Kepala

Koma

08 Sep 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Koma
Penderita koma tetap hidup, namun tidak sadarkan diri
Kondisi koma akan membuat para penderitanya tidak sadarkan diri dan mengalami aktivitas otak yang sangat sedikit. Mereka hidup namun tidak dapat dibangunkan dan tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran.Mata seseorang yang koma akan tertutup dan tidak responsif terhadap lingkungan. Beberapa kasus koma memerlukan mesin untuk membantu pernapasan.Seiring berjalannya waktu, penderita koma akan secara bertahap akan kembali kesadarannya. Beberapa pasien akan sadar setelah beberapa minggu. Sementara itu, yang lain memerlukan waktu lebih lama. 
Koma
Dokter spesialis Jantung, Saraf
GejalaMata tertutup, pupil yang tidak merespons cahaya, tidak ada respons anggota tubuh kecuali gerakan refleks
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah lengkap, pencitraan
PengobatanRawat inap di ICU
KomplikasiCacat, infeksi, kematian
Kapan harus ke dokter?Koma termasuk darurat medis, jadi segera bawa pasien ke rumah sakit
Pada umumnya, gejala koma meliputi:
  • Mata tertutup
  • Depresi batang otak
  • Pupil yang tidak merespons cahaya
  • Tidak ada respons anggota tubuh kecuali gerakan refleks
  • Tidak ada respons terhadap rangsangan yang menyakitkan, kecuali untuk gerakan refleks
  • Pernapasan yang tidak teratur
 
Terdapat berbagai macam penyebab koma. Beberapa di antaranya meliputi:
  • Cedera otak traumatis
  • Stroke, kekurangan aliran darah ke otak
  • Tumor
  • Diabetes
  • Kekurangan oksigen, seperti akibat tenggelam
  • Infeksi seperti meningitis atau encefalitis
  • Kejang
  • Paparan racun
  • Konsumsi narkoba dan alkohol
 
Untuk menentukan diagnosis koma dan penyebabnya, dokter bisa melakukan beberapa metode pemeriksaan berikut:

Tanya jawab

Dokter membutuhkan informasi dari pengantar pasien koma mengenai beberapa hal. Contohnya, kejadian sebelum koma, tanda dan gejala penyerta, riwayat penyakit dan obat-obatan pasien.

Pemeriksaan fisik

Dokter akan melakukan tes gerakan, refleks, respons terhadap nyeri, dan ukuran pupil pasien.

Tes darah lengkap

Pemeriksaan laboratorium akan dilakukan melalui tes darah lengkap. Langkah ini bertujuan mengetahui ada tidaknya potensi penyalahgunaan obat-obatan, keracunan karbon monoksida, serta kondisi fungsi ginjal, fungsi hati, kadar elektrolit, kadar gula darah, dan kadar hormon tiroid dalam tubuh pasien.

Pencitraan

Pemeriksaan pencitraan juga dapat dilakukan. Misalnya, CT scan, elektroensefalografi (EEG), dan MRI.

 

Glasow Coma Scale

Dokter akan menilai tingkat kesadaran pasien dengan Glasgow coma scale. Tingkat koma akan terus dipantau untuk mengetahui tanda-tanda perbaikan maupun pemburukan kondisi pasien. Skala ini menilai tiga hal berikut:
  • Pembukaan mata

Skor 1 berarti tidak membuka mata, dan 4 berarti membuka mata secara spontan.
  • Respons verbal terhadap suatu perintah

Skor 1 berarti tidak ada respons, dan skor 5 berarti siaga dan mampu berbicara.
  • Gerakan sukarela sebagai tanggapan atas perintah

Skor 1 berarti tidak ada respon dan skor 6 berarti mematuhi perintah.Kebanyakan penderita koma akan memiliki skor total 8 atau kurang. Semakin rendah skor ini, semakin parah pula kerusakan otak yang terjadi dan semakin kecil kemungkinan pasien untuk pulih. 
Penanganan koma harus dilakukan di ruang unit perawatan intensif atau ICU. Perawatan ini ditujukan untuk memastikan fungsi tubuh pasien tetap stabil, termasuk pernapasan dan tekanan darah.Sebagai cara mengobati koma jangka panjang, perawatan suportif akan dilakukan di ruang perawatan biasa. Penanganan ini meliputi penyediaan nutrisi (bisa melalui infus serta selang makan) dan pencegahan infeksi.Posisi tubuh pasien juga akan diubah secara rutin untuk mencegah luka tekan. Dokter juga akan menganjurkan fisioterapis atau perawat untuk menggerakkan tubuh pasien dengan teratur guna melatih sendi agar tidak kaku. 

Komplikasi koma

Komplikasi koma yang paling buruk adalah kematian. Beberapa pasien mungkin bisa sembuh dari kondisi ini, tapi akan hidup dengan kondisi cacat (baik ringan maupun berat).Kondisi koma juga rentan menyebabkan luka tekan (bedsores), infeksi saluran kemih, pembekuan darah di kaki, dan masalah lainnya. Namun banyak juga pasien yang bisa pulih secara bertahap. 
Koma termasuk keadaan darurat medis, jadi segera bawa pasien ke rumah sakit. 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami oleh pasien. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh pasien.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan pasien?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait koma?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis komai agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/coma/symptoms-causes/syc-20371099
Diakses pada 8 September 2021
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/coma/
Diakses pada 8 September 2021
WebMD. https://www.webmd.com/brain/video/video-coma-causes-treatments  
Diakses pada 8 September 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email