Pernapasan

Rhinitis Medikamentosa

14 Sep 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Rhinitis Medikamentosa
Rhinitis medikamentosa adalah peradangan akibat penggunaan dekongestan
Rhinitis medikamentosa adalah peradangan pada lapisan (mukosa) hidung yang disebabkan penggunaan obat dekongestan semprot secara berlebihan. Rinitis medicamentosa adalah jenis rhinitis yang dipicu oleh obat.Rhinitis itu sendiri merupakan jenis peradangan pada rongga hidung yang disebabkan paparan alergen (zat yang menyebabkan alergi) atau zat lain yang dianggap sebagai ancaman oleh sistem kekebalan tubuh. Gejala paling umum dari rhinitis adalah hidung tersumbat atau berair dan bersin-bersin.Untuk mengatasi gejalanya, penderita rhinitis sering kali mengandalkan obat dekongestan semprot. Sayangnya, penggunaan dekongestan yang berlebihan atau terlalu sering dapat menyebabkan lapisan hidung teriritasi. Hal ini mengakibatkan gejala rhinitis menetap atau semakin parah. Oleh karena itu, rhinitis medikamentosa disebut juga dengan rebound congestion.
Rhinitis Medikamentosa
Dokter spesialis THT
GejalaHidung tersumbat, sakit kepala, gelisah
Metode diagnosisPemeriksaan fisik
PengobatanPenghentian obat dekongestan
ObatKortikosteroid
KomplikasiEtmoiditis kronis, rhinitis atrofi, perforasi septum
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami hidung tersumbat dan menggunakan semprotan hidung dekongestan, namun gejalanya tidak hilang dan semakin memburuk
Gejala rhinitis medikamentosa yang paling umum adalah:
  • Hidung tersumbat tanpa disertai gejala alergi seperti gatal-gatal pada hidung, mata, atau tenggorokan.
  • Hidung tersumbat meski tidak ada pemicu, yang berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. 
  • Hidung yang tersumbat justru memburuk seiring meningkatnya frekuensi atau dosis obat semprotan hidung.
  • Sakit kepala.
  • Gangguan kecemasan.
  • Gelisah.
Penyebab rhinitis medikamentosa adalah penggunaan dekongestan topikal dalam bentuk obat semprot atau obat tetes hidung secara berlebihan.Obat dekongestan seperti oxymetazoline, pseudoephedrine, atau phenylephrine bekerja mengecilkan pembuluh darah dalam mukosa yang meradang. Efek penyempitan pembuluh darah inilah yang bisa cepat meredakan gejala hidung tersumbat.Namun, setelah tiga hari, efek pemakaian obat dekongestan akan menghilang sehingga mukosa kembali membengkak dan hidung kembali tersumbat.Penggunaan obat dekongestan secara berlebihan biasanya dipicu oleh gejala rhinitis non-alergi yang tidak sembuh dengan penggunaan dekongestan. Oleh karena itu, pasien sering meningkatkan dosis atau frekuensi pemakaiannya.Baca juga: Mengenal Dekongestan untuk Atasi Hidung Tersumbat
Dalam mendiagnosis kondisi ini, dokter akan memeriksa gejala-gejala yang dialami, riwayat penggunaan obat secara menyeluruh, serta riwayat medis keluarga dengan seksama. Biasanya, rebound congestion ditandai dengan saluran hidung yang tampak lebih merah dan tebal jika dibandingkan selaput lendir hidung normal.Selain itu, dokter mungkin akan meminta pasien mengurangi atau menghentikan obat-obatan dekongestan. Jika gejala membaik seiring dihentikannya obat, pasien dapat didiagnosis mengidap rhinitis medikamentosa.
Penanganan rhinitis medikamentosa umumnya meliputi:
  • Mengurangi dosis atau menghentikan penggunaan obat dekongestan. Dokter mungkin merekomendasikan pengurangan dosis secara bertahap terlebih dahulu. 
  • Penggunaan obat tetes hidung kortikosteroid. Selama dekongestan dihentikan, kortikosteroid dapat menjadi obat pengganti untuk membantu melegakan hidung tersumbat. 
  • Penggunaan obat lainnya. Dokter dapat meresepkan kortikosteroid atau antihistamin dalam bentuk obat minum, injeksi steroid turbinate inferior, adenosin oral, serta agen penstabil sel mast untuk menangani rhinitis medikamentosa. Namun, pengobatan ini biasanya hanya digunakan sebagai pilihan terakhir.
  • Mengobati penyakit yang mendasari. Penting untuk mengobati penyakit yang mendasari pemberian dekongestan, seperti rhinitis atau rhinitis alergi.
Baca jawaban dokter: Apakah rhinitis bisa sembuh total?

Komplikasi

Rhinitis medicamentosa yang tidak ditangani dengan baik, dapat memunculkan berbagai komplikasi berupa: 
  • Sinus etmoiditis kronis, yakni kondisi peradangan pada sinus etmoid yang terasa lebih dari 8 minggu, disebabkan oleh infeksi, reaksi alergi, atau keberadaan polips pada sinus.
  • Rhinitis atrofia, yaitu kondisi saat jaringan mukosa serta tulang di bawahnya mengecil sehingga mengakibatkan perubahan pada kinerja saluran hidung.
  • Perforasi septal, kondisi di mana tulang yang memisahkan kedua lubang hidung menjadi berlubang.
  • Hiperplasia turbinat, kondisi di mana terjadi pembesaran berlebihan pada turbinat, yaitu struktur tulang di dalam hidung yang berfungsi menghangatkan serta melembabkan udara dalam saluran hidung. Pembesaran pada tulang ini dapat menghambat aliran udara masuk dan keluar hidung.
  • Rhinosinusitis kronis, yaitu penyakit kronis yang ditandai dengan peradangan pada mukosa hidung dan sinus paranasal.
Baca juga: Mengulik Kasus Rhinitis Alergi Ekstrem di Dunia
Untuk mencegah rhinitis medikamentosa, bijaklah dalam menggunakan dekongestan untuk mengatasi hidung tersumbat. Baca dan patuhi aturan pakai pada kemasan dekongestan untuk mengetahui seberapa sering dan berapa lama dekongestan boleh digunakan.
Periksakan ke dokter jika Anda mengalami hidung tersumbat tapi gejala tidak membaik atau makin memburuk setelah menggunakan semprotan dekongestan.Dokter biasanya akan merekomendasikan engurangan dosis secara bertahap. Pasalnya, penghentian pemakaian secara tiba-tiba justru dapat menyebabkan iritasi lebih lanjut. Setelah gejala sembuh, konsultasikan kembali pada dokter Anda sebelum menggunakan dekongestan untuk mengobati rhinitis di kemudian hari.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait rhinitis medikamentosa?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis rhinitis medikamentosa agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Chordate Medical. https://www.chordate.com/rhinitis-medicamentosa/
Diakses pada 13 Maret 2019
 
Healthline. https://www.healthline.com/health/rhinitis-medicamentosa
Diakses pada 13 Maret 2019
 
National Center for Biotechnology Information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK538318/
Diakses pada 14 Agustus 2021
 
Very Well Health. https://www.verywellhealth.com/everything-you-need-to-know-about-rebound-congestion-1192177
Diakses pada 13 Maret 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email