Penyakit Lainnya

Keluar Lendir Campur Darah Setelah Berhubungan Seksual

30 Sep 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Keluar Lendir Campur Darah Setelah Berhubungan Seksual
Keluar lendir campur darah setelah berhubungan seksual biasanya tidak berbahaya
Kondisi yang terjadi ketika keluar lendir campur darah setelah berhubungan seksual diistilahkan sebagai perdarahan pasca koitus (post coital bleeding). Kondisi ini dapat terjadi saat begitu selesai berhubungan hingga 24 jam setelah berhubungan seksual.Lendir bercampur darah ini bisa berupa bercak atau tetesan darah yang cukup banyak sehingga menggenang. Warna yang terlihat dapat berwarna merah muda atau merah terang. Munculnya darah tersebut bisa disebabkan oleh berbagai hal.Di samping siklus menstruasi yang terjadi saat tengah berhubungan seksual, darah yang dihasilkan biasanya menandakan adanya gesekan yang membuat bagian vagina terluka atau kondisi kesehatan lainnya.Secara anatomi, sistem reproduksi wanita dapat dibagi menjadi bagian atas dan bawah:
  • Bagian atas termasuk tubuh rahim, saluran tuba dan ovarium. Perdarahan selama menstruasi terjadi ketika lapisan rahim meluruh sebagai bagian dari siklus bulanan yang normal terjadi.
  • Bagian bawah sistem reproduksi wanita meliputi leher rahim (serviks), vagina, serta vulva dan labia, yang berada di bagian terluar vagina. Bagian inilah yang biasanya terlibat dalam perdarahan pasca koitus.
Perdarahan ringan setelah berhubungan seksual yang sesekali terjadi biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Pasalnya, banyak wanita mengalami keluar lendir campur darah dari vagina mereka setelah berhubungan seksual. Menurut statistik, sekitar 63 persen wanita yang telah menopause sering kali mengalami kondisi ini. Sedangkan pada wanita yang belum menopause atau masih mengalami menstruasi, jumlahnya mencapai 9 persen.Akan tetapi, pada beberapa kasus, keluarnya darah setelah berhubungan seksual juga dapat menjadi pertanda penyakit tertentu. Terlebih jika disertai dengan gejala lain atau frekuensi terjadinya cukup sering. Mengetahui penyebabnya adalah langkah utama untuk mendapatkan perawatan yang paling tepat.
Sejumlah kondisi berikut dapat menjadi penyebab keluarnya  lendir campur darah setelah berhubungan seksual, antara lain:

1. Infeksi

Beberapa jenis infeksi dapat menyebabkan peradangan pada jaringan-jaringan dalam vagina, yang juga dapat menimbulkan terjadinya perdarahan. Jenis-jenis infeksi yang dimaksud yaitu:

2. GSM (genitourinary syndrome of menopause)

Kondisi ini sering dialami oleh wanita yang sudah mengalami menopause, juga oleh wanita yang ovariumnya (indung telur) telah diangkat. Pada kondisi tersebut, produksi hormon estrogen akan terus menurun.Hormon estrogen ini bertugas untuk mengatur sistem reproduksi manusia, dan saat jumlahnya berkurang, vagina dapat menjadi kering dan rentan mengalami peradangan. Selain itu, vagina juga menjadi kurang elastis sehingga lebih berisiko untuk mengalami perdarahan setelah berhubungan seksual.

3. Vagina kering

Selain disebabkan oleh kondisi GSM tadi, vagina kering juga dapat terjadi karena disebabkan oleh:
  • Sedang menyusui
  • Baru melahirkan
  • Ovarium telah diangkat
  • Obat-obatan tertentu seperti obat flu, obat asma, beberapa jenis obat antidepresan, dan obat anti-estrogen.
  • Kemoterapi dan terapi radiasi
  • Melakukan hubungan seksual sebelum merasa terangsang
  • Douching, metode membersihkan vagina dengan menyemprotkan cairan dari campuran berbagai bahan kimia pada vagina.
  • Bahan-bahan kimia pada produk-produk kebersihan bagi wanita, pada deterjen, atau pada kolam renang.
  • Sindrom Sj√∂gren, kondisi peradangan pada sistem imun yang mengurangi kelembaban dari kelenjar-kelenjar di tubuh.

4. Polip serviks atau polip rahim

Pada kondisi ini, tumbuh jaringan abnormal dalam tubuh, tepatnya di bagian serviks atau pada lapisan endometrium di rahim. Polip tersebut dapat bergerak dan gerakan ini dapat menyebabkan iritasi pada jaringan sekitarnya sehingga menyebabkan perdarahan pada pembuluh-pembuluh darah kecil di area tersebut.  

5. Sobekan pada vagina

Hubungan seksual yang kasar dapat menyebabkan sobekan atau goresan kecil pada vagina. Kondisi ini lebih sering dialami oleh wanita yang vaginanya kering dikarenakan menopause atau menyusui.

6. Ektropi serviks

Ektropi serviks terjadi saat sel-sel kelenjar dalam leher rahim tumbuh di luar serviks. Akibatnya, perdarahan dapat terjadi dengan mudah.

7. Kanker

Keluarnya lendir bercampur darah setelah berhubungan dapat pula menjadi pertanda adanya kanker. Hal ini dikarenakan banyaknya penderita kanker serviks atau kanker vagina yang melaporkan bahwa mereka mendapati adanya darah setelah berhubungan.
Meski keluarnya lendir bercampur darah setelah berhubungan umumnya bukan kondisi yang mengkhawatirkan. Akan tetapi, segera konsultasikan pada dokter apabila Anda memiliki faktor risiko sebagai berikut:
  • Penderita kanker serviks, vagina, atau kanker rahim
  • Sedang mengalami menopause atau setelah mengalami menopause
  • Baru melahirkan atau sedang menyusui
  • Tidak terangsang sebelum melakukan hubungan seksual
  • Sering melakukan douching
Anda juga mesti segera menghubungi dokter jika selain mengalami perdarahan pada vagina, terasa gejala lain, seperti:
  • Muncul sensasi gatal atau panas pada vagina
  • Ada sensasi terbakar saat kencing
  • Terasa nyeri pada perut dan punggung bagian bawah
  • Merasa mual atau muntah
  • Keluar lendir berwarna kuning atau hijau yang mengeluarkan bau tidak sedap
  • Darah keluar dalam jumlah banyak dari vagina
Healthline. https://www.healthline.com/health/womens-health/bleeding-after-sex#risk-factors
diakses pada 22 Juni 2021
Health Navigator. https://www.healthnavigator.org.nz/health-a-z/b/bleeding-after-sex/
diakses pada 22 Juni 2021
Verywellhealth. https://www.verywellhealth.com/postcoital-bleeding-3947657
diakses pada 22 Juni 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email