Saraf

Sensory Processing Disorder

10 Nov 2021 | Popy Hervi PutriDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Sensory Processing Disorder
Gangguan pemrosesan sensorik atau sensory processing disorder adalah kondisi yang terjadi ketika otak mengalami kesulitan menerima maupun merespons informasi yang masuk melalui indera.Informasi sensorik merupakan hal-hal yang Anda lihat, dengar, cium, rasa, atau sentuh. Sensory processing disorder dapat memengaruhi satu atau banyak indra.Gangguan proses sensorik biasanya menyebabkan seseorang terlalu sensitif terhadap rangsangan, yang tidak dimiliki oleh orang lain. Tapi gangguan ini juga dapat memicu efek sebaliknya, yakni dibutuhkan lebih banyak rangsangan untuk memengaruhi indranya.Sensory processing disorder umumnya dialami oleh anak-anak. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa kondisi ini juga dapat diderita oleh orang dewasa.Pada orang dewasa, gejala kondisi ini kemungkinan sudah ada sejak kecil. Tapi pasien dewasa biasanya lebih mampu untuk menyembunyikan atau menangani gejala yang dialami. 
Sensory Processing Disorder
Dokter spesialis Saraf
GejalaBerkelit saat disentuh, terus-menerus bergerak, sensitif terhadap bau
Faktor risikoFaktor keturunan
Metode diagnosisMemperhatikan tingkah laku penderita, tanya jawab
PengobatanTerapi integrasi sensorik, diet sensorik, terapi okupasi
KomplikasiGangguan motorik, gangguan kecemasan, depresi
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala sensory processing disorder
Secara umum, gejala sensory processing disorder meliputi:
  • Terus-menerus bergerak atau mudah lelah
  • Berkelit saat disentuh
  • Menolak makanan tertentu karena merasa aneh setelah mengunyah makanan
  • Terlalu sensitif terhadap bau
  • Terlalu sensitif terhadap bahan pakaian tertentu, sehingga hanya mau mengenakan pakaian yang lembut atau terasa nyaman
  • Tidak suka jika tangannya kotor
  • Tidak nyaman dengan beberapa gerakan, seperti berayun, meluncur, atau menuruni tanjakan, contohnya anak-anak mungkin sulit belajar memanjat pohon atau turun tangga
  • Sulit menenangkan diri setelah berolahraga atau marah
  • Melakukan gerakan melompat, berayun, dan berputar secara berlebihan
  • Tampak ceroboh, misalnya mudah tersandung atau memiliki keseimbangan tubuh yang buruk
  • Memiliki postur tubuh yang aneh
  • Kesulitan menggunakan benda-benda kecil, misalnya mengancingkan baju
  • Terlalu sensitif terhadap suara, seperti alat pengering rambut, alat sedot debu, atau sirene ambulans
  • Kurangnya kreativitas dan variasi dalam bermain, seperti anak hanya mau menonton televis atau menggunakan mainan yang sama dengan cara sama berulang kali
 
Hingga kini, penyebab sensory processing disorder belum diketahui. Namun ada faktor tertentu yang diduga bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengalaminya.Faktor risiko sensory processing disorder tersebut adalah keturunan. Orang tua yang mengalami autisme biasanya lebih rentan untuk memiliki dengan sensory processing disorder. 
Diagnosis sensory processing disorder dilakukan dengan beberapa metode pemeriksaan di bawah ini:
  • Mengamati perilaku penderita saat menghadapi situasi tertentu
  • Tanya jawab dengan pasien
  • Dokter biasanya juga akan memerhatikan cara pasien untuk berdiri, menyeimbangkan tubuh, koordinasi gerakan, merespons rangsangan, serta gerakan matanya
 
Cara mengobati sensory processing disorder umumnya akan tergantung pada tingkat keparahan penyakit dan kondisi kesehatan pasien secara umum. Beberapa langkah penanganan dari dokter bisa meliputi:

Terapi sensori integrasi

Terapi sensori integrasi menggunakan aktivitas yang menyenangkan dalam lingkungan yang terkendali. Di bawah pengawasan terapis, anak mengalami rangsangan tanpa merasa kewalahan. Dengan ini, anak dapat mengembangkan keterampilan dalam menghadapi rangsangan.Melalui terapi ini, keterampilan-keterampilan tersebut bisa menjadi respons sehari-hari terhadap rangsangan tertentu.

Diet sensorik

Diet sensorik kerap melengkapi terapi sensory processing disorder lainnya. Berbeda dengan diet untuk menurunkan berat badan, program ini memberikan daftar kegiatan sensorik yang bisa dilakukan oleh anak di rumah dan sekolah.Kegiatan tersebut disusun untuk membantu anak tetap fokus dan aktivitasnya tertata sepanjang hari. Sama halnya seperti terapi sensori integrasi, diet sensorik juga disesuaikan dengan kebutuhan pasien.

Terapi okupasi

Anak juga mungkin memerlukan terapi okupasi. Terapi ini dapat membantu dalam melatih:
  • Keterampilan motorik halus anak, seperti tulisan tangan dan menggunakan gunting, agar gejalanya lebih terkendali
  • Kendali pada keterampilan motorik kasar, contohnya gerakan melempar bola dan naik tangga
  • Keterampilan sehari-hari, seperti berpakaian dan menyisir rambut
 

Komplikasi sensory processing disorder

Jika tidak ditangani dengan benar, sensory processing disorder bisa menyebabkan komplikasi berupa: 
  • Gangguan motorik
  • Masalah perilaku
  • Gangguan kecemasan
  • Depresi
  • Kesulitan mengikuti proses belajar di sekolah
Baca juga: Mengenal Terapi Okupasi untuk Meningkatkan Kualitas Hidup 
Cara mencegah sensory processing disorder tidak diketahui hingga saat ini. Pasalnya, penyebabnya juga belum diketahui secara pasti. 
Hubungi dokter bila Anda mengalami gejala yang mengarah pada sensory processing disorder. Demikian pula jika Anda memiliki tanda atau gejala lain yang tidak disebutkan maupun kekhawatiran serta pertanyaan lainnya. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait sensory processing disorder?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis sensory processing disorder agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Family Doctor. https://familydoctor.org/condition/sensory-processing-disorder-spd/
Diakses pada 10 November 2021
WebMD. https://www.webmd.com/children/sensory-processing-disorder
Diakses pada 10 November 2021
University of Michigan Health. https://www.uofmhealth.org/health-library/te7831
Diakses pada 10 November 2021
Star Institute. https://sensoryhealth.org/basic/about-spd
Diakses pada 10 November 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email