Gigi & Mulut

Tongue Thrust

13 Apr 2022 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Tongue Thrust
Tongue thrust adalah kebiasaan menempatkan lidah pada posisi yang salah. Biasanya, orang yang mengalami tongue thrust akan terlihat menjulurkan lidah terlalu ke depan saat menelan, berbicara, bahkan ketika diam. Pada bayi, lidah menjulur adalah hal yang normal karena mereka terbiasa menjulurkan lidahnya saat menyusu. Begitu beralih ke makanan padat dan mulai berbicara, kebiasaan menjulurkan lidah ini biasanya menghilang secara alami. Namun, jika tongue thrust masih berlanjut hingga masa kanak-kanak bahkan ketika dewasa, hal ini dapat menandakan suatu kondisi medis. Misalnya, karena adanya gangguan pada otot-otot mulut, bibir, rahang, atau wajah yang dipicu oleh kebiasaan menelan yang buruk, alergi kronis, tongue-tie, hingga stres. Lidah menjulur harus diatasi karena bisa menyebabkan masalah pada gigi, rahang, perubahan struktur wajah, dan kemampuan bicara seseorang. Sekitar 80% pasien tongue thrust bahkan dilaporkan memiliki masalah saluran napas.Baca juga: Mengenal Bagian-bagian Lidah, Tipe, dan Fungsi Lengkapnya
Tongue Thrust
Dokter spesialis Anak, Gigi, THT, Patologi
GejalaPosisi mulut yang hampir selalu terbuka, lidah yang menjulur di antara gigi depan, cadel, gigi tonggos
Faktor risikoKebiasaan mengisap jempol, penggunaan dot dalam jangka panjang, mengidap alergi kronis
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, pemeriksaan gigi
PengobatanTerapi Myofungsional, perawatan gigi, penggunaan perangkat mulut
KomplikasiKerusakan gigi, gangguan bicara, masalah saluran napas
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala tongue thrust
Salah satu gejala yang paling jelas dari tongue thrust adalah lidah yang mendorong gigi saat menelan atau berbicara sehingga menjulur keluar. Selain itu, beberapa gejala tongue thrust lainnya, yaitu:
  • Posisi mulut yang hampir selalu terbuka 
  • Lidah yang menjulur di antara gigi depan
  • Lidah menempel pada gigi atas atau bawah saat sedang diam
  • Ketidakmampuan untuk menutup bibir dengan nyaman
  • Kebiasaan menjilat bibir atau mengerutkan bibir sebelum menelan
  • Bibir pecah-pecah karena sering menjilat bibir
  • Dagu berkontraksi dan otot-otot di sekitar mulut bergerak saat menelan
  • Bernapas lewat mulut 
  • Cadel atau kesulitan melafalkan huruf-huruf tertentu
  • Open bite atau gigitan terbuka, yaitu gigi atas sama sekali tidak menyentuh gigi bawah
  • Kesulitan menelan yang menyebabkan anak berantakan saat makan 
  • Gigi tonggos (overjet)
  • Perubahan pada struktur wajah yang biasanya menyebabkan muka terlihat lebih lonjong dan lidah berukuran lebih besar dari ukuran normal.
Tongue thrust termasuk ke dalam gangguan myofungsional orofacial. Kondisi ini memengaruhi fungsi otot mulut dan wajah. Ada beberapa penyebab lidah menjulur, antara lain:
  • Kebiasaan mengisap jempol, pakaian, atau rambut
  • Penggunaan dot dalam jangka panjang
  • Tongue tie yang tidak diobati 
  • Alergi kronis yang disertai dengan radang amandel atau kelenjar gondok
  • Kebiasaan bernapas lewat mulut
  • Kebiasaan menggigiti kuku, bibir, atau bagian dalam pipi
  • Hidung tersumbat yang menyebabkan bernapas lewat mulut
  • Gigi copot sebelum waktunya
  • Memiliki lidah yang berukuran sangat besar
  • Kebiasaan mengunyah benda yang bukan makanan, misalnya pulpen atau sedotan
  • Stres (umumnya pada pasien dewasa)
  • Bentuk otot dan struktur orofasial yang berbeda atau tidak seimbang
  • Genetik 
Untuk mendiagnosis tongue thrust, Anda dapat memeriksakan anak ke sejumlah dokter, seperti dokter umum, dokter anak, ahli patologi bahasa dan wicara, dokter THT, atau dokter gigi.Biasanya, dokter akan menanyakan gejala dan riwayat kesehatan anak dan keluarga. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengamati cara anak dalam berbicara dan menelan serta melihat posisi lidah saat sedang menelan.Dalam banyak kasus, tongue thrust tidak disadari sampai anak menjalani pemeriksaan gigi baik saat pemeriksaan gigi rutin atau ketika terdapat masalah pada gigi.Seorang ahli patologi wicara-bahasa (SLP) dapat mendiagnosis tongue thrust saat memeriksa kondisi anak yang cadel. Sementara dokter THT biasanya mendiagnosis kondisi ini dari temuan penyumbatan jalan napas karena alergi atau adanya pembesaran kelenjar gondok dan amandel.
Pengobatan tongue thrust bergantung pada kondisi pasien dan penyebab tongue thrust itu sendiri. Misalnya, Jika tongue thrust disebabkan oleh radang amandel atau kelenjar gondok, pembedahan mungkin diperlukan. Dokter juga dapat mengobati terlebih dahulu masalah pada hidung, alergi atau gangguan pernapasan yang menyebabkan tongue thrust. Di samping mengobati penyebabnya, dokter juga dapat merekomendasikan beberapa perawatan tongue thrust untuk mengatasi gejalanya. Beberapa jenis perawatan tongue thrust yang paling umum di antaranya adalah:1. Terapi myofungsionalTerapi myofungsional adalah serangkaian latihan khusus yang bertujuan untuk memperbaiki penempatan bibir, rahang, dan lidah dengan cara berikut:
  • Melatih lidah dan mulut agar berfungsi dengan baik saat menelan dan bernapas.
  • Membantu lidah tetap berada di posisi yang tepat saat bibir tertutup
  • Memosisikan gigi atas dan bawah agar menyatu
  • Memosisikan lidah pada langit-langit mulut dalam posisi alaminya
2. Perangkat khusus untuk mulutBeberapa perangkat mulut, seperti pelindung mulut yang dipasang khusus untuk membantu mencegah lidah Anda menekan gigi. Alat ini dapat dipakai di waktu-waktu tertentu atau sepanjang hari. 3. Perawatan gigiTergantung pada tingkat keparahan tongue thrust yang dialami, beberapa perawatan gigi dapat diberikan. Misalnya jika anak memiliki gigi tonggos, dokter dapat memasang kawat gigi (behel) atau aligner (Invisalign) untuk merapikan susunan gigi.Alat khusus bernama “tongue crib” juga dapat dipasang pada langit-langit mulut. Tindakan ini dilakukan untuk mengoreksi gigi atas yang menjorok ke depan. 4. Terapi perilaku Terapi perilaku dapat membantu mengurangi pola kebiasaan yang berulang seperti mengisap ibu jari, penggunaan dot, atau bernapas lewat mulut yang menjadi penyebab tongue thrust. 5. Terapi wicaraTerapi wicara dibutuhkan untuk mengatasi hambatan bicara atau berkomunikasi anak yang mengalami tongue thrust. Ahli patologi wicara dapat memberikan rencana latihan yang dirancang untuk menerapkan pola menelan yang normal, serta cara berbicara yang benar.Terapi ini juga dapat ditujukan pada Anak yang cadel karena tidak bisa melafalkan beberapa huruf tertentu. 

Komplikasi 

Tongue thrust yang tidak diobati dengan baik dapat menyebabkan sejumlah komplikasi, seperti:
  • Kerusakan gigi, seperti gigi renggang atau gigi berantakan (maloklusi) karena terdorong akibat tekanan konstan yang dihasilkan lidah menjulur
  • Gangguan bicara akibat posisi lidah yang salah sehingga tidak bisa bicara dengan jelas
  • Masalah saluran napas yang memicu tidur mendengkur, sleep apnea, atau menggertakan gigi. 
  • Refluks asam lambung karena menelan udara berlebihan akibat mulut yang selalu terbuka
  • Dislokasi sendi temporomandibular karena pola mengunyah yang salah
  • Tampilan wajah yang berubah akibat otot-otot pipi, dagu, dan bibir yang mengencang sehingga dagu terlihat menonjol dan ekspresi menyeringai yang tidak disadari
Baca jawaban dokter: Seperti apa bentuk gangguan bicara pada anak?
Tongue thrust dapat dicegah dengan beberapa langkah berikut ini:
  • Memperbaiki kebiasaan anak agar tidak mengisap jempol, menggigiti kuku, atau bernapas lewat mulut
  • Menghentikan penggunaan dot pada waktunya
  • Mengobati alergi kronis yang diderita
  • Memperbaiki kondisi tongue tie yang mungkin dimiliki anak
  • Mengelola stres
  • Melakukan pemeriksaan gigi rutin 
Baca juga: Cara Menghilangkan Kebiasaan Mengisap Jempol pada Anak
Segera konsultasikan pada dokter apabila anak menunjukkan tanda dan gejala tongue thrust.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda atau anak Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda atau anak Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda atau anak Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter. 
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda atau anak Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda atau anak Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait tongue thrust?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis tongue thrust agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Cincinnatichildrens. https://www.cincinnatichildrens.org/health/o/orofacial-disorders#
Diakses pada 28 Maret 2022
Healthline. https://www.healthline.com/health/tongue-thrust#
Diakses pada 28 Maret 2022
Publications of the American Speech-Language. https://leader.pubs.asha.org/do/10.1044/tongue-thrust-and-treatment-of-subsequent-articulation-disorders/full/
Diakses pada 28 Maret 2022
Killaradental.https://killaradental.com.au/tongue-thrust-habits-children-adults-cause-effects-treatments/
Diakses pada 28 Maret 2022
Floss Lincoln. https://www.flosslincoln.com/tongue-thrust-therapy
Diakses pada 28 Maret 2022
Braces San Diego.https://www.bracessandiego.com/tongue-thrust-therapy
Diakses pada 28 Maret 2022
Reflective Smiles. https://www.reflectivesmiles.com/services/tongue-thrust
Diakses pada 28 Maret 2022
Auraortho. https://www.auraortho.com/what-is-tongue-thrust-and-why-is-it-a-concern/
Diakses pada 28 Maret 2022
Speechbuddy. https://www.speechbuddy.com/blog/speech-therapy-techniques/what-is-tongue-thrust/
Diakses pada 28 Maret 2022
Hartrick Dentistry. https://www.hartrickdentistry.com/signs-of-tongue-thrust-and-what-to-do-about-it/
Diakses pada 28 Maret 2022
The American Speech-Language-Hearing Association. https://www.asha.org/public/speech/disorders/orofacial-myofunctional-disorders/
Diakses pada 28 Maret 2022
European Journal of Orthodontics . https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26136435/
Diakses pada 28 Maret 2022
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email