Infeksi

Pneumonia

16 Feb 2022 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Pneumonia
Pneumonia adalah infeksi pada kantong udara di paru, sehingga bisa dipenuhi cairan atau nanah
Pneumonia adalah peradangan atau infeksi yang menyerang salah satu atau kedua paru-paru. Infeksi yang terjadi dapat menyebabkan penumpukan cairan atau nanah dalam kantong udara kecil yang disebut alveolus. Itu sebabnya, pneumonia juga sering disebut dengan paru-paru basah. Penumpukan nanah atau cairan itulah yang kemudian membuat seseorang yang mengalaminya jadi sesak napas. Selain kesulitan bernapas, pneumonia juga bisa menyebabkan batuk berdahak, demam, dan menggigil. Pneumonia bisa disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, seperti bakteri, virus, dan jamur. Infeksi virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 yang menjadi pandemi juga bisa menyebabkan pneumonia.Mikroorganisme penyebab pneumonia bisa menular lewat udara ataupun droplet.Pneumonia dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama apabila dialami oleh lansia di atas 65 tahun, anak-anak berusia dua tahun ke bawah, dan orang yang menderita penyakit lain atau memiliki sistem imun lemah.Menurut laporan UNICEF, di indonesia sendiri, pneumonia merupakan penyebab kematian balita terbesar kedua. Dari 1000 kelahiran bayi di 2018, 16%-nya mengalami kematian yang disebabkan oleh pneumonia.  Baca juga: Mengenal Obat Herbal Pneumonia yang Aman Dikonsumsi
Pneumonia
Dokter spesialis Paru
GejalaDemam, batuk berdahak, sesak
Faktor risikoLansia, anak-anak, penyakit kronis
Metode diagnosisTes darah, rontgen dada
PengobatanIstirahat, mencukupi cairan, konsumsi obat-obatan
ObatAntibiotik, antijamur, antivirus
KomplikasiBakteremia, efusi pleura, abses paru
Kapan harus ke dokter?Batuk, sesak, nyeri dada
Secara umum, tanda dan gejala pneumonia meliputi:
  • Demam tinggi, yang terkadang disertai menggigil
  • Batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh atau malah memburuk
  • Sesak napas, bahkan ketika melakukan aktivitas ringan
  • Nyeri dada saat menarik napas atau batuk
  • Batuk dan pilek yang berlangsung terus-menerus atau makin memburuk
  • Pusing
  • Kelelahan 
  • Jantung berdetak dengan cepat
  • Kehilangan selera makan
  • Mual dan muntah
  • Diare 
Gejala tambahan lainnya dapat bervariasi sesuai dengan usia dan kondisi kesehatan pasien secara umum, di antaranya:
  • Pasien bayi pada awalnya mungkin tidak menunjukkan gejala, tetapi terkadang pasien bayi dapat muntah, kekurangan energi, rewel, dan kesulitan minum atau makan.
  • Anak-anak di bawah 5 tahun mungkin mengalami napas cepat atau mengi.
  • Lansia di atas 65 tahun dapat mengalami kebingungan (linglung) atau perubahan perilaku, 
  • Lansia dan orang-orang yang memiliki sistem imun lemah, bisa mengalami penurunan suhu tubuh di bawah normal.
Mungkin saja, ada gejala pneumonia yang tidak disebutkan. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter.
Pneumonia terjadi ketika ada mikroorganisme penyebab penyakit (patogen), seperti bakteri, virus, atau jamur masuk ke paru-paru dan menyebabkan infeksi. Sistem kekebalan tubuh lantas merespons dengan mengirimkan sel darah putih untuk menyerang infeksi. Proses tersebut dapat menyebabkan peradangan pada alveolus dan mengakibatkan kantung udara terisi dengan nanah dan cairan sehingga menimbulkan gejala pneumonia.Beberapa mikroorganisme penyebab pneumonia, antara lain:

1. Bakteri 

Infeksi bakteri adalah penyebab paling umum dari pneumonia (pneumonia bakterial).  Beberapa jenis bakteri yang berbeda dapat menyebabkan pneumonia, termasuk:
  • Streptococcus pneumoniae
  • Legionella pneumophila, pneumonia ini sering disebut penyakit Legionnaires
  • Mycoplasma pneumoniae
  • Chlamydia pneumonia
  • Haemophilus influenzae
   

2. Virus

Virus yang menginfeksi saluran pernapasan dapat menyebabkan pneumonia. Pneumonia virus sering kali ringan dan dapat hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu. Akan tetapi, pada beberapa kasus yang lebih serius, pasien perlu mendapatkan perawatan di rumah sakit. Berbagai virus yang dapat menyebabkan pneumonia meliputi:

3. Jamur

Pneumonia yang disebabkan jamur lebih sering terjadi pada orang yang memiliki masalah kesehatan kronis atau sistem kekebalan yang lemah. Beberapa jenis jamur yang dapat menginfeksi paru-paru, antara lain:
  • Pneumocystis pneumonia (PCP)
  • Coccidioidomycosis, yang menyebabkan demam lembah
  • Histoplasmosis
  • Kriptokokus
Selain dari berbagai penyebab di atas, ada berbagai jenis pneumonia yang dikelompokkan berdasarkan tempat terpapar atau area yang terdampak.Misalnya, pneumonia yang terjadi akibat tidak sengaja menghirup benda asing dan melukai paru-paru, seperti tersedak makanan. Kondisi ini disebut dengan pneumonia aspirasi.

Faktor risiko pneumonia

Selain penyebab di atas, ada beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko seseorang kena pneumonia, yaitu:
  • Memiliki penyakit kronis yang memengaruhi saluran pernapasan, seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan penyakit jantung. Kondisi ini dapat menyebabkan berkembangnya bakteri di paru-paru.
  • Kebiasaan merokok
  • Sistem imun tubuh yang lemah, misalnya penderita HIV/AIDS, orang yang menjalani transplantasi organ, pasien kemoterapi untuk menangani kanker, atau pengguna obat steroid jangka panjang.
  • Usia di bawah lima tahun atau di atas 65 tahun
  • Mengalami malnutrisi
  • Paparan polusi atau zat kimiawi tertentu, contohnya buruh bangunan yang harus sering terpapar debu, asap, serta bahan kimia lain 
  • Dirawat di rumah sakit, terutama jika Anda menggunakan ventilator di bagian ICU.
Baca jawaban dokter: Apakah vaksin pneumonia dapat membuat tubuh kebal corona?
Dalam mendiagnosis pneumonia, dokter biasanya akan menanyakan gejala dan riwayat kesehatan pasien serta melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik yang dilakukan termasuk mendengarkan suara pernapasan pasien dengan stetoskop dan mengukur kadar oksigen darah menggunakan oksimeter denyut yang dipasang di jari.Jika dokter mencurigai pasien mengalami pneumonia, dokter dapat merekomendasikan tes tambahan, seperti:
  • Rontgen dada. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat mengonfirmasi diagnosis pneumonia dan menunjukkan area paru-paru mana yang terdampak.
  • CT scan dada. Pemindaian ini dapat memberikan gambaran paru-paru yang lebih detail dibandingkan rontgen.
  • Pemeriksaan sel darah putih (WBC). Jumlah sel darah putih dapat menunjukkan kondisi infeksi pada tubuh. Dengan mengukur kadar sel darah putih, dokter dapat memperkirakan seberapa parah infeksi yang telah terjadi, sekaligus memperkirakan kemungkinan penyebabnya, seperti bakteri, virus, atau jamur.
  • Analisis gas darah. Tes darah ini dapat memberikan pembacaan yang lebih akurat tentang kadar oksigen dan karbon dioksida. Adanya infeksi paru bisa memengaruhi jumlah oksigen dan karbon dioksida di dalam darah.
  • Kultur darah. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan apakah mikroorganisme dari paru-paru telah menyebar ke aliran darah.
  • Analisis dahak. Sampel dahak dapat membantu dokter untuk menentukan mikroorganisme mana yang menyebabkan pneumonia.
  • Bronkoskopi. Prosedur ini melibatkan suatu alat bernama bronkoskop yang akan dimasukkan ke paru-paru. Pemeriksaan ini dapat memungkinkan dokter memeriksa secara langsung bagian saluran udara dan paru-paru yang terinfeksi.
Cara mengobati pneumonia bergantung pada kondisi masing-masing pasien dan penyebabnya.Pengobatan pneumonia bertujuan untuk mengatasi infeksi, meredakan gejala, dan mencegah komplikasi. Beberapa pengobatan yang mungkin diberikan dokter, antara lain:
  • Antibiotik untuk mengatasi pneumonia karena infeksi bakteri
  • Antivirus untuk mengobati pneumonia akibat infeksi virus jika diperlukan
  • Antijamur untuk menyembuhkan pneumonia karena infeksi jamur
  • Obat-obatan untuk mengurangi gejala pneumonia, seperti obat batuk dan obat demam, seperti paracetamol dan ibuprofen 
Bagi pasien yang mengalami pneumonia akibat virus dan tidak menunjukkan gejala, biasanya dokter tidak akan memberikan obat apa pun. Ini karena virus bisa mati dengan sendirinya dengan daya tahan tubuh yang kuat.Dokter biasanya akan meminta pasien untuk banyak beristirahat dan perbanyak cairan, khususnya air putih.Sementara pada orang yang berisiko tinggi untuk mengalami komplikasi pneumonia, misalnya orang dengan sistem imun lemah atau punya penyakit kronis perlu ditangani secara intensif melalui rawat inap supaya proses penyembuhan lebih lancar.Selain itu, dalam suatu penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Hospital Medicine menyebutkan bahwa pneumonia aspirasi biasanya lebih membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit dibanding jenis pneumonia lainnya. Perawatan yang diberikan di rumah sakit dapat meliputi:
  • Pemberian antibiotik atau obat lain secara injeksi (suntikan)
  • Pemberian oksigen tambahan yang diberikan lewat selang atau masker oksigen. Langkah ini ditujukan untuk mempertahankan kadar oksigen dalam darah
  • Pemberian cairan infus, untuk menjaga keseimbangan cairan dan nutrisi
  • Pemasangan mesin ventilator untuk membantu pernapasan pada pasien pneumonia dengan gejala yang sangat parah.
 

Komplikasi pneumonia

Jika tidak diobati dengan benar, ada komplikasi pneumonia yang mungkin terjadi, antara lain: 
Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir cegah penularan virus
Anda bisa menerapkan beberapa cara mencegah pneumonia di bawah ini:
  • Mendapatkan vaksin pneumonia 
  • Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti rajin mencuci tangan
  • Mempraktikkan etika batuk dan bersin dengan cara menutup mulut dengan tisu atau lengan ketika batuk dan bersin
  • Tidak merokok
  • Tidak mengonsumsi alkohol secara berlebihan
  • Menjaga agar daya tahan tubuh tetap kuat, contohnya dengan tidur cukup, berolahraga teratur, dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang
Baca juga: Kenali Jenis Vaksin Pneumonia agar Tak Salah Imunisasi
Periksakan diri ke dokter bila Anda mengalami gejala-gejala berikut:
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Demam tinggi yang tidak kunjung membaik
  • Batuk-batuk yang tidak kunjung membaik, terutama batuk berdahak
Jika Anda memiliki tanda atau gejala lain yang mengkhawatirkan, konsultasikan juga dengan dokter.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter. 
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait pneumonia?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis pneumonia agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pneumonia/symptoms-causes/syc-20354204
Diakses pada 4 Februari 2022
UNICEF. https://www.unicef.org/indonesia/press-releases/one-child-dies-pneumonia-every-39-seconds-agencies-warn
Diakses pada 4 Februari 2022
UNICEF. https://www.unicef.org/indonesia/press-releases/one-child-dies-pneumonia-every-39-seconds-agencies-warn
Diakses pada 4 Februari 2022
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/151632
Diakses pada 4 Februari 2022
Medline Plus. https://medlineplus.gov/pneumonia.html
Diakses pada 4 Februari 2022
Healthline. https://www.healthline.com/health/pneumonia
Diakses pada 4 Februari 2022
National Institute of Health. https://www.nih.gov
Diakses pada 6 Agustus 2020
American Lung Association.
https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/pneumonia/learn-about-pneumonia
Diakses pada 4 Februari 2022
Journal of Hospital Medicine. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23184866/
Diakses pada 4 Februari 2022
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email