Jantung

Truncus Arteriosus

11 May 2022 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Truncus Arteriosus
Truncus arteriosus adalah penyakit bawaan yang menyebabkan kelainan jantung pada bayi baru lahir. Pada proses pembentukan jantung yang normal, akan tercipta dua pembuluh arteri besar yang menjadi tempat keluar masuknya darah. Namun, pada penderita truncus arteriosus, dua arteri besar di jantung tersebut tidak terpisah secara sempurna. Jika hanya ada satu arteri pada jantung, tidak ada jalur khusus menuju paru-paru. Akibatnya, darah miskin oksigen yang seharusnya mengalir ke paru-paru dan darah kaya oksigen yang seharusnya dialirkan ke seluruh tubuh, bercampur dan memicu gangguan peredaran darah yang serius.Truncus arteriosus termasuk cacat lahir yang langka. Menurut data dalam jurnal yang diterbitkan oleh StatPearls, angka kejadiannya sekitar 7 per 100.000 kelahiran. Namun bila tidak segera diobati, penyakit ini bisa berakibat fatal.Operasi untuk menangani truncus arteriosus memiliki angka keberhasilan yang tinggi, terutama jika dilakukan sebelum bayi menginjak usia 1 bulan. 
Truncus Arteriosus
Dokter spesialis Anak, Jantung
GejalaKulit, bibir, dan kuku membiru, tidak nafsu makan, jantung berdebar kencang
Faktor risikoInfeksi virus, diabetes yang tidak terkontrol, dan konsumsi obat-obatan tertentu selama hamil
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, ekokardiografi, EKG
PengobatanOperasi, kateterisasi jantung, obat-obatan
ObatDiuretik, agen inotropik
KomplikasiMudah sesak napas, pusing dan lelah yang parah saat olahraga, pembengkakan perut dan kaki
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala truncus arteriosus
Tanda dan gejala truncus arteriosus biasanya muncul pada beberapa hari setelah bayi lahir dan meliputi:
  • Kulit, bibir, dan kuku membiru (sianosis)
  • Tidak mau menyusu
  • Jantung berdebar kencang
  • Kantuk berlebihan
  • Cepat lelah dan terlihat lesu
  • Sesak napas
  • Napas cepat (takipnea)
  • Pelebaran ujung jari dan kuku yang melengkung (clubbing)
  • Pertumbuhan yang terhambat atau gagal tumbuh
  • Hilang kesadaran
Untuk memahami terjadinya truncus arteriosus, Anda perlu mengetahui siklus aliran darah dan anatominya terlebih dahulu. Pada jantung normal, ada dua pembuluh darah yang menjadi tempat keluar masuknya darah. Saat proses pembentukan jantung, janin awalnya hanya memiliki satu arteri dengan arah keluar jantung. Seiring perkembangan janin, arteri ini akan membelah menjadi pembuluh aorta dan pulmonalis. Arteri besar bernama aorta bertugas membawa darah yang mengandung oksigen, keluar dari jantung menuju ke seluruh tubuh. Sedangkan pembuluh darah bernama arteri pulmonalis berfungsi membawa darah ke paru-paru untuk mengambil oksigen.Pada bayi dengan truncus arteriosus, kedua arteri besar tersebut tidak terpisah dengan benar, malah membentuk satu arteri besar. Sebagai akibatnya, darah miskin oksigen dan darah kaya oksigen bercampur. Jantung pun tidak dapat bekerja secara normal.Namun sama seperti cacat jantung lain, penyebab trunkus arteriosus ini belum diketahui secara pasti hingga sekarang. Para pakar menduga bahwa kasus kelainan jantung bawaan umumnya terjadi karena perubahan atau mutasi pada gen atau kromosom. Kombinasi masalah genetik dan faktor risiko lain pada ibu hamil juga diperkirakan berkaitan.

Faktor risiko truncus arteriosus

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan penyakit ini meliputi:
  • Infeksi virus selama kehamilan, seperti rubella 
  • Diabetes kehamilan yang tidak terkontrol dengan baik
  • Obat-obatan tertentu yang diminum selama hamil
  • Kelainan kromosom tertentu, seperti sindrom DiGeorge atau sindrom velocardiofacial
  • Merokok selama hamil 
  • Konsumsi alkohol selama hamil dan calon ayah yang memiliki kebiasaan minum alkohol
  • Kegemukan atau obesitas pada ibu hamil
Baca juga: Menilik Lebih Jauh Anatomi Jantung dan Fungsinya
Cara diagnosis truncus arteriosus akan dilakukan dengan: 
  • Pemeriksaan fisik
 Dokter akan memeriksa kondisi fisik penderita, misalnya ada tidaknya kejanggalan pada napas dan detak jantung pasien.  
  • Ekokardiografi
 Ekokardiografi dapat menunjukkan struktur dan fungsi jantung dengan lebih jelas. Tes ini juga bisa memperlihatkan jumlah banyak darah yang mengalir ke paru-paru bayi, dan ada tidaknya risiko tekanan darah tinggi di paru-paru. 
  • Rontgen dada 
 Rontgen dada dapat menunjukkan ukuran jantung, kelainan pada paru-paru, dan kelebihan cairan di paru-paru. 
  • Electrokardiogram (EKG)
 Prosedur EKG bertujuan mengetahui gangguan yang mungkin dialami oleh jantung. 
  • Kateterisasi jantung 
Melalui kateterisasi jantung, kondisi pembuluh darah yang menyuplai jantung dapat diketahui lebih lanjut. Dokter juga bisa mengecek kondisi katup, pembuluh darah, dan ruang jantung. 
  • MRI dan CT scan 
 MRI atau CT scan dapat dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas akan struktur bagian dalam dari jantung pasien. 
  • Pemeriksaan selama kehamilan

 Truncus arteriosus juga dapat terdeteksi saat ibu hamil menjalani tes skrining atau tes prenatal. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengecek ada tidaknya cacat lahir serta gangguan lain. Beberapa kelainan jantung mungkin terlihat selama USG kehamilan. Jika dokter mencurigai janin menderita truncus arteriosus, dokter akan menyarankan ekokardiogram janin untuk memastikan diagnosis.Baca jawaban dokter: Apakah setiap orang wajib melakukan skrining genetik?
Pasien truncus arteriosus harus menjalani operasi agar sembuh dari kelainan ini. Namun dokter juga bisa memberikan obat-obatan sebelum pembedahan untuk membantu meningkatkan kesehatan jantung pasien. Berikut penjelasannya:1. Obat-obatanObat-obatan yang mungkin diresepkan sebelum operasi meliputi:
  • Obat diuretik untuk meningkatkan frekuensi dan volume buang air kecil, sehingga mencegah penumpukan cairan dalam tubuh
  • Agen inotropik yang diberikan untuk memperkuat kontraksi jantung
2. OperasiOperasi adalah cara mengobati truncus arteriosus yang utama. Prosedur ini biasanya dilakukan pada beberapa minggu pertama setelah bayi lahir, dan jenisnya akan disesuaikan dengan kondisi bayi. Pembedahan pada pasien truncus arteriosus bertujuan:
  • Menutup lubang antara dua ventrikel dengan tambalan khusus (patch)
  • Memisahkan bagian atas arteri pulmonalis dari arteri yang ada
  • Menanam tabung dan katup untuk menghubungkan ventrikel kanan dengan bagian atas arteri pulmonalis, sehingga menciptakan arteri pulmonalis baru yang lengkap
  • Rekonstruksi satu pembuluh darah besar dan aorta untuk membuat aorta baru yang lengkap
Setelah operasi, pasien akan membutuhkan perawatan lanjutan seumur hidup dengan dokter spesialis jantung. Dokter jantung mungkin menyarankan agar pasien membatasi aktivitas fisik, terutama olahraga yang intens.Karena saluran buatan pada jantung juga tidak tumbuh layaknya saluran normal. Jadi operasi lanjutan untuk mengganti katup biasanya diperlukan seiring bertambahnya usia pasien.Pasien juga perlu minum obat antibiotik jika akan menjalani prosedur gigi dan operasi lain, untuk mencegah infeksi.3. Kateterisasi jantungSelain untuk proses diagnosis, kateterisasi jantung dapat dilakukan guna mengobati penyakit jantung, termasuk truncus arteriosus. Prosedur ini bertujuan mencegah kebutuhan operasi jantung saat anak tumbuh atau katup buatan sebelumnya kondisi memburuk. Kateter akan dimasukkan lewat pembuluh darah di kaki, kemudian disambungkan ke jantung untuk menggantikan saluran yang rusak.Kateter dengan ujung khusus seperti balon juga dapat digunakan untuk membuka arteri yang tersumbat atau menyempit.  

Komplikasi truncus arteriosus

Truncus arteriosus dapat menimbulkan sejumlah komplikasi, bahkan ketika pasien telah menjalani operasi perbaikan jantung pada masih bayi. Beberapa di antaranya meliputi:
Dalam kebanyakan kasus, cacat jantung bawaan tidak dapat dicegah, termasuk truncus arteriosus. Pasalnya, penyebabnya juga belum diketahui dengan jelas.Namun selama hamil, Anda dianjurkan untuk melakukan screening dan menjalani vaksinasi rubella, serta mengonsumsi asam folat sesuai dengan saran dari dokter.Bagi Anda yang memiliki faktor risiko truncus arteriosus, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter ahli genetik dan ahli jantung sebelum merencanakan kehamilan.
Hubungi dokter jika bayi menunjukkan gejala truncus arteriosus, seperti kulit membiru, tidak mau menyusu, terlalu banyak tidur, tampak sangat lelah, atau sesak napas.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang dirasakan oleh pasien.
  • Catat riwayat penyakit sang ibu maupun pasien. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter. 
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala dialami oleh pasien?
  • Sejak kapan gejala muncul?
  • Apakah sang ibu memiliki faktor risiko terkait truncus arteriosus?
  • Apakah sang ibu rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah dicoba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis truncus arteriosus agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/ncbddd/heartdefects/truncusarteriosus.html
Diakses pada 25 April 2022
Very Well Health. https://www.verywellhealth.com/blood-flow-through-the-heart-3156938#
StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK534774/
Diakses pada 30 April 2022
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/truncus-arteriosus/symptoms-causes/syc-20364247
Diakses pada 25 April 2022
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/001111.htm
Diakses pada 25 April 2022
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/892489-workup#c4
Diakses pada 25 April 2022
American Heart Association.
https://www.heart.org/en/health-topics/congenital-heart-defects/about-congenital-heart-defects/truncus-arteriosus
Diakses pada 25 April 2022
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email