Kulit & Kelamin

Trikomoniasis

09 Oct 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Trikomoniasis
Gejala trikomoniasis adalah nyeri pada perut bawah, keputihan, dan rasa sakit saat buang air kecil.
Trikomoniasis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh parasit Trichomonas Vaginalis. Penyakit yang dikenal dengan istilah “trich” ini lebih sering menyerang perempuan, tapi bisa juga menyerang laki-laki.Trikomoniasis pada pria biasanya tidak menunjukkan gejala apapun. Namun pada perempuan, infeksi ini dapat menyebabkan keputihan berbau tidak sedap, rasa gatal di vagina, dan rasa sakit ketika buang air kecil.Trikomoniasis yang parah dan terlambat ditangani dapat menyebabkan risiko melahirkan bayi prematur, apabila infeksi terjadi dalam masa kehamilan. Risiko penularan penyakit trikomoniasis dapat dihindari dengan menggunakan kondom ketika berhubungan seksual dan menghindari bergonta-ganti pasangan seksual.
Trikomoniasis
Dokter spesialis Kulit
GejalaKeputihan berwarna kuning atau hijau dan berbau, nyeri perut bawah, nyeri berkemih
Faktor risikoSering berganti pasangan seksual, memiliki penyakit menular seksual, melakukan hubungan intim tanpa kondom
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes apusan vagina
PengobatanObat-obatan, penyesuaian gaya hidup
ObatMetronidazole, tinidazole
KomplikasiInfeksi menular seksual lainnya, kelahiran bayi prematur, berat badan bayi lahir rendah, infeksi trikomoniasis pada bayi
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami keputihan yang berbau, nyeri saat berkemih atau berhubungan seksual
Gejala trikomoniasis yang muncul umumnya berbeda-beda pada tiap orang.  Gejala trikomoniasis vaginalis pada perempuan adalah:
  • Nyeri perut bagian bawah.
  • Keputihan, berbau tidak sedap, kental, encer atau berbusa, dan dapat berwarna kuning ataupun hijau.
  • Area kewanitaan terasa nyeri, gatal, timbul sensasi seperti terbakar, dan bengkak. Kadang rasa gatal juga dirasakan pada paha bagian dalam.
  • Rasa sakit atau tidak nyaman ketika buang air kecil atau berhubungan seksual.
Sementara itu, trikomoniasis pada pria biasanya ditunjukkan dengan gejala seperti berikut:
  • Frekuensi buang air kecil lebih sering dari biasanya
  • Terdapat rasa nyeri, bengkak dan kemerahan pada kepala penis
  • Rasa sakit ketika buang air kecil, atau setelah ejakulasi
  • Keluar cairan putih dari penis.
Biasanya, berbagai gejala tersebut akan muncul sekitar satu bulan sejak seseorang terinfeksi.Setengah dari penderita trich, baik pria maupun wanita,bisa tidak mengalami gejala apa pun (asimptomatik). Namun, mereka tetap bisa menularkan infeksi ini kepada orang lain.
Penyebab trikomoniasis adalah infeksi parasit yang dinamakan trichomonas vaginalis. Parasit ini biasanya menyebar ketika seseorang berhubungan seksual dengan orang yang telah terinfeksi trikomoniasis. Penyakit ini umumnya ditularkan melalui hubungan seksual tanpa perlindungan seperti kondom, atau berbagi alat/mainan seks yang tidak dicuci dengan bersih atau disarungi dengan kondom.Masa inkubasi parasit ini tidak diketahui dengan pasti. Akan tetapi, umumnya parasit trichomonas vaginalis hidup dan berkembang biak dalam tubuh berkisar antara 5-28 hari.

Faktor risiko

Faktor yang meningkatkan risiko tertular penyakit ini adalah:
  • Sering berganti pasangan seksual.
  • Melakukan hubungan intim tanpa mengenakan kondom.
  • Mempunyai riwayat penyakit menular seksual lainnya.
  • Pernah mengalami trichomoniasis.
Tidak semua jenis hubungan seksual dapat menularkan trich. Seks oral, seks anal, berciuman, dan berpelukan tidak akan menularkan infeksi trich. Begitu pula dengan berbagi alat makan, ataupun menggunakan dudukan toilet yang sama tidak akan menularkan penyakit menular seksual ini.Baca juga: Inilah Dampak Seks Bebas bagi Kesehatan Fisik dan Mental
Trikomoniasis terkadang dapat sulit didiagnosis karena memiliki kesamaan tanda dan gejala seperti penyakit menular seksual lainnya. Jika pasien dicurigai menderita trikomoniasis yang didapat dari riwayat medis, dokter akan lebih dulu melakukan pemeriksaan fisik.Pada wanita, penyakit ini akan menyebabkan keputihan yang tidak normal pada area kewanitaan. Sementara itu pada pria, dokter akan melakukan pemeriksaan penis untuk melihat tanda-tanda radang.Pemeriksaan fisik akan dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium, melalui:
  • Pemeriksaan mikroskopik. Tes ini dilaksanakan dengan pengambilan sampel cairan vagina pada wanita dan urine pada pria untuk dianalisis di laboratorium. Parasit trichomonas terlihat sangat khas dan mudah diidentifikasi di bawah mikroskop.  
  • Kultur sel yang dilakukan dengan pembiakan Trichomonas Vaginalis yang mungkin terdapat pada sampel pasien.
  • Rapid antigen test. Pada pemeriksaan ini akan diperiksa antibodi yang terbentuk karena infeksi trikomoniasis melalui metode imunokromatografi warna.
  • Metode deteksi molekuler/NAAT (Nucleic Acid Amplification Test). Tes ini dilakukan untuk memeriksa material genetik  Trichomonas Vaginalis dalam tubuh.
Baca jawaban dokter: Kapan melakukan skrining penyakit menular seksual?
Trikomoniasis dapat disembuhkan. Dokter biasanya akan memberikan beberapa pengobatan trikomoniasis, meliputi:
  • Antibiotik seperti metronidazole atau tinidazole, untuk dikonsumsi selama 5-7 hari. Pengobatan trikomoniasis ini disertai anjuran untuk tidak meminum alkohol dalam 24 jam setelah mengonsumsi metronidazole, atau 72 jam setelah mengonsumsi tinidazole, karena dapat menyebabkan pusing dan muntah.
  • Perubahan gaya hidup. Dokter pada umumnya akan menyarankan pasien untuk tidak melakukan aktivitas seksual hingga infeksi dapat disembuhkan.
Pengobatan dibutuhkan oleh pasien trikomoniasis dan pasangan seksualnya.

Komplikasi

Trikomoniasis dapat meningkatkan risiko terkena atau menyebarkan infeksi menular seksual lainnya. Misalnya, peradangan alat kelamin yang membuat orang tersebut lebih mudah terinfeksi HIV, atau menularkan virus HIV ke pasangan seks.Sementara pada wanita hamil yang mengidap trikomoniasis memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami hal berikut:
  • Melahirkan bayi prematur
  • Melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah
  • Menularkan trikomoniasis melalui jalan lahir ke bayi.
Baca juga: Waspada Penyakit Menular Seksual, Ini Fakta dan Mitos Tentang Seks
Infeksi trikomoniasis dapat dicegah melalui langkah-langkah berikut, antara lain:
  • Menghindari aktivitas seks bebas dengan berganti-ganti pasangan
  • Menggunakan alat kontrasepsi berupa kondom lateks ketika berhubungan seksual.
  • Hindari berbagi alat/mainan seks. Jika anda berbagi dengan orang lain, pastikan alat tersebut dicuci dengan bersih, dan gunakan kondom yang baru sebagai sarung pelindung alat tersebut.
  • Menghindari vaginal douching. Vagina memiliki keseimbangan bakteri alami untuk menjaganya agar tetap sehat. Proses douching dapat menghilangkan bakteri-bakteri bermanfaat tersebut, yang pada akhirnya akan meningkatkan peluang seseorang untuk terkena penyakit menular seksual.
  • Bicaralah secara terbuka dengan pasangan Anda mengenai riwayat seksual Anda dan potensi risiko infeksi yang mungkin terjadi. Hal ini dapat membantu Anda membuat pilihan terbaik bagi diri sendiri dan pasangan Anda. 
Baca juga: 8 Cara Mencegah Penyakit Menular Seksual 
Trikomoniasis pada umumnya menyerang alat kelamin dan perlu waktu hitungan bulan, atau bahkan tahun untuk dapat sembuh apabila tidak diobati. Segera hubungi dokter apabila:
  • Terdapat cairan keluar dari alat kelamin (biasanya diiringi bau tidak sedap)
  • Timbul rasa sakit ketika buang air kecil atau berhubungan seksual.
Jika Anda mengalami gejala trikomoniasis, segera periksakan diri ke dokter terpercaya. Jika memungkinkan, dokter mungkin akan merujuk ke dokter kulit dan kelamin.Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, misalnya:
    • Apakah penyebab dari gejala-gejala saya?
    • Apakah saya perlu menjalani tes?
    • Apa saja pengobatan yang bisa saya dapat? Pengobatan apa yang direkomendasikan?
    • Apakah ada efek samping dari pengobatan tersebut?
    • Apa yang bisa saya lakukan di rumah untuk mengurangi gejala ini?
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah gejala yang muncul bersifat terus menerus atau muncul sesekali?
  • Apakah Anda melakukan aktivitas seksual belakangan ini? Apakah Anda menggunakan kondom?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait trikomoniasis lainnya?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis trikomoniasis agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Central of Disease Control. https://www.cdc.gov/std/trichomonas/stdfact-trichomoniasis.htm
Diakses pada 1 Oktober 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/trichomoniasis/symptoms-causes/syc-20378609
Diakses pada 1 Oktober 2021
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/trichomoniasis
Diakses pada22 Juni 2021
WebMD. https://www.webmd.com/sexual-conditions/treatment-trichomoniasis#1
Diakses pada 1 Oktober 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/trichomonas-infection#treatment
Diakses pada 1 Oktober 2021
Lab Test Online. https://labtestsonline.org/tests/trichomonas-testing
Diakses pada 1 Oktober 2021
Very Well Health. https://www.verywellhealth.com/trichomoniasis-overview-3133043
Diakses pada 1 Oktober 2021
Medline Plus. https://medlineplus.gov/lab-tests/trichomoniasis-test/
Diakses pada 1 Oktober 2021
Canadian Journal of Infectious Disease and Medical Microbiology. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2095007/
Diakses pada 1 Oktober 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email