Penyakit Lainnya

Spondilosis Servikal

09 Oct 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Spondilosis Servikal
Spondilosis servikal dapat menyebabkan leher terasa sakit dan kaku
Spondilosis servikal (spondylosis cervicalis) adalah kondisi rusaknya ruas tulang belakang yang terletak di leher (cervical spine). Kondisi ini memengaruhi sendi dan diskus (bantalan tulang belakang) yang menyebabkan rasa sakit, leher kaku, dan sakit kepala. Perubahan yang terjadi pada spondilosis servikal bersifat degeneratif, alias akan memburuk seiring bertambahnya usia. Kondisi ini sangat umum terjadi. Lebih dari 85% orang yang telah menginjak usia 60 tahun mengalami spondylosis cervicalisPenyakit yang juga dikenal dengan istilah osteoartritis servikal atau artritis leher ini umumnya dapat diatasi dengan obat-obatan dan terapi fisik. 
Spondilosis Servikal
Dokter spesialis Ortopedi
GejalaNyeri leher, kaku leher, sakit kepala
Faktor risikoPekerjaan yang membutuhkan gerakan leher berulang, cedera leher, keturunan
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, CT scan, MRI
PengobatanObat-obatan, terapi fisik, operasi
ObatNSAID, steroid, pelemas otot
KomplikasiParaplegia, tetraplegia, infeksi dada berulang.
Kapan harus ke dokter?Memiliki gejala spondilosis servikal
Kebanyakan orang yang mengalami spondylosis cervicalis tidak mengalami gejala, kecuali kerusakan yang terjadi cukup berat. Gejala yang umum dirasakan karena spondilosis servikal adalah nyeri dan kaku pada leher. Nyeri biasanya akan membaik saat berbaring atau beristirahat.Rasa sakit yang dirasakan bisa ringan sampai berat. Hal yang dapat memperburuk nyeri meliputi gerakan mendongak atau menunduk dalam waktu lama. Aktivitas lain yang menyebabkan leher tidak berubah posisi dalam waktu lama, seperti berkendara atau membaca, juga bisa memperparah rasa nyeri.Terkadang, spondilosis servikal dapat menyebabkan penyempitan pada saluran yang dilalui oleh saraf tulang belakang maupun saluran keluar saraf-saraf cabang dari saraf tulang belakang. Kondisi ini akan menimbulkan gejala yang meliputi:
  • Sakit kepala.
  • Kesemutan, rasa kebas, dan kelemahan pada tangan atau kaki.
  • Gangguan koordinasi, misalnya kesulitan mengancing baju.
  • Gangguan atau kesulitan berjalan.
  • Gangguan kontrol buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK).
Proses penuaan merupakan penyebab utama terjadinya spondilosis servikal. Seiring bertambahnya usia, tulang maupun tulang rawan di tulang belakang servikal akan mengalami kerusakan, berupa:
  • Pengecilan diskus (bantalan antar tulang belakang) yang membuat ruas tulang belakang saling bergesekan.
  • Kelemahan cincin yang mengelilingi diskus sehingga terjadi penonjolan diskus yang dapat menekan saraf tulang belakang maupun saraf kecil yang keluar dari tulang belakang menuju ke bagian tubuh tertentu.
  • Pembentukan taji tulang yang dipicu oleh kerusakan diskus. Diskus yang rusak akan menyebabkan terbentuk tulang tambahan untuk memperkuat tulang belakang. Tambahan tulang yang disebut taji tulang inilah yang dapat menekan saraf.
  • Kekakuan ligamen. Ligamen merupakan jaringan penghubung antartulang. Ligamen tulang servikal yang kaku akan menyebabkan leher terasa kaku.
Selain proses penuaan, terdapat beberapa hal lain yang juga dapat meningkatkan risiko Anda mengalami spondilosis servikal:
  • Pekerjaan yang membutuhkan pergerakan leher berulang, postur leher yang salah, dan membawa beban berat di atas leher akan meningkatkan tekanan pada leher.
  • Cedera leher.
  • Faktor keturunan, jika terdapat anggota keluarga yang juga menderita spondilitis servikal.
  • Merokok.
Untuk mendiagnosis kondisi ini, dokter akan memeriksa dan memastikan gejala yang Anda alami bukan disebabkan oleh penyakit lain. Pasalnya, beberapa penyakit lain, seperti fibromyalgia memiliki gejala serupa. Dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan seperti:Tanya jawab dan pemeriksaan fisikDokter akan menanyakan gejala yang dirasakan oleh pasien. Selanjutnya, dokter akan meninjau gerakan yang mengarah pada saraf, tulang, dan otot yang terdampak. Pemeriksaan tersebut meliputi:
  • Pergerakan leher dengan menguji rentang gerak leher.
  • Refleks dan kekuatan otot.
  • Cara berjalan.
Pemeriksaan penunjangJika dokter mencurigai pasien mengidap spondylosis cervical, dokter akan memastikannya dengan menjalankan beberapa tes berikut:
  • Rontgen: untuk melihat kelainan yang muncul pada spondilosis, seperti taji tulang, pengecilan diskus, dan posisi tulang belakang.
  • CT scan: untuk melihat struktur tulang leher (servikal) secara lebih detail dan jelas dibandingkan rontgen.
  • MRI: untuk melihat keadaan bantalan dan otot sekitar tulang servikal serta mengecek ada atau tidaknya saraf yang terjepit.
  • Mielografi: dengan menggunakan zat kontras yang disuntikkan ke saluran tulang belakang agar saraf tulang belakang terlihat lebih jelas pada rontgen atau CT scan.
  • Elektromiogram (EMG): tes yang dilakukan untuk memeriksa apakah saraf berfungsi normal saat mengirim sinyal ke otot. Tes ini akan mengukur aktivitas listrik saraf dengan menempatkan elektroda pada kulit tempat saraf berada.
Pengobatan spondylosis cervicalis yang dijalani pasien akan bergantung pada tingkat keparahannya. Tujuan pengobatan akan berfokus untuk mengurangi rasa sakit, memungkinkan pasien untuk beraktivitas dengan normal, dan untuk mencegah kerusakan saraf permanen. Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk pengobatan spondilosis. 1. Kompres es atau air hangat, dan pemijatanSebagai langkah awal, kompres es atau air hangat, dan pijatan di area timbulnya rasa sakit atau pegal dapat membantu meringankan gejala. Biasanya kompres dapat diberikan hingga beberapa kali sehari, satu sesinya tidak lebih dari 20 menit. Memijat lembut area yang sakit juga dapat dicoba. Akan tetapi, diskusikan terlebih dahulu dengan dokter untuk mencegah salah pijat.2. FisioterapiFisioterapi dapat melatih pasien untuk berlatih gerakan tertentu yang mendukung peregangan dan melatih kekuatan otot, serta memperbaiki postur tubuh. Berbagai kegiatan tersebut dapat meredakan leher nyeri dan kaku akibat spondylosis cervicalis. Fisioterapi dapat dilakukan di fasilitas kesehatan yang menyediakan atau di rumah. Lama program fisioterapi bisa berbeda-beda pada tiap pasien, namun biasanya antara 6-8 minggu dengan frekuensi 2-3 kali per minggu. Tindakan ini harus dibawah pengawasan dokter spesialis rehabilitasi medik.3. Obat minumDokter mungkin akan meresepkan beberapa obat yang diberikan berdasarkan keparahan rasa sakit yang pasien alami. Beberapa di antaranya adalah:
  • Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID)  yang dijual bebas, seperti ibuprofen atau naproxen sodium.
  • Relaksan otot, seperti cyclobenzaprine yang dapat mengobati kejang otot. 
  • Pereda nyeri saraf, seperti gabapentin, dapat mengurangi rasa nyeri di lengan yang berhubungan kerusakan saraf.
4. Soft cervical collar Soft cervical collar adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengurangi pergerakan leher dan mengistirahatkan otot leher. Alat ini tidak boleh dipakai terlalu lama karena akan menyebabkan kelemahan otot leher.5. Obat suntik Obat injeksi atau yang disuntikkan dapat membuat gejala mereda dalam waktu yang singkat. Biasanya obat yang diberikan adalah obat anti nyeri golongan steroid. Penyuntikan steroid digunakan untuk penanganan nyeri jangka pendek. Ada tiga prosedur injeksi steroid yang umum, antara lain:
  • Cervical epidural block. Nyeri leher atau lengan karena bantalan saraf leher yang keluar (herniasi diskus serviks) dapat diobati dengan suntikan kombinasi steroid dan anestesi. Penyuntikan dilakukan ke dalam ruang epidural, yaitu ruang di sebelah penutup sumsum tulang belakang.
  • Cervical facet joint block, merupakan injeksi yang berisi steroid plus anestesi. Disuntikkan ke dalam sendi kecil di segmen tulang belakang leher yang terdampak.
  • Media branch block and radiofrequency ablation. Teknik ini digunakan untuk mendiagnosis dan mengobati nyeri leher kronis. Jika rasa sakit berkurang dengan suntikan obat bius, area itu akan jadi titik perawatan. Perawatan tersebut dinamakan radiofrequency ablation yang dilakukan dengan menargetkan gelombang suara pada saraf yang rusak. 
7. OperasiOperasi bedah dapat dipertimbangkan untuk dilakukan bagi kasus spondylosis cervical yang parah. Pembedahan dapat melibatkan pengangkatan taji tulang dan menyatukan tulang belakang atau menciptakan lebih banyak ruang untuk sumsum tulang belakang dengan mengangkat sebagian tulang belakang.Prosedur ini hanya dianjurkan jika terdapat kasus penekanan saraf yang tidak kunjung sembuh setelah diberikan berbagai pengobatan. 

Komplikasi

Jika tidak ditangani dengan baik, spondilosis servikal dapat menyebabkan komplikasi seperti:
  • Paraplegia, yakni gangguan fungsi sensorik atau motorik pada tungkai bawah (kaki).
  • Tetraplegia, yaitu kelumpuhan yang terjadi di lengan, tangan, badan, kaki, tungkai, dan panggul.
  • Infeksi dada berulang.
  • Luka tekan, akibat adanya cedera dari tulang yang menggencet permukaan kulit bagian luar dalam waktu yang lama
  • Nyeri kronis dan gangguan saraf yang serius hingga dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sumsum tulang belakang.
Spondilosis servikal termasuk penyakit yang tidak dapat dicegah, karena sebagian besar merupakan bagian dari proses penuaan alami. Namun, Anda tetap bisa melakukan beberapa cara di bawah ini untuk mengurangi risikonya:
  • Olahraga teratur setidaknya 3 kali seminggu dengan durasi minimal 30 menit.
  • Menjaga postur badan tetap baik.
  • Menghindari cedera leher, misalnya dengan memakai alat pelindung yang tepat saat berolahraga.
  • Hindari kebiasaan membungkuk terutama saat menggunakan gawai.
Anda disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gejala-gejala yang telah dijelaskan di atas.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter. 
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait spondylosis cervicalis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis spondilosis servikal agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
American Academy of Orthopaedic Surgeons. https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases--conditions/cervical-spondylosis-arthritis-of-the-neck/
Diakses pada 5 Oktober 2021
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/cervical-spondylosis/
Diakses pada 5 Oktober 2021
The Western Journal of Medicine. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8855684/
Diakses pada 5 Oktober 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cervical-spondylosis/symptoms-causes/syc-20370787
Diakses pada 5 Oktober 2021
WebMD. https://www.webmd.com/osteoarthritis/cervical-osteoarthritis-cervical-spondylosis#1
Diakses pada 5 Oktober 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/cervical-spondylosis
Diakses pada 5 Oktober 2021
Yashoda Hospitals. https://www.yashodahospitals.com/diseases-treatments/cervical-spondylosis-symptoms-complications/#
Diakses pada 5 Oktober 2021
Columbia Neurology. http://www.columbianeurology.org/neurology/staywell/document.php?id=41974
Diakses pada 12 April 2019
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17685-cervical-spondylosis#management-and-treatment
Diakses pada 5 Oktober 2021
British medical journal. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1819511/
Diakses pada 5 Oktober 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email