Penyakit Lainnya

Osteoartritis

13 Oct 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Osteoartritis
Osteoartritis menyebabkan sendi sakit dan kaku
Osteoartritis adalah penyakit yang menyebabkan sendi menjadi sakit dan kaku. Kondisi yang disingkat OA ini merupakan bentuk yang umum dari arthritisSendi adalah tempat di mana dua tulang saling bertemu. Ujung dari tulang-tulang ini ditutupi oleh jaringan pelindung yang disebut dengan kartilago atau tulang rawan.Pada OA, tulang rawan mengalami degenerasi dan rusak, sehingga menyebabkan gesekan antara tulang yang terdapat dalam sendi. Kondisi ini akan menyebabkan rasa sakit, kekakuan, dan gejala lainnya.OA dapat merusak sendi mana saja pada tubuh. Tapi penyakit ini lebih sering berdampak pada sendi tangan, lutut, pinggul, ujung jari, dan tulang belakang (terutama pada leher atau punggung bawah).Gejala osteoartritis biasanya dapat teratasi meski penyakitnya sendiri tidak dapat disembuhkan. Tetap aktif, menjaga berat tubuh ideal, dan pengobatan lain dapat memperlambat proses perkembangan penyakit ini, sekaligus membantu dalam meredakan sakit dan memperbaiki fungsi sendi.Di Indonesia, data dari Universitas Udayana melaporkan lebih dari 60% orang di atas usia 61 tahun menderita osteoartritis. 
Osteoartritis
Dokter spesialisFisioterapi, Ortopedi
GejalaSendi yang nyeri, kaku, kehilangan kelenturannya
Faktor risikoUsia, jenis kelamin, obesitas
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, pencitraan, tes darah
PengobatanObat-obatan, menurunkan berat badan, olahraga sesuai kondisi
KomplikasiSulit beraktivitas, depresi, susah tidur
Kapan harus ke dokter?Mengalami sakit atau rasa kaku pada sendi yang kunjung tidak membaik
Gejala osteoartritis yang paling umum meliputi:
  • Rasa sakit pada sendi dapat terjadi saat penderiita melakukan gerakan atau setelahnya, akan memburuk setelah penderita melakukan aktivitas atau menjelang akhir hari, serta ketika ada sentuhan atau tekanan.
  • Kekakuan pada sendi paling jelas di pagi hari, saat bangun dari tidur, atau setelah Anda beristirahat sejenak.
  • Kehilangan kelenturan atau fleksibilitas. Sendi mungkin tidak dapat digerakkan secara optimal.
  • Muncul bunyi seperti ‘berderak’ ketika sendi digerakkan.
  • Bone spurs, yaitu pertumbuhan tulang baru yang terbentuk pada tulang normal, terasa seperti benjolan keras, dan dapat terbentuk di sekitar sendi yang terkena OA.
Gejala tersebut seringkali terjadi secara perlahan dan memburuk seiring berjalannya waktu. Ketika OA semakin berat, rasa sakit akan semakin parah.Seiring waktu, pembengkakan pada sendi dan jaringan di sekitarnya juga mungkin terjadi. OA dapat membuat penderita kesulitan untuk melakukan kegiatan sederhana sehari-hari di rumah atau pada pekerjaannya. 
Penyebab osteoartritis belum diketahui hingga sekarang. Rasa nyeri pada pengidap penyakit ini muncul karena ujung-ujung tulang dalam yang bergesekan.Gesekan tersebut terjadi karena kartilago (tulang rawan) aus secara perlahan-lahan. Padahal tulang rawan berfungsi sebagai bantalan agar ujung-ujung tulang takkan saling bergesekan.Alasan di balik penipisan atau kerusakan kartilago pada pengidap OA belum bisa dijelaskan secara pasti. Namun ada beberapa faktor yang bisa mempertinggi risiko Anda untuk mengalaminya.Beberapa faktor risiko osteoartritis tersebut meliputi:
  • Usia tua. Risiko OA akan meningkat seiring bertambahnya umur seseorang.
  • Jenis kelamin. Wanita lebih mungkin terkena OA.
  • Semakin berat badan yang Anda miliki, risiko OA Anda juga semakin tinggi. Berat badan berlebih akan memberikan beban tambahan pada sendi-sendi sebagai penopang tubuh, seperti panggul dan lutut. Jaringan lemak juga akan memproduksi protein yang dapat menyebabkan peradangan yang berbahaya di dalam dan sekitar sendi.
  • Cedera atau penggunaan sendi secara berlebihan. Misalnya, cedera ketika berolahraga atau kecelakaan, sering menekuk lutut, atau mengangkat beban berat berulang-ulang.
  • Pekerjaan tertentu. Jika memiliki pekerjaan yang menempatkan beban pada sendi tertentu secara berulang, sendi tersebut pada akhirnya dapat terkena OA.
  • Beberapa orang mempunyai kecenderungan untuk terkena OA.
  • Deformitas (kecacatan) pada tulang. Beberapa orang terlahir dengan sendi atau tulang rawan yang cacat maupun tidak sempurna. Kondisi ini akan meningkatkan risiko osteoartritis.
 
Osteoartritis umumnya berkembang secara perlahan-lahan. Karena itu, penyakit ini sulit terdeteksi dan didiagnosis sampai mulai menyebabkan rasa sakit atau gejala yang melemahkan penderita.Sebagian besar kasus osteoartritis terdeteksi setelah penderita mengalami kecelakaan atau insiden lain, yang menyebabkan retak pada tulang sehingga membutuhkan foto rontgen.Sebagai tambahan pemeriksaan foto rontgen, dokter juga akan menggunakan MRI scan untuk mendiagnosis osteoartritis. Pemeriksaan ini menggunakan gelombang radio dan medan magnet untuk menciptakan gambar detail dari tulang dan jaringan lunak.Pemeriksaan diagnosis lainnya termasuk pemeriksaan darah untuk menyingkirkan kondisi lain yang menyebabkan sendi sakit, seperti rheumatoid arthritis. Analisis cairan sendi juga dapat digunakan untuk menentukan apakah pasien juga mengidap gout (penyakit asam urat) atau infeksi yang memicu peradangan.
Sampai saat ini, belum ada pengobatan khusus yang dapat menyembuhkan mauoun memperbaiki kerusakan sendi akiibat osteoartritis. Meski demikian, osteoartritis belum tentu pasti memburuk seiring berjalannya waktu.Perawatan dan pengobatan osteoartritis jangka panjang umumnya bertujuan:
  • Mengelola gejala, seperti rasa sakit, kekakuan dan pembengkakan.
  • Meningkatkan mobilitas, kekuatan dan kelenturan (fleksibiltas) sendi.
  • Mempertahankan berat badan yang sehat.
  • Mendapatkan latihan atau olahraga yang cukup.
Langkah penanganan osteoartritis yang biasanya dianjurkan oleh dokter bisa berupa:
  • Mempertahankan berat badan agar tetap pada batas ideal.
  • Melakuan olahraga untuk memperkuat otot di sekitar sendi yang terkena osteoartritis, akan meringankan beban dan sakit pada sendi-sendi tersebut.
  • Melakukan latihan rentang gerak untuk mempertahankan dan memperbaiki kelenturan sendi, serta mengurangi kekakuan sendi.
  • Melakukan olahraga kardio untuk membantu meningkatkan stamina dan energi, serta membantu dalam menurunkan berat badan berlebih.
  • Menggunakan obat-obatan untuk meredakan rasa sakit, misalnya analgesik (seperti acetaminophen, opioid, atau opioid atipikal) serta obat antiinflamasi nonsteroid atau OAINS (seperti ibuprofen, diklofenak, naproxen, maupun celecoxib).
  • Menggunakan kortikosteroid, yaitu obat antiradang yang kuat.
  • Menggunakan asam hialuronik, yang terdapat secara alami dalam cairan sendi dan berperan sebagai pelumas dan peredam kejut.
  • Menggunakan duloxetine. Obat ini biasanya digunakan sebagai obat antidepresan, tetapi juga bisa untuk mengobati rasa sakit yang menahun, termasuk sakit pada OA.
  • Menjalani terapi suportif, seperti fisioterapi guna menguatkan otot di sekitar sendi, meningkatkan rentang gerak, dan mengurangi rasa sakit.
  • Menjalani terapi okupasi yang bertujuan membantu penderita untuk melakukan kegiatan sehari-hari tanpa menambah beban pada sendi yang mengalami OA dan rasa sakit.
  • Menggunakan perangkat bantu dapat membantu dengan fungsi dan mobilitas sendi, seperti tongkat berjalan, sepatu orthotics atau alat pembantu lainnya.
  • Menjalani pengobatan alami, seperti akupuntur, pemijatan, teknik relaksasi, dan hidroterapi untuk mengurangi nyeri.
Dalam sejumlah kasus, di mana pengobatan lainnya tidak membantu atau ketika terjadi kerusakan sendi yang berat, operasi dapat menjadi pilihan guna memperbaiki, menguatkan, atau menggantikan sendi yang rusak. 

Komplikasi osteoartritis

Komplikasi bisa terjadi mengingat kondisi ini merupakan penyakit degeneratif. Artinya, penyakit ini memiliki kecenderungan akan memburuk seiring waktu.Salah satu komplikasi paling umum adalah terganggunya aktivitas sehari-hari. Pasalnya, kondisi nyeri dan kekakuan sendi yang dirasakan oleh penderita biasanya akan semakin parah.Selain itu, penderita mungkin akan menderita depresi dan gangguan tidur. Kondisi ini bisa menyerang ketika pasien terus-menerus merasa sakit atau cacat akibat OA. 
Tidak ada cara ampuh untuk mencegah osteoartritis. Namun penderita dapat mengendalikan sejumlah faktor yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit ini dengan cara:
  • Menjaga berat badan agar tetap ideal.
  • Sebisa mungkin, mencegah terjadinya kecelakaan atau cedera.
  • Menggunakan penyokong tubuh dengan baik, terutama bagi orang yang memiliki profesi tertentu. Misalnya, atlet atau olahragawan.
  • Memastikan Anda melakukan olahraga yang bervariasi supaya semua otot terlatih, tidak hanya otot tertentu saja.
  • Mempertahankan postur tubuh yang baik.
  • Menghindari berada dalam satu posisi yang sama dalam jangka waktu lama.
  • Menjauhi latihan yang memberikan beban pada sendi dan yang memaksa sendi menopang beban berlebih, seperti berlari dan angkat beban. Anda bisa mencoba olahraga, seperti berenang dan bersepeda, di mana sendi disokong dengan lebih baik dan tekanan atau beban pada sendi lebih dapat dikendalikan.
  • Melakukan latihan aerobik tingkat sedang, seperti bersepeda atau jalan cepat. Setidaknya 2,5 jam per minggu. Latihan ini berguna untuk membangun kekuatan otot dan menjaga kebugaran tubuh.
  • Mengobati dan mencegah kondisi yang dapat berkontribusi terhadap kerusakan sendi juga sangat penting. Contohnya, hemakromatosis yang terjadi akibat kadar asam urat tinggi atau infeksi.
 
Hubungi dokter jika Anda merasakan sakit atau kekakuan pada sendi yang kunjung tidak membaik. 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami oleh pasien. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh pasien.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan pasien?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait osteoartritis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis osteoartritis agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Drugs. https://www.drugs.com/health-guide/osteoarthritis.html
Diakses pada 13 Oktober 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/osteoarthritis#treatment
Diakses pada 13 Oktober 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoarthritis/symptoms-causes/syc-20351925
Diakses pada 13 Oktober 2021
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/osteoarthritis/
Diakses pada 13 Oktober 2021
Medicinenet. https://www.medicinenet.com/osteoarthritis/article.htm#osteoarthritis_facts
Diakses pada 13 Oktober 2021
CDC. https://www.cdc.gov/arthritis/basics/osteoarthritis.htm
Diakses pada 13 Oktober 2021
Arthritis Foundation. https://www.arthritis.org/about-arthritis/types/osteoarthritis/
Diakses pada 13 Oktober 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email