulan, atau bahkan tahun. Kondisi ini dapat berulang kembali dalam beberapa minggu hingga tahun dari gejala yang pertama muncul.Katatonia yang muncul karena penyebab yang jelas dikenal dengan sebutan katatonia ekstrinsik, sementara bila penyebabnya tidak diketahui dikenal dengan katatonia intrinsik. 

Jenis-jenis katatonia

Katatonia secara umum dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu retarded catatonia, excited catatonia, dan katatonia maligna.
  • Retarded catatonia

Retarded catatonia adalah jenis katatonia yang paling umum dan ditandai dengan gerakan tubuh yang lambat. Pasien dengan retarded catatonia seringkali menatap nanar ke langit-langit dan tidak berbicara. Retarded catatonia dikenal juga dengan sebutan katatonia akinetik.
  • Excited catatonia

Pasien dengan excited catatonia tampak gelisah dan tidak bisa diam. Pasien dapat terlibat dalam perilaku melukai diri. Kondiis ini dikenal juga dengan nama katatonia hiperkinetik.
  • Katatonia maligna

Pasien dengan katatonia maligna dapat mengalami delirium dan demam. Pasien juga dapat mengalami jantung berdebar dan tekanan darah tinggi. 
Katatonia
Dokter spesialis Jiwa, Psikolog
GejalaStupor, katalepsi, posturing
Faktor risikoJenis kelamin perempuan, berusia lanjut, memiliki penyakit jiwa
Metode diagnosisBush-Francis Catatonia Rating Scale (BFCRS), pemeriksaan darah, pemeriksaan pencitraan
PengobatanObat-obatan, electroconvulsive therapy (ECT)
ObatBenzodiazepines, pelemas otot, antidepresan trisiklik
KomplikasiDehidrasi, malnutrisi, trombosis vena dalam
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala katatonia
Gejala katatonia tergantung pada jenisnya. Berikut penjelasannya.

Retarded catatonia

Retarded catatonia terdiri atas banyak gejala, seperti:
  • Stupor, yaitu keadaan di mana seseorang tidak dapat bergerak, berbicara, dan tampak menatap nanar ke langit-langit.
  • Posturing atau waxy flexibility, suatu keadaan ketika seseorang berada pada posisi yang sama dalam waktu lama.
  • Dehidrasi dan kurang gizi karena makan dan minumnya sedikit.
  • Ekolalia, yaitu merespon percakapan dengan mengulang kata-kata yang didengar.
  • Katalepsi, yaitu kaku otot.
  • Negativisme, yaitu berkurangnya respon terhadap rangsangan dari luar.
  • Mutisme, yaitu diam dan tidak berbicara.
  •  

Excited catatonia

Gejala excited catatonia meliputi gerakan yang berlebih dan tidak biasa. Misalnya gelisah, tidak bisa diam, dan gerakan yang tidak bermakna.

Katatonia maligna

Katatonia maligna ditandai dengan gejala yang parah, seperti:
  • Delirium
  • Demam
  • Kaku
  • Berkeringat
Tanda-tanda vital seperti tekanan darah, laju napas, dan denyut jantung dapat meningkat. Gejala katatonia maligna membutuhkan penanganan segera. 
Penyebab katatonia dapat berupa:
  • Penyakit atau kondisi medis tertentu

Gangguan perkembangan sistem saraf, penyakit psikotik, bipolar, depresi, dan kondisi medis lain seperti penyakit autoimun, defisiensi asam folat otak, dan kanker dapat menyebabkan kondisi ini.
  • Obat-obatan

Katatonia dapat menjadi efek samping obat-obatan yang digunakan untuk mengobati penyakit jiwa. Bila Anda mencurigai obat menjadi penyebab katatonia, segera cari pertolongan medis segera karena kondisi ini termasuk gawat darurat.Penghentian obat seperti klozapin juga dapat menyebabkan katatonia.
  • Kelainan otak

Pemeriksaan pencitraan menunjukkan bahwa pasien dengan katatonia kronis memiliki kelainan pada otak. Berlebih atau kurangnya neurotransmitters (zat kimia pada otak) dapat menyebabkan katatonia. Misalnya dopamin atau gamma-aminobutyric acid (GABA). 

Faktor risiko katatonia

Faktor risiko terjadinya katatonia dapat berupa:
  • Jenis kelamin perempuan
  • Usia lanjut
  • Memiliki penyakit jiwa (psikiatri)
  • Penyalahgunaan kokain
  • Mengalami depresi postpartum
  • Rendahnya kadar garam (natrium) dalam darah
  • Penggunaan obat seperti ciprofloxacin
Tidak ada pemeriksaan khusus untuk mendiagnosis katatonia. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lainnya perlu dilakukan untuk menyingkirkan penyebab lainnya.Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain:
  • Bush-Francis Catatonia Rating Scale (BFCRS)

Pemeriksaan ini sering digunakan untuk mendiagnosis katatonia. Skala ini memiliki 23 komponen yang diberi skor 0 sampai 3. Skor 0 berarti gejalanya tidak ada, sementara skor 3 berarti terdapat gejala.
  • Pemeriksaan darah

Pemeriksaan darah dapat membantu mendeteksi gangguan elektrolit yang dapat menyebabkan gangguan fungsi mental. Emboli paru atau gumpalan darah di paru-paru dapat menyebabkan gejala katatonia, yang dapat dideteksi kadar d-dimer darah yang meningkat.
  • Pemeriksaan pencitraan

Pemeriksaan pencitraan seperti CT scan atau MRI dapat membantu dokter melihat kondisi otak. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi adanya tumor atau pembengkakan otak. 
Pengobatan katatonia dapat dilakukan dengan obat-obatan atau electroconvulsive therapy (ECT).

Obat-obatan

Obat-obatan adalah cara mengobati katatonia yang paling awal. Jenis obat yang dapat digunakan antara lain:
  • Benzodiazepines
  • Pelemas otot
  • Antidepresan trisiklik
Selain itu, obat seperti amobarbital, bromokriptin, karbamazepin, litium, hormon tiroid, dan zolpidem juga dapat disarankan tergantung pada kondisi pasien. Setelah 5 hari, bila tidak ada respon terhadap terapi atau gejala memburuk dokter akan merekomendasikan terapi lainnya.

Electroconvulsive therapy (ECT)

Electroconvulsive therapy adalah pengobatan yang efektif untuk katatonia. Terapi ini dilakukan di rumah sakit di bawah pengawasan tenaga medis. Pada prosedur ini, mesin khusus akan mengirimkan kejut listrik pada pasien yang sudah terbius. Hal ini memicu terbentuknya kejang pada otak dalam semenit.Kejang ini dipercaya menyebabkan perubahan jumlah neurotransmitter otak yang dapat memperbaiki gejala katatonia. 

Komplikasi katatonia

Komplikasi katatonia disebabkan oleh imobilitas dan ketidakmauan pasien untuk makan atau minum. Komplikasi tersebut dapat berupa:
  • Dehidrasi
  • Malnutrisi
  • Trombosis vena dalam
  • Emboli paru
  • Pneumonia dan infeksi lainnya
  • Pressure ulcers
  • Kontraktur otot
 
Karena penyebab pastinya tidak diketahui, cara mencegah katatonia juga tidak ada. Akan tetapi, pasien dengan katatonia perlu menghindari penggunaan obat-obatan psikiatri berlebihan seperti chlorpromazine. Penyalahgunaan obat dapat memperparah gejala katatonia. 
Berkonsultasilah dengan dokter apabila Anda mengalami gejala katatonia. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
Anda juga dapat meminta keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter. 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait katatonia?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis katatonia. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/catatonia
Diakses pada 19 Mei 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5183991
Diakses pada 19 Mei 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email