Kulit & Kelamin

Alergi Sperma

29 Sep 2021 | Popy Hervi PutriDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Alergi Sperma
Alergi sperma bisa memicu rasa gatal, bengkak, maupun kemerahan
Alergi sperma adalah suatu reaksi alergi yang muncul akibat kandungan protein tertentu pada semen yang dihasilkan oleh pria.Kondisi ini sangat jarang terjadi dan umumnya muncul pada wanita. Namun tidak menutup kemungkinan alergi sperma juga diderita oleh pria atau yang biasa dikenal dengan istilah sindrom penyakit pasca-orgasme.Alergi sperma juga dikenal dengan istilah human seminal plasma hypersensitivity atau human seminal plasma allergy. Selain dapat menimbulkan rasa gatal, kemerahan dan pembengkakan juga dapat terjadi pada vagina yang mengalami alergi sperma.Gejala alergi biasanya muncul 10-30 menit setelah kontak dengan sperma dan biasanya bisa berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari.Human seminal plasma hypersensitivity biasanya dialami oleh seorang perempuan yang baru pertama kali melakukan hubungan seksual. Namun, tidak menutup kemungkinan gejala juga bisa dialami oleh seorang perempuan yang sudah sering melakukan hubungan seksual. 
Alergi Sperma
Dokter spesialis Kulit
GejalaAlat kelamin gatal, kemerahan, nyeri
Faktor risikoUsia di atas 30 tahun, menderita vaginitis
Metode diagnosisTanya jawab, tes kulit
PengobatanDesensitasi, pemberian obat
ObatEpinephrine
KomplikasiAnafilaksis, infertilitas
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala alergi sperma
Secara umum, tanda dan gejala alergi sperma meliputi:
  • Gatal
  • Kemerahan
  • Nyeri
  • Pembengkakan
Selain pada area tubuh yang terpapar sperma, gejala seminal plasma hypersensitivity juga bisa muncul di bagian tubuh lain dan berupa:
  • Muncul bentol-bentol di sekujur tubuh
  • Napas menjadi pendek-pendek
  • Syok anafilaktik
Syok anafilaktik bisa terjadi saat reaksi alergi yang dialami sudah sangat parah. Kondisi ini bisa muncul segera setelah seseorang terpapar bahan alergen, dalam hal ini sperma, dan ditandai dengan:
  • Sulit bernapas
  • Pembengkakan pada lidah dan tenggorokan
  • Denyut nadi teraba lemah
  • Pusing
  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Mengi, yaitu muncul bunyi ‘ngik’ setiap menarik napas
Gejala ini bisa muncul saat pertama kali berhubungan seksual. Namun gejala juga dapat terjadi secara tiba-tiba meski tidak pernah mengalami reaksi alergi terhadap sperma.Karena gejalanya yang mirip dengan penyakit genital lainnya, kondisi ini sering disalahartikan sebagai infeksi jamur dan penyakit menular seksual. 
Penyebab utama alergi sperma adalah suatu jenis protein yang terkandung dalam sperma. Selain itu, jenis pengobatan serta konsumsi obat-obatan tertentu juga dipercaya dapat memicu timbulnya seminal plasma hypersensitivity. 

Faktor risiko alergi sperma

Beberapa faktor risiko alergi ini meliputi:
 
Diagnosis alergi sperma dilakukan dengan cara tanya jawab dan tes kulit. Berikut penjelasannya.
  • Tanya jawab

Dokter akan bertanya mengenai gejala dan Riwayat hubungan seksual Anda dan pasangan. Saat dokter bertanya, jawablah dengan sejujurnya.
  • Tes tusuk kulit (skin prick test) atau tes intradermal

Dokter juga mungkin melakukan tes alergi tertentu berupa skin prick test. Langkah ini bertujuan memastikan bahwa pasien benar-benar memiliki alergi sperma.Untuk melakukan tes ini, dokter Anda akan membutuhkan sampel air mani pasangan Anda. Dokter lalu menyuntikkan sejumlah kecil sampel ini di bawah kulit pasien.Jika muncul gejala atau reaksi alergi, dokter dapat menentukan bahwa pasien mengalami alergi sperma. 
Cara mengobati alergi sperma umumnya akan tergantung dari tingkat keparahan penyakit dan seberapa lama pasien sudah mengalami kondisi tersebut. Beberapa pilihan penanganan dari dokter meliputi:
  • Desensitasi

Jika saat melakukan hubungan seks, Anda atau pasangan lebih memilih untuk tidak menggunakan kondom, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk melakukan perawatan desensitasi.Prosedur ini dilakukan dengan mengoleskan vagina atau penis dengan sperma yang telah dilarutkan setiap kurang lebih 20 menit sekali. Prosedur ini tidak hanya dilakukan sekali, namun berulang kali hingga tubuh tidak menunjukkan gejala alergi.Setelah desensitasi dilakukan, Anda masih perlu terpapar alergen secara berkala. Tujuannya adalah agar daya tahan tubuh terhadap alergen tersebut bisa terus bertahan. Contohnya, orang yang alergi terhadap sperma pasangannya dianjurkan untuk melakukan hubungan seksual setiap 48 jam sekali.
  • Pemberian obat

Dokter juga mungkin akan menyarankan Anda mengonsumsi obat berjenis antihistamin, sebelum Anda melakukan hubungan seksual. Cara ini akan membantu dalam mengurangi gejala yang muncul.Jika gejala alergi yang Anda alami cukup parah, dokter bisa merekomendasikan Anda untuk selalu membawa suntikan atau injeksi epinephrine (EpiPen). Epinephrine dapat membantu dalam meredakan gejala alergi. 

Komplikasi alergi sperma

Jika tidak ditangani dengan benar, alergi sperma bisa menyebabkan komplikasi berupa: 
  • Anafilaksis
  • Terganggunya hubungan seksual Anda dan pasangan sehingga bisa memicu infertilitas
 
Cara mencegah alergi sperma tidak diketahui hingga saat ini. Pasalnya, penyebabnya juga belum diketahui dengan jelas.Namun Anda bisa menurunkan risikonya dengan cara paling sederhana, yakni menghindari kontak dengan sperma. Misalnya, memakai kondom tiap kali berhubungan seks.Bila tidak ingin menggunakan kondom, Anda dan pasangan bisa mencoba cara lain dengan segera mengeluarkan penis ketika ejakulasi terjadi. Dengan ini, sperma tidak akan masuk ke dalam vagina atau mengenai kulit pasangan. 
Jika mengalami gejala-gejala yang mengganggu setelah terjadi kontak dengan sperma, Anda disarankan untuk segera meghubungi dan berkonsultasi dengan dokter. Jangan malu untuk menyampaikan keluhan tersebut ke dokter. Ceritakan dengan jelas mengenai gejala-gejala yang dirasakan dan kapan gejala tersebut mulai muncul. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait alergi sperma?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis alergi sperma agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Women’s Health and Gynecology. https://scientonline.org/open-access/allergy-to-human-seminal-plasma-case-report-and-literature-review.pdf
Diakses pada 29 September 2021
International Society for Sexual Medicine. https://www.issm.info/sexual-health-qa/how-is-sperm-allergy-treated1/
Diakses pada 29 September 2021
International Society for Sexual Medicine. https://www.issm.info/sexual-health-qa/what-is-a-sperm-allergy/
Diakes pada 29 September 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/healthy-sex/semen-allergy
Diakses pada 29 September 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email