Infeksi

Tularemia

02 Feb 2022 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Tularemia
Tularemia adalah infeksi langka yang disebabkan bakteri Francisella tularensis. Infeksi ini biasanya menjangkiti hewan dan dapat menyebar ke manusia. Tularemia umumnya menyerang kulit, mata, kelenjar getah bening, dan paru-paru.Tularemia dapat menginfeksi berbagai jenis binatang, seperti kelinci, tupai, hewan pengerat, dan domba. Hewan peliharaan yang umum seperti anjing, kucing, atau hamster juga rentan terserang bakteri penyebab tularemia. Penyakit ini dapat menyebar ke manusia dalam beberapa cara, misalnya dari gigitan serangga dan kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi. Tularemia adalah infeksi yang sangat menular dan bisa berpotensi mengancam jiwa. Meski begitu, tularemia biasanya dapat diobati secara efektif dengan antibiotik tertentu jika didiagnosis lebih awal.Baca juga: Apa Saja Penyakit yang Rentan Disebabkan oleh Hewan?
Tularemia
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaLuka, demam, meriang, nyeri otot, diare
Faktor risikoTinggal di daerah yang banyak binatang, bekerja jadi dokter hewan, penjaga kebun binatang
Metode diagnosisTes serologi, rontgen dada
PengobatanObat-obatan
ObatAntibiotik
KomplikasiRadang paru-paru, meningitis, osteomielitis
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala dan faktor risiko tularemia
Tanda dan gejala tularemia dapat bervariasi tergantung cara bakteri masuk ke dalam tubuh. Kebanyakan orang yang terkena tularemia akan merasakan gejalanya dalam waktu tiga sampai lima hari. Namun, pada beberapa kasus, gejalanya baru muncul 21 hari kemudian.Gejala tularemia dibagi berdasarkan kategorinya, antara lain:

1. Tularemia ulserativa

Tularemia ulserativa adalah bentuk tularemia yang paling umum. Tanda dan gejalanya antara lain:
  • Luka atau borok yang terbentuk di area kulit tempat infeksi, biasanya berasal dari gigitan serangga atau hewan lain
  • Kelenjar getah bening bengkak dan nyeri (biasanya di ketiak atau selangkangan)
  • Demam
  • Panas dingin
  • Sakit kepala
  • Kelelahan

2. Tularemia kelenjar

Orang dengan tularemia kelenjar memiliki tanda dan gejala yang sama dengan tularemia  ulserativa, tetapi tanpa borok di kulit. 

3. Tularemia okuloglandular

Tularemia okuloglandular terjadi ketika bakteri masuk melalui mata. Kondisi ini ditandai dengan gejala:

4. Tularemia orofaringeal

Tularemia jenis ini menyerang mulut, tenggorokan dan saluran pencernaan akibat mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi Francisella tularensis (F. tularensis). Tanda dan gejalanya antara lain:
  • Demam
  • Sakit tenggorokan
  • Sariawan
  • Sakit perut
  • Muntah
  • Diare
  • Radang amandel (tonsillitis)
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher

5. Tularemia pneumonik

Tularemia pneumonik adalah bentuk paling serius dari penyakit ini. Tularemia pneumonik ditularkan saat seseorang menghirup debu atau aerosol yang telah terkontaminasi bakteri. Tularemia jenis ini juga dapat terjadi ketika bentuk tularemia lain, misalnya ulseroglandular tidak diobati dengan baik sehingga bakteri menyebar melalui aliran darah ke paru-paru.Tularemia pneumonik memiliki gejala khas pneumonia, antara lain:

6. Tularemia tifoid

Tularemia tifoid adalah bentuk tularemia yang paling langka dan biasanya ditandai dengan gejala berikut:
Penyebab tularemia adalah infeksi bakteri F. tularensis. Umumnya, penyakit ini tidak terjadi pada manusia dan tidak menular antarmanusia.Tularemia terjadi terutama di daerah pedesaan, karena biasanya di area tersebut terdapat banyak mamalia, burung, dan serangga yang rentan terinfeksi F. tularensis. Bakteri ini dapat hidup selama berminggu-minggu di tanah, air, dan bangkai hewan.Terdapat dua jenis F. tularensis yang menjadi penyebab sebagian besar kasus tularemia, antara lain:
  •  F. tularensis tipe A. Bakteri ini biasanya bersifat lebih mematikan bagi manusia dan sering menginfeksi kelinci, dan hewan pengerat di kawasan Amerika Serikat dan Kanada.
  • F. tularensis tipe B. Bakteri ini biasanya menyebabkan infeksi ulseroglandular ringan dan menjangkiti hewan pengerat dan di lingkungan perairan di seluruh belahan bumi utara, termasuk kawasan Amerika Utara, Eropa, dan Asia.
Tularemia berbeda dari penyakit yang ditularkan hewan ke manusia (zoonosis) pada umumnya, karena memiliki beberapa rute penularan. Rute penularan tersebut biasanya menentukan jenis dan tingkat keparahan gejala yang dialami.  Secara umum, Anda bisa tertular tularemia melalui: 1. Gigitan seranggaBerbagai jenis serangga dapat menularkan tularemia ke manusia, tapi paling sering disebarkan dari gigitan serangga, seperti kutu dan lalat rusa. Gigitan kutu diketahui menyebabkan sebagian besar kasus tularemia ulseroglandular.2. Paparan terhadap hewan yang sakit atau matiTularemia ulserativa juga dapat terjadi akibat kontak dengan hewan yang terinfeksi. Jenis tularemia ini paling sering ditularkan oleh kelinci. Pada tularemia ulserativa, bakteri akan masuk ke tubuh melalui luka kecil atau gigitan dari hewan tersebut. Sementara pada okular tularemia umumnya terjadi ketika Anda mengucek mata setelah menyentuh hewan yang terinfeksi.3. Udara yang terkontaminasi bakteriBakteri di dalam tanah dapat mengkontaminasi udara di sekitarnya. Seseorang yang melakukan kegiatan di area tersebut, misalnya saat berkebun, melakukan pekerjaan konstruksi, atau aktivitas lainnya dapat menghirup udara yang sudah bercampur dengan bakteri tersebut.Pekerja laboratorium yang menangani sampel tularemia juga berisiko terkena infeksi melalui udara.4. Makanan atau air yang terkontaminasiMeskipun jarang terjadi, tularemia dapat ditularkan melalui konsumsi dari daging hewan yang terinfeksi atau minum air yang terkontaminasi.

Faktor risiko

Beberapa risiko berikut dapat meningkatkan terjadinya tularemia, yaitu:
  • Tinggal atau mengunjungi daerah tertentu, seperti hutan atau pedesaan yang memiliki banyak hewan pengerat, mamalia, atau hewan lain yang rentan terkena tularemia
  • Bekerja di tempat yang melibatkan kontak dengan hewan, seperti dokter hewan, penjaga kebun binatang, dan penjaga taman
  • Sering kontak dengan bangkai hewan, seperti pemburu, ahli taksidermi, dan tukang daging
  • Berprofesi sebagai tukang kebun dan penata taman karena birisiko tinggi menghirup bakteri yang ada dalam tanah
Risiko infeksi tularemia akan lebih tinggi pada orang-orang yang sistem kekebalan tubuhnya bermasalah, seperti pengidap kanker atau HIV.Baca jawaban dokter: Apakah makanan yang dijilat hewan peliharaan berbahaya bagi kesehatan?
Tularemia termasuk penyakit langka yang sulit didiagnosis karena memiliki gejala yang sama dengan penyakit lain. Dokter akan menggali riwayat kesehatan dan informasi pribadi seperti menanyakan jenis pekerjaan, riwayat perjalanan, dan hobi tertentu yang mungkin berhubungan dengan hewan.Dokter mungkin mencurigai Anda mengidap tularemia jika Anda baru saja bepergian, digigit serangga, atau kontak dengan hewan. Terlebih, jika Anda sebelumnya sudah memiliki kondisi medis seperti kanker atau HIV.Tularemia biasanya dapat didiagnosis melalui tes serologi yang bertujuan untuk mengidentifikasi antibodi spesifik terhadap bakteri F. tularensisNamun, tes serologi biasanya tidak dapat mendeteksi antibodi hingga beberapa minggu setelah infeksi pertama dimulai. Oleh karena itu, dokter juga akan mengumpulkan sampel lain untuk dites di laboratorium. Sampel tersebut dapat berasal dari bagian tubuh berikut:
  • Kulit
  • Kelenjar getah bening
  • Cairan pleura di rongga dada
  • Cairan tulang belakang
Dokter juga mungkin akan merekomendasikan rontgen dada untuk mencari tanda-tanda pneumonia.
Pengobatan tularemia akan diberikan berdasarkan penyebab penularannya dan tingkat keparahannya. Umumnya, kasus tularemia yang berhasil terdiagnosis dari dini dapat ditangani secara efektif dengan antibiotik yang diberikan melalui suntikan langsung ke otot atau vena.Antibiotik yang dapat digunakan untuk mengobati tularemia meliputi:
Operasi pembedahan juga mungkin diperlukan untuk mengeringkan kelenjar getah bening yang bengkak atau untuk memotong jaringan yang terinfeksi dari luka kulit. Anda mungkin juga akan diberikan obat untuk gejala demam atau sakit kepala.

Komplikasi 

Jika tidak diobati dengan baik, kasus tularemia yang parah bisa menyebabkan sejumlah komplikasi berupa:
  • Radang paru-paru (pneumonia)
  • Infeksi di sekitar otak dan sumsum tulang belakang (meningitis) 
  • Iritasi di sekitar jantung (perikarditis) 
  • Infeksi tulang (osteomielitis)
  • Bakteri tularemia yang menyebar ke tulang
  • Gagal jantung kronis
  • Kematian
Hingga saat ini tidak ada vaksin yang tersedia untuk mencegah tularemia. Jika Anda memiliki faktor risiko terkait tularemia, langkah-langkah berikut ini dapat membantu mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi.
  • Mengenakan celana dan baju lengan panjang saat berada di tempat yang rawan, seperti di hutan atau peternakan untuk membantu mencegah gigitan kutu.
  • Jauhkan bangkai hewan dari makanan atau air.
  • Hindari minum air dari danau atau kolam.
  • Lindungi hewan peliharaan Anda di luar ruangan dengan obat kutu.
  • Gunakan obat nyamuk.
  • Jangan menguliti atau mengeluarkan organ tubuh hewan apa pun yang tampak sakit.
  • Kenakan sarung tangan dan kacamata saat menangani hewan apa pun.
  • Cuci tangan Anda dengan hati-hati setelah memegang hewan.
  • Masak daging dengan matang.
Baca juga: Seperti Apa Obat Nyamuk yang Aman untuk Bayi?
Segera hubungi dokter apabila Anda mengalami gejala-gejala tularemia, terlebih jika Anda baru saja digigit serangga atau memiliki faktor risiko lainnya. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter. 
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda baru pergi ke daerah yang rentan tularemia?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis tularemia agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
CDC. https://www.cdc.gov/tularemia/index.html
Diakses pada 26 Januari 2022
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tularemia/symptoms-causes/syc-20378635
Diakses pada 26 Januari 2022
MSD Manuals. https://www.msdmanuals.com/professional/infectious-diseases/gram-negative-bacilli/tularemia
Diakses pada 26 Januari 2022
Healthline. https://www.healthline.com/health/tularemia#prevention
Diakses pada 26 Januari 2022
My Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17775-tularemia
Diakses pada 26 Januari 2022
Stat Pearls. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC126859/
Diakses pada 26 Januari 2022
New York Department of Health. https://www.health.ny.gov/diseases/communicable/tularemia/fact_sheet.htm
Diakses pada 26 Januari 2022
Rare Diseases. https://rarediseases.org/rare-diseases/tularemia/
Diakses pada 26 Januari 2022
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email