Penyakit Lainnya

Sindrom Metabolik

14 Sep 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Sindrom Metabolik
Sindrom metabolik dapat meningkatkan risiko diabetes atau penyakit jantung
Sindrom metabolik adalah sekelompok kondisi yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, dan  beberapa jenis kanker.Metabolic syndrome pada awalnya muncul akibat peningkatan resistensi insulin. Resistensi insulin adalah kondisi tubuh yang tidak dapat menggunakan insulin sebagaimana mestinya. Insulin itu sendiri adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas untuk menyalurkan glukosa dalam darah ke sel-sel tubuh, dan kemudian akan digunakan sebagai energi. Seseorang dapat bertahun-tahun mengalami resistensi insulin tanpa pernah menyadarinya. Resistensi insulin menyebabkan kadar gula dalam darah menjadi tinggi karena tubuh tidak dapat mengubah glukosa menjadi energi.Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu gangguan kesehatan l lainnya seperti hipertensi, peningkatan kadar kolesterol, kenaikan kadar trigliserida, serta penumpukan lemak berlebih di perut dan sekitar pinggang.Seseorang dikatakan mengalami sindrom metabolik jika berbagai kondisi tersebut terjadi secara bersamaan.Penderita sindrom ini juga umumnya mengalami obesitas atau kegemukan. 
Sindrom Metabolik
Dokter spesialis Endokrin, Penyakit Dalam
GejalaLingkar pinggang besar, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi
Faktor risikoObesitas, riwayat diabetes dalam kehamilan (diabetes gestasional), mengidap PCOS
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah
PengobatanPerubahan gaya hidup, obat-obatan
ObatACE inhibitor, metformin
KomplikasiPenyakit jantung, diabetes, fatty liver
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami gejala seperti sindrom metabolik
Metabolic syndrome secara umum ditandai dengan:
  • Kadar trigliserida (lemak dalam darah) tinggi, yaitu lebih dari 150 mg/dL.
  • Kadar gula darah puasa tinggi (mencapai 100 mg/dL atau lebih).
  • Tekanan darah tinggi, lebih dari 140/90 mmHg. 
  • kadar kolesterol baik (HDL-C) rendah.
  • Lingkar pinggang besar karena peningkatan lemak perut. Llebih dari 90 cm pada pria dan lebih dari 80 cm pada wanita.
Sindrom metabolik umumnya tidak memiliki gejala yang jelas terlihat. Sebab, kondisi-kondisi seperti kenaikan tekanan darah, kenaikan kadar kolesterol, dan peningkatan kadar gula darah umumnya muncul perlahan dan tidak memunculkan tanda-tanda fisik pada awalnya.Oleh karena itu, gejala yang umumnya muncul adalah akumulasi gejala dari kelima kondisi di atas, seperti:
  • Nyeri dada atau sesak napas, dua gejala yang menandakan masalah pada sistem peredaran darah pada jantung atau paru-paru
  • Pada pasien yang sudah mengalami resistensi insulin disertai kadar gula darah yang tinggi atau disertai diabetes mellitus, akantosis nigrikans, hirsutisme, retinopati diabetik, serta neuropati perifer dapat muncul sebagai kondisi penyerta;
  • Sementara pada pasien yang menderita dislipidemia parah, xanthoma (kondisi kulit di mana muncul penumpukan lemak di berbagai bagian tubuh, khususnya pada kelopak mata atas) atau xanthelasma dapat muncul sebagai kondisi penyerta.
Jika Anda mengalami gejala di atas, maka Anda perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui risiko yang mungkin dapat ditimbulkan berkaitan dengan sindrom ini.
Sindrom ini sering kali dikaitkan dengan resistensi insulin, yang menyebabkan peningkatan kadar gula dalam darah.Memiliki terlalu banyak gula dalam darah untuk jangka waktu yang lama dapat menyebabkan masalah kesehatan serius. Hiperglikemia dapat merusak pembuluh yang memasok darah ke organ vital, yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, penyakit ginjal, masalah penglihatan, dan masalah saraf.Resistensi insulin juga sering kali dihubungan dengan gaya hidup tidak sehat, seperti kurangnya aktivitas fisik dan pola makan tidak sehat, yang dapat memicu kegemukan atau obesitas.Selain itu, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan faktor risiko sindrom ini, antara lain:
  • Umur. Risiko terkena sindrom metabolik akan meningkat seiring bertambahnya usia.
  • Obesitas atau kegemukan. Adanya penumpukan lemak khususnya pada bagian perut atau abdomen (perut buncit).
  • Risiko penyakit ini akan lebih tinggi jika Anda mengalami diabetes selama masa kehamilan (diabetes gestasional) atau memiliki riwayat keluarga dengan diabetes tipe 2.
  • Penyakit lainnya seperti penyakit kardiovaskular, non-alcoholic fatty liver atau sindrom polikistik ovarium juga meningkatkan risiko Anda terkena sindrom metabolik.
  • Stres oksidatif (kondisi di mana radikal bebas dalam tubuh berada pada jumlah yang melebihi kemampuan tubuh untuk menetralkannya)
  • Ritme sirkadian (jam biologis alami bagi tubuh untuk beraktifitas serta beristirahat selama 24 jam sesuai kebiasaan) yang terganggu
  • Faktor genetik
  • Ketidakseimbangan pada bakteri dalam usus
Dalam mendiagnosa sindrom metabolik, dokter umumnya memeriksa keberadaan tanda dan gejala yang menjadi kriteria sindrom metabolik , antara lain:
  • Obesitas sentral atau abdominal (penumpukan lemak di sekitar perut). Kondisi ini dapat dicari tahu lewat pengukuran lingkar pinggang. Jika lingkar pinggang lebih dari 94 cm (pada pria) atau 80 cm (pada wanita) maka kondisi ini dapat dikategorikan sebagai obesitas sentral atau abdominal. Kriteria lain adalah dengan pengukuran perbandingan antara lingkar pinggang dan lingkar panggul (waist-to-hip ratio) yaitu lebih dari 0,85 pada wanita dan 0,9 pada pria.
  • Kadar trigliserida yang melebihi 150 mg/dL
  • Kadar kolesterol HDL-C kurang dari 40 mg/dL (pada pria) dan 50 mg/dL (pada wanita)
  • Tekanan darah yang melebihi atau sama dengan 130/80 mmHg
  • Kadar glukosa ketika berpuasa yang melebihi 126 mg/dL
Tujuan dari pengobatan sindrom metabolik adalah untuk mengatasi kondisi-kondisi penyebab kemunculan sindrom dan mengurangi faktor yang dapat memicu aterosklerosis (pengerasan dinding pembuluh darah).Perubahan gaya hidup umumnya direkomendasikan untuk mengatasi sindrom ini, terutama untuk menurunkan berat badan sekaligus mengurangi kegemukan.Terdapat berbagai cara untuk mengurangi kegemukan yaitu melalui diet tertentu dan olahraga. Namun, sebelum melakukan diet atau olahraga tertentu, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan program yang sesuai dengan kondisi tubuh.Jika perubahan gaya hidup tidak dapat mengatasi sindrom ini, maka obat-obatan penurun kadar kolesterol dan juga obat-obatan yang dapat menurunkan tekanan darah dapat dipertimbangkan. Beberapa obat-obatan yang direkomendasikan biasanya meliputi:
  • Obat-obatan penurun tekanan darah seperti obat-obatan penghambat ACE.
  • Obat-obatan diabetes tipe 2 yang umumnya dipakai seperti metformin.

Komplikasi

Sindrom metabolik yang tidak ditangani dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan yang serius, seperti penyakit jantung dan diabetes, khususnya diabetes tipe 2. Selain itu beberapa kondisi medis yang dapat ditimbulkan dari sindrom ini antara lain,
  • Fatty liver yaitu penumpukan lemak pada hati yang dapat memicu peradangan hati menahun atau sirosis.
  • Mikroalbuminuria atau peningkatan kadar protein dalam urine yang merupakan indikasi masalah ginjal
  • Obstructive sleep apnea, gangguan pernafasan saat tidur yang ditandai dengan kesulitan bernapas akibat penyempitan saluran napas saat tidur
  • Sindrom ovarium polikistik atau PCOS
  • Meningkatnya risiko demensia (penurunan fungsi otak) seiring bertambahnya umur
  • Penurunan fungsi kognitif (proses berpikir) pada lansia
 
Sindrom metabolik terutama disebabkan oleh kurangnya aktifitas fisik yang disertai dengan berat badan berlebih. Karenanya, cara mencegah sindrom metabolik berkaitan erat dengan gaya hidup yang mesti dirubah ke arah yang sehat. Terdapat beberapa perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko serta mencegah sindrom ini, yaitu:
  • Menjalani diet sehat. Cara ini dapat dilakukan dengan menjalani diet yang ditujukan untuk menurunkan kadar kolesterol dan juga mengontrol tekanan darah. Diet ini meliputi pembatasan konsumsi karbohidrat menjadi tak lebih dari 50% total kalori, serta juga membatasi konsumsi lemak menjadi hanya 30% dari total kalori.
  • Berusaha untuk menurunkan berat badan jika tergolong kegemukan atau bahkan obesitas.. Usaha ini mesti dilakukan sampai setidaknya 5-10% total berat badan terkurangi. Usaha ini dapat dilakukan baik melalui diet yang dijalani, program olahraga, atau obat-obatan penurun berat badan yang diresepkan oleh dokter.
  • Program olahraga yang konsisten, umumnya olahraga selama 30 menit sehari yang dilakukan rutin selama 5 hari dalam seminggu. Aktivitas rutin dapat membantu mencegah timbulnya sindrom metabolik karena olahraga dapat meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin. Dengan begitu, kadar gula dalam darah juga dapat terjaga. Jika Anda memiliki kekhawatiran terkait kegiatan olahraga tertentu, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai program ini.
Anda perlu berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami gejala di atas atau berisiko mengalami sindrom ini. Dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk mengunjungi spesialis tertentu yang berfokus pada sindrom ini seperti spesialis diabetes, ahli endokrinologi atau ahli kardiologi.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter. 
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait sindrom metabolik?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis sindrom metabolik agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Grundy, S. M. et. al. (2005). Diagnosis and management of the metabolic syndrome. An American Heart Association/National Heart, Lung, and Blood Institute scientific statement, 112(2735-2752). https://www.ahajournals.org/doi/10.1161/circulationaha.105.169404
Diakses pada 8 September 2021
MayoClinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/metabolic-syndrome/symptoms-causes/syc-20351916
Diakses pada 9 Januari 2019
MedlinePlus. https://medlineplus.gov/metabolicsyndrome.html
Diakses pada 9 Januari 2019
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/165124-overview
Diakses pada 8 September 2021
WebMD. https://www.webmd.com/heart-disease/guide/metabolic-syndrome#1
Diakses pada 9 Januari 2019
Mycleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/10783-metabolic-syndrome
Diakses pada 8 September 2021
Heart.org. https://www.heart.org/en/health-topics/metabolic-syndrome/symptoms-and-diagnosis-of-metabolic-syndrome
Diakses pada 8 September 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email