Kulit & Kelamin

Striktur Uretra

24 Nov 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Striktur Uretra
Striktur uretra dapat menyebabkan aliran urin terhambat karna menyempitnya uretra.
Striktur uretra adalah penyempitan pada uretra yang membuat aliran urine terhambat. Kondisi ini dapat terjadi akibat adanya jaringan parut atau pembengkakan pada uretra.  Uretra adalah saluran yang membawa urine dari kandung kemih untuk dikeluarkan dari tubuh. Pada pria, uretra terletak mulai dari pembukaan kandung kemih bagian bawah, leher kandung kemih, dan melintasi seluruh badan penis. Panjang uretra pria berkisar antara 15-25 cm. Sementara itu, uretra pada wanita terletak dari kandung kemih hingga ke muaranya, tepat di depan vagina. Panjang uretra wanita lebih pendek dari pria, yakni antara 2,5 hingga 4 cm.Biasanya uretra cukup lebar untuk dilalui urine. Akan tetapi, adanya penyempitan pada uretra dapat menghambat aliran urine. Akibatnya, berbagai masalah medis pada saluran kemih dapat terjadi seperti infeksi atau radang.Penyakit striktur uretra lebih sering terjadi pada pria dari pada wanita.
Striktur Uretra
Dokter spesialis Urologi
GejalaAliran urine yang lemah, perasaan mendesak saat berkemih, nyeri berkemih
Faktor risikoMengidap infeksi menular seksual, uretritis, pemasangan kateter
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes urine, sistoskopi
PengobatanDilatasi uretra, Operasi
Kapan harus ke dokter?Saat mengalami gejala striktur uretra
Striktur uretra dapat ditandai oleh banyak gejala dengan tingkat keparahan yang beragam, dari ringan hingga berat.Beberapa gejala striktur uretra di antaranya adalah:
  • Aliran urine yang lemah atau pengurangan volume urine
  • Perasaan sangat mendesak saat buang air kecil
  • Perasaan tidak tuntas saat buang air kecil (anyang-anyangan)
  • Urine yang sering terhenti tiba-tiba
  • Nyeri atau sensasi terbakar saat buang air kecil
  • Ketidakmampuan untuk mengendalikan buang air kecil
  • Nyeri pada perut bawah
  • Keluarnya cairan dari penis
  • Pembengkakan dan nyeri pada penis
  • Keluar darah dalam urine atau air mani
  • Infeksi saluran kemih
  • Urine berwarna gelap
  • Ketidakmampuan untuk buang air kecil 
Striktur uretra terjadi karena adanya peradangan pada jaringan atau munculnya jaringan parut. Keduanya dapat terjadi karena berbagai faktor. Anak laki-laki yang menjalani  operasi hipospadia (prosedur untuk memperbaiki kondisi cacat pada saluran uretra) atau laki–laki dewasa yang menjalani implan penis memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami striktur uretra.Straddle injury atau cedera yang terjadi pada selangkangan adalah jenis trauma umum yang dapat menyebabkan striktur uretra. Kondisi ini bisa terjadi karena jatuh dari sepeda atau terbentur di daerah dekat skrotum (kantung buah zakar).Penyebab lain yang menyebabkan striktur uretra adalah:
  • Fraktur pelvis (patah tulang panggul)
  • Pemasangan kateter
  • Radiasi
  • Operasi prostat
  • Benign prostatic hyperplasia (pembesaran prostat jinak)
Selain penyebab umum di atas, berikut adalah penyebab penyempitan uretra yang lebih jarang terjadi:
  • Tumor yang terletak di dekat uretra
  • Infeksi saluran kemih yang tidak diobati atau berulang
  • Infeksi menular seksual (IMS), seperti gonore atau klamidia

Faktor Risiko

Beberapa faktor berikut ini dapat meningkatkan risiko seseorang (terutama pria) terkena striktur uretra:
  • Mengalami satu atau lebih infeksi menular seksual (IMS).
  • Pernah memakai kateter (alat bantu berbentuk selang khusus yang sifatnya fleksibel, digunakan untuk menghisap urine dari kandung kemih) dalam waktu dekat
  • Pernah menderita radang uretra (uretritis)
  • Mengalami pembesaran prostat
Dokter akan melakukan pemeriksaan dan melakukan beberapa tes untuk mendiagnosa striktur uretra, seperti:
  • Meninjau gejala dan riwayat medis (anamnesis). Dokter akan bertanya tentang penyakit atau prosedur medis di masa lalu untuk mengetahui kemungkinan faktor risikonya.
  • Melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik pada area penis dapat membantu dokter mengidentifikasi adanya striktur uretra, seperti melihat apakah terdapat kemerahan atau cairan keluar dari penis, dan apakah ada satu atau lebih area yang bengkak.
  • Mengukur laju aliran urine saat buang air kecil. Pemeriksaan medis ini dilakukan dengan bantuan USG, dokter akan melihat seberapa banyak urine yang tersisa di dalam kandung kemih.
  • Tes urine untuk menentukan apakah terdapat bakteri, darah, atau kemungkinan seseorang sedang menderita infeksi menular seksual.
  • Sistoskopi, yaitu prosedur endoskopi yang dilakukan dengan memasukkan selang kecil berkamera ke dalam tubuh untuk melihat bagian dalam kandung kemih dan uretra. Dikarenakan saluran uretra dapat melebar saat prosedur ini dilakukan, pasien akan diberikan obat bius di area tersebut.
  • Mengukur ukuran pembukaan uretra. Pengukuran dilakukan saat pasien buang air kecil.
  • Pemeriksaan kanker prostat. Pemeriksaan dapat dilakukan secara manual atau lewat tes PSA (prostate specific antigen).
  • Retrograde urethrogram. Tes rontgen dengan menempatkan kateter di ujung saluran uretra. Kemudian, cairan iodin dimasukkan lewat uretra untuk membuat saluran tersebut terlihat jelas. Tes ini difokuskan apabila striktur pada uretra diduga terjadi di bagian ujung, yaitu lubang kencing pada penis.
  • Antegrade cystourethrogram. Tes ini mirip seperti tes sebelumnya yang memasukkan cairan iodin ke dalam pangkal saluran uretra. Warna kontras dari cairan ini dapat dilihat lewat alat pencitraan, sehingga dapat terlihat seberapa banyak cairan yang keluar dari uretra. Tes ini dilakukan apabila striktur terjadi di bagian pangkal, yaitu area perut bagian bawah.
  • Tes pencitraan lain, seperti ultrasonografi, MRI, atau CT scan juga dapat digunakan untuk memastikan letak, panjang, dan seberapa besar penyempitan terjadi pada uretra.
Baca jawaban dokter: Berapa jumlah dan volume urine yang normal dalam sehari
Ketika striktur telah terjadi pada uretra, maka kondisi ini bisa menetap dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pengobatan dengan segera.Tidak ada obat untuk mengobati striktur uretra. Namun, ada beberapa prosedur medis yang bisa dilakukan, baik bedah maupun non-medah.Beberapa pilihan pengobatan striktur uretra, meliputi:

1. Pelebaran saluran uretra

Pengobatan utama dari striktur uretra adalah dengan prosedur dilatasi uretra untuk melebarkan saluran uretra yang menyempit. Prosedur ini dilakukan dengan alat yang disebut dilator. Alat ini nantinya akan dimasukkan ke saluran uretra dan bekerja dengan melebarkan saluran tersebut. Tindakan ini termasuk non-bedah dan dapat dilakukan secara rawat jalan.Selain menggunakan dilator, pelebaran saluran uretra juga bisa dilakukan dengan menempatkan kateter urine secara permanen. Prosedur ini biasanya dilakukan pada kasus penyempitan yang parah.

2. Uretrotomi

Prosedur ini dilakukan dengan menggunakan suatu alat yang disebut urethrotome. Alat ini memiliki pisau kecil di ujungnya untuk menemukan jaringan parut yang menghambat uretra.Alat ini digunakan untuk mengiris jaringan parut sehingga jalur uretra bisa kembali lebar.

3. Uretroplasti terbuka

Uretroplasti adalah operasi rekonstruksi yang dilakukan dengan pembedahan terbuka. Pada prosedur ini, dokter akan mengangkat dan melakukan penggantian uretra yang telah menyempit akibat jaringan parut. Tindakan ini merupakan gold standar (standar utama) dalam pengobatan kasus striktur yang parah dan sudah berlangsung lama.

4. Operasi pengalihan aliran urine (urine flow diversion)

Pilihan operasi lain untuk kasus striktur uretra yang parah adalah dengan mengalihkan aliran urine secara permanen. Melalui operasi ini, dokter akan membuat lubang di perut yang nantinya akan menjadi aliran keluar urine baru. Tindakan ini melibatkan penggunaan bagian dari usus untuk membantu menghubungkan ureter ke lubang tersebut. Operasi pengalihan urine hanya dilakukan jika kandung kemih sudah rusak parah atau perlu diangkat.

5. Penempatan stent uretra

Pada prosedur ini, dokter akan memasukkan suatu alat yang disebut stent melalui metode endoskopi ke area striktur. Setelah mencapai lokasi yang tepat, dokter akan membuka stent tersebut untuk membentuk tabung paten sebagai saluran urine. Operasi ini direkomendasikan bagi pasien yang kondisinya tidak memungkinkan untuk menjalani operasi lainnya.Biasanya, pengobatan dengan pembedahan direkomendasikan untuk pasien dengan kondisi:
  • Bermasalah dalam buang air kecil, seperti kesulitan buang air kecil atau aliran urine yang terlalu lemah.
  • Memiliki batu di kandung kemih.
  • Berulang kali mengalami infeksi saluran kemih.
  • Gagal diobati dengan tindakan non-operasi.
Baca juga: Bagaimana Proses Pemasangan Kateter Urine untuk Buang Air Kecil?
Striktur uretra tidak selalu dapat dicegah. Akan tetapi, mencegah penyakit menular seksual bisa meminimalisasi risiko terkena penyempitan uretra.Beberapa cara berikut dapat dilakukan untuk mencegah kondisi striktur uretra:
  • Saat Anda perlu menggunakan kateter, gunakan gel untuk membasahi saluran kateter. Gunakan juga kateter yang paling kecil dan usahakan hanya memakainya dalam waktu singkat.
  • Hindari kontak seksual dengan seseorang yang mungkin menderita infeksi menular seksual.
  • Gunakan kondom saat berhubungan seks dan jangan bergonta-ganti pasangan seksual
  • Periksakan diri ke dokter secara rutin, khususnya untuk pemeriksaan infeksi menular seksual.
  • Hindari cedera pada area panggul. Misalnya dengan selalu menggunakan alat pelindung yang tepat saat berolahraga.
Baca juga: Kenali 5 Penyakit Menular Seksual pada Pria dan Gejalanya
Sangat penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika Anda mengalami gejala striktur uretra. Penanganan dini dari kondisi ini adalah cara terbaik untuk menghindari komplikasi serius.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini: 
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait striktur uretra?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis striktur uretra agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Healthline. https://www.healthline.com/health/urethral-stricture
Diakses pada 14 Oktober 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/urethral-stricture/symptoms-causes/syc-20362330
Diakses pada 6 Desember 2018
Medicine Net. https://www.medicinenet.com/urethral_stricture/article.htm
Diakses pada 14 Oktober 2021
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/324983#prevention
Diakses pada 14 Oktober 2021
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/001271.htm
Diakses pada 14 Oktober 2021
Deutsches Ärzteblatt international. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3627163/
Diakses pada 14 Oktober 2021
Urology Care Foundation. https://www.urologyhealth.org/urology-a-z/u/urethral-stricture-disease
Diakses pada 19 Oktober 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email