Kulit & Kelamin

Vulvovaginitis

18 Oct 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Vulvovaginitis
Vulvovaginitis dapat mengakibatkan keputihan yang berbau dan gatal pada vagina.
Vulvovaginitis adalah peradangan atau infeksi pada vulva (permukaan luar vagina) dan vagina. Kondisi ini juga dikenal dengan istilah vulvitis atau vaginitis. Peradangan pada vagina dapat terjadi di berbagai tahapan usia. Namun, kondisi ini paling banyak dialami oleh perempuan usia subur. Ada beberapa tipe vulvovaginitis berdasarkan penyebabnya, antara lain:
  • Vaginitis atrofik, disebabkan oleh penipisan dinding vagina seiring menurunnya kadar estrogen saat masa menopause. Akibatnya, vagina menjadi makin rentan terhadap iritasi serta peradangan.
  • Bacterial vaginosis, yang terjadi karena pesatnya pertumbuhan bakteri normal dalam vagina. Bakteri ini, yang disebut lactobacilli, biasanya berada dalam jumlah kecil pada kondisi normal.
  • Trichomoniasis, yang disebabkan oleh parasit bernama trichomonas vaginalis. Infeksi ini menular lewat hubungan seksual. Trichomoniasis  juga dapat menginfeksi bagian lain dalam sistem urin seperti saluran uretra (saluran yang mengeluarkan urin dari kandung kemih keluar tubuh).
  • Candidiasis (vaginal thrush), yang disebabkan oleh infeksi jamur candida albicans.
  • Reaksi alergi, sodium sulfate, dioxane, triclosan dan paraben dapat menjadi penyebab terjadinya alergi pada vulva dan vagina zat tersebut biasanya terdapat pada sabun pembersih, kondom dan bedak.
  • Hormonal, kadar estrogen yang menurun dapat menyebabkan vulvavaginitis, hal ini biasanya terjadi pada wanita yang menopause atau pasca melahirkan.
Vulvovaginitis bisa disebabkan oleh banyak hal. Namun, penyebab paling umum adalah infeksi bakteri. Data nasional menunjukkan,sebesar 29% dari kasus vulvovaginitis disebabkan oleh bacterial vaginosis.Selain itu, dipercaya bahwa berganti-ganti pasangan seksual dalam satu waktu bisa meningkatkan risiko seseorang menderita vulvovaginitis karena kondisi ini juga dapat ditimbulkan dari infeksi menular seksual.
Vulvovaginitis
Dokter spesialis Kulit
GejalaNyeri saat buang air kecil, vagina gatal, iritasi pada daerah kelamin
Faktor risikoBerganti-ganti pasangan seksual, menggunakan celana dalam terlalu ketat, menggunakan produk yang mengandung iritant
Metode diagnosisWawancara, pemeriksaan fisik, mengambil sampel cairan dari vagina untuk pengujian di laboratorium.
PengobatanObat-obatan dan perawatan lainnya sesuai penyebab vulvovaginitis
ObatAntibiotik, antifungal, krim estrogen
Kapan harus ke dokter?Saat gejala muncul
Gejala vulvovaginitis bisa bervariasi tergantung dari penyebabnya. Secara umum, gejala yang ditimbulkan di antaranya:
  • Tidak nyaman pada saat buang air kecil.
  • Terasa gatal pada area kelamin.
  • Iritasi pada daerah kelamin.
  • Keputihan pada vagina yang semakin lama semakin berbau tajam.
  • Terdapat peradangan sekitar labia dan daerah perineum.
  • Vagina bengkak.
  • Muncul ruam dan lentingan-lentingan seperti bisul di area vagina serta vulva.
  • Perdarahan ringan.
  • Nyeri saat berhubungan seks.
Tidak semua wanita yang mengalami vulvovaginitis akan mengalami gejala yang sama. Namun, sebagian besar pasien akan mengalami keputihan yang tidak normal.
Penyebab vulvovaginitis dapat beraneka ragam, termasuk di antaranya yaitu:

1. Bakteri

Jenis bakteri yang menginfeksi adalah streptococcus, gardnerella, dan staphylococcus. Selain karena infeksi, pertumbuhan bakteri yang menjadi terlalu banyak dalam vagina juga dapat memicu vulvovaginitis, seperti yang terjadi pada bacterial vaginosis.Saat vulva mengalami infeksi bakteri, gejala yang dapat muncul berupa keluarnya keputihan berwarna putih keabu-abuan dan berbau amis. 

2. Jamur

Ragi atau jamur merupakan salah satu penyebab umum dari vulvovaginitis. Kondisi ini menyebabkan gatal pada kelamin dan keputihan berwarna putih serta kental dengan tekstur seperti keju.

3. Virus

Infeksi virus yang menular lewat hubungan seksual seperti herpes dan human papillomavirus (HPV) juga bisa memicu terjadinya peradangan pada vagina dan vulva. 

4. Parasit

Parasit seperti Trichomonas vaginaliscacing kremi, kudis, dan kutu dapat menyebabkan radang pada vulva dan vagina.

5. Faktor lingkungan

Faktor lingkungan yang bisa memicu vulvovaginitis adalah kebersihan tubuh yang buruk dan juga paparan alergen. Selain itu, memakai pakaian yang ketat juga dapat menyebabkan iritasi dan membuat area vagina menjadi lembap. Kulit yang mengalami iritasi lebih rentan terhadap vulvovaginitis dan bisa memperlambat pemulihan.

6. Infeksi menular seksual

Penyakit atau infeksi menular seksual seperti klamidia, gonorrhea dan herpes dapat menyebabkan vulvovaginitis.

7. Bahan kimia

Bahan kimia seperti sodium sulfate, dioxane, triclosan, dan paraben dapat menjadi penyebab terjadinya alergi pada vulva dan vagina. Zat tersebut biasanya terdapat pada sabun pembersih, kondom, dan bedak.

8. Vaginitis atrofik

Kondisi ini disebabkan oleh berkurangnya kadar estrogen karena menopause atau ovarium yang diangkat. Akibatnya, dinding vagina menipis dan kadang-kadang menyebabkan iritasi, rasa terbakar, serta vagina menjadi kering. 
Untuk mendiagnosis penyakit vulvovaginitis, dokter biasanya akan menanyakan riwayat penyakit dan tanda serta gejala yang dialami pasien.Dokter juga akan mengumpulkan sampel cairan dari vagina untuk pengujian di laboratorium. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan panggul untuk memantau vulva, vagina, dan serviks (leher rahim).Kadang, biopsi akan dilakukan untuk mengidentifikasi organisme penyebab infeksi dengan mengambil sedikit jaringan dari vulva. Biopsi biasanya dilakukan jika prosedur diagnosis lainnya tidak menunjukkan hasil yang jelas.
Pengobatan dan perawatan dapat dilakukan berdasarkan penyebab vulvovaginitis, seperti:
  • Menghentikan penggunaan bahan tertentu
    Jika vulvovaginitis yang dialami disebabkan oleh alergi terhadap bahan tertentu seperti sabun, jenis pakaian dalam, atau detergen, maka menghentikan penggunaan barang-barang tersebut bisa jadi solusi penyembuhan yang paling efektif.
  • Krim estrogen
    Krim estrogen dapat diresepkan dokter untuk meredakan gejala vulvovaginitis yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon.
  • Krim antibiotik atau antijamur
    Peradangan yang disebabkan infeksi bakteri atau jamur dapat diobati dengan krim oles atau berupa suppositoria. Antibiotik yang biasa digunakan adalah clindamycin, sedangkan antijamur yang umum diberikan adalah miconazole, clotrimazole, butoconazole atau tioconazole.
  • Krim atau losion antiradang
    Antiradang seperti krim triamcinolone atau hidrokortison untuk menghentikan peradangan yang biasa ditimbulkan vulvovaginitis yang dipicu alergi.
  • Konsumsi obat-obatan
    Dokter juga dapat meresepkan obat minum berupa:
    • Antibiotik untuk vulvovaginitis yang disebabkan oleh bakteri, misalnya metronidazole.
    • Untuk kondisi yang disebabkan jamur, akan diberi antijamur yang diminum seperti ketoconazole, itraconazole, fluconazole, dan clotrimazole.
    • Antihistamin untuk vulvovaginitis yang dipicu alergi.
Terdapat beberapa cara untuk mengurangi risiko terkena vulvovaginitis, termasuk:
  • Tidak berganti pasangan seksual.
  • Memakai proteksi seperti kondom ketika melakukan hubungan seksual.
  • Hindari penggunaan cairan antiseptik atau cairan pembersih kewanitaan karena produk-produk tersebut akan mengganggu keseimbangan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi.
  • Jaga kebersihan alat bantu seksual.
  • Hindari pakaian yang menahan panas, menahan kelembapan, serta celana ketat maupun celana dalam yang bukan berbahan katun.
  • Berkonsultasi dengan dokter jika menemukan gejala-gejala vulvovaginitis.
Saat mengalami gejala-gejala yang terkait dengan kondisi vulvovaginitis seperti rasa gatal, iritasi, atau keputihan yang baunya makin tajam, atau peradangan pada area kelamin.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, seperti:
    • Apa penyebab vulvovaginitis yang saya alami?
    • Pengobatan atau perawatan apa yang direkomendasikan untuk kondisi saya?
    • Apakah saya perlu melakukan pemeriksaan tertentu, seperti pemeriksaan untuk infeksi menular seksual?
    • Apakah aman bagi saya untuk berhubungan seksual?
    • Kapan saya perlu menemui dokter spesialis, berdasarkan gejala yang saya alami?
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait vulvovaginitis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis vulvovaginitis agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
American Family Physician. https://www.aafp.org/afp/2018/0301/p321.html
Diakses pada 12 Oktober 2021
Family Doctor. https://familydoctor.org/condition/vaginitis/
diakses pada 3 Desember 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/vulvovaginitis
Diakses pada 12 Oktober 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/vaginitis/symptoms-causes/syc-20354707
Diakses pada 12 Oktober 2021
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/175101
diakses pada 22 Agustus 2021
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/2188931-overview
Diakses pada 12 Oktober 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email