Infeksi

Kusta

11 Nov 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Kusta
Risiko terkena kusta pada anak-anak relatif lebih besar daripada orang dewasa
Lepra atau kusta adalah infeksi yang menyebabkan pembengkakan kulit dan kerusakan saraf tepi yang parah di bagian lengan, kaki dan kulit di seluruh badan.Pada dasarnya, penyakit yang juga disebut penyakit Hansen ini tidak mudah menular dan dapat diobat dengan efektif. Risiko penularan cenderung tinggi ketika seseorang memiliki kontak erat dan jangka panjang dengan penderita kusta.Kusta biasanya menular lewat cairan yang keluar dari mulut atau hidung penderita yang tidak menjalani pengobatan.Risiko kusta pada anak-anak relatif lebih besar daripada orang dewasa. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), ada sekitar 180 ribu orang di dunia yang mengidap penyakit ini. Sebagian besar penderita tinggal di Afrika dan Asia.Apabila diobati dengan benar, tingkat kesembuhan kusta cukup baik. Namun jika tidak ditangani, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi berupa ganggan dan kerusakan pada kulit, saraf perifer, tungkai, saluran napas bagian atas, hingga mata. 
Kusta
Dokter spesialis Kulit
GejalaBercak kulit, rasa kebas pada lesi kulit, mimisan
Faktor risikoTinggal serumah dengan penderita kusta
Metode diagnosisBiopsi kulit
PengobatanObat-obatan
ObatDapsone, rifampicin, prednisone
KomplikasiKebutaan, iritis, perubahan bentuk pada anggota tubuh
Kapan harus ke dokter?Benjolan pada kulit, mati rasa di area kulit tertentu
Kusta terutama menyerang kulit dan sistem saraf di luar otak dan tulang belakang, yang disebut saraf perifer. Penyakit ini juga menyerang mata dan jaringan tipis di sekitar hidung.Gejala-gejala kusta yang utama meliputi:
  • Pembengkakan dan perubahan bentuk kulit
  • Benjolan di permukaan kulit yang tidak hilang setelah beberapa minggu atau bulan
  • Mati rasa di bagian tangan dan kaki (akibat rusaknya sistem saraf)
  • Kehilangan fungsi otot
Pada umumnya, gejala akan muncul setelah 3-5 tahun sejak bakteri penyebab lepra memasuki tubuh paenderita. Bahkan pada kasus tertentu, keluhan perlu waktu 20 tahun untuk timbul.Oleh karena itu, dokter akan kesulitan untuk memastikan waktu dan lokasi infeksi kusta yang terjadi pada pasien. 
Bakteri Mycrobacterium Leprae adalah penyebab kusta yang utama. Bakteri ini berkembang biak secara perlahan-lahan dan dapat menular melalui percikan cairan tubuh dari penderita, misalnya ketika penderita bersin atau batuk.Namun penularan lepra tidaklah semudah flu. Kondisi yang juga disebut penyakit Hansen ini membutuhkan kontak terus-menerus dan jangka panjang dengan penderita untuk meningkatkan resiko penyebarannya. 
Diagnosis kusta biasanya ditentukan oleh dokter melalui:
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan mengecek tanda-tanda pada kulit pasien.
  • Biopsi kulit

Biopsi kulit dilakukan dengan mengambil sampel jaringan kulit yang bengkak atau berubah bentuk. Sampel ini kemudian diperiksa di laboratorium untuk menentukan ada tidaknya bakteri penyebab kusta. 
Tujuan pengobatan penyakit ini adalah menghilangkan bakteri Mycrobacterium Leprae dan meredakan gejalanya. Beberapa cara mengobati kusta yang bisa dianjurkan oleh dokter meliputi:
  • Antibiotik

Dokter akan memberikan obat antibiotik untuk membunuh bakteri. Setelah itu, dokter biasanya meresepkan antibiotik tambahan selama enam bulan hingga satu tahun guna mencegah kambuhnya lepra.Jenis antibiotik yang mungkin diberikan meliputi dapsone, rifampin, clofazimine, minocycline, serta ofloxacin.
  • Obat antiradang

Dokter juga bisa memberikan obat antiradang untuk mengurangi rasa sakit dan kerusakan lain akibat lepra. Obat ini meliputi aspirin, prednisone, dan thalidomide. 

Komplikasi kusta

Jika tidak ditangani dengan benar, penyakit ini bisa memicu komplikasi berupa:
  • Glaukoma
  • Kebutaan
  • Peradangan pada iris mata
  • Kerontokan rambut
  • Gangguan kesuburan
  • Cacat pada wajah, termasuk pembengkakan permanen dan benjolan
  • Disfungsi ereksi
  • Kelemahan otot yang menyebabkan tangan kaku pada posisi seperti mencakar dan kaki yang tidak bisa diluruskan
  • Kerusakan permanen pada hidung yang bisa memicu mimisan dan hidung tersumbat kronis
  • Kerusakan saraf permanen pada lengan dan kaki
  • Mati rasa, sehingga pasien tidak menyadari dirinya luka atau cedera lain pada kaki maupun tangan
 
Cara mencegah kusta relatif mudah dilakukan, yakni menghindari kontak langsung dengan penderita kusta. 
Segera periksakan diri ke dokter apabila Anda mengalami:
  • Benjolan-benjolan yang tidak hilang dalam waktu beberapa minggu
  • Mati rasa di bagian tangan dan kaki
 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami oleh pasien. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh pasien.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan pasien?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait kusta?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis kusta agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
CDC. https://www.cdc.gov/leprosy/symptoms/index.html
Diakses pada 20 Oktober 2021
WebMD. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/guide/leprosy-symp
toms-treatments-history#1-2 
Diakses pada 20 Oktober 2021
WHO. https://www.who.int/lep/disease/en/#:~:text=Leprosy
Diakses pada 20 Oktober 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/leprosy
Diakses pada 20 Oktober 2021
CDC. https://www.cdc.gov/leprosy/index.html
Diakses pada 20 Oktober 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2223848/
Diakses pada 20 Oktober 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email