Penyakit Lainnya

Withdrawal Syndrome

13 Jan 2022 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Withdrawal Syndrome
Withdrawal syndrome bisa memicu mual dan muntah, serta tremor
Withdrawal syndrome adalah serangkaian gejala fisik dan psikologis yang muncul ketika pecandu obat-obatan atau alkohol tidak lagi mendapatkan zat tersebut, seperti biasanya. Kondisi ini sering juga disebut dengan istilah sakau atau gejala putus obat. Withdrawal syndrome biasanya terjadi ketika penghentian atau pengurangan dosis dilakukan secara tiba-tiba. Akibatnya, pada titik tertentu, tubuh penderita bisa mengalami efek ketagihan atau merasakan keinginan tak tertahankan akan zat tersebut.Tingkat keparahan dan durasi gejala efek putus obat bervariasi, tergantung respons tiap orang dan jenis zat yang menyebabkannya. Pada beberapa kasus, kondisi ini bisa membahayakan penderitanya. Itu sebabnya, penderita sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum menghentikan atau mengurangi penggunaan obat-obatan tertentu.
Withdrawal Syndrome
Dokter spesialis Jiwa
GejalaNafsu makan berkurang, perubahan mood, hidung berair
Faktor risikoPecandu obat-obatan, alkoholik
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah, tes urine
PengobatanPerubahan pola hidup, obat-obatan, psikoterapi
ObatClonidine, chlordiazepoxide, diazepam
KomplikasiGangguan tidur, kejang, masalah keluarga dan sosial
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami gejala withdrawal syndrome
Gejala withdrawal syndrome bisa berbeda-beda dan tergantung pada jenis obat-obatan atau zat yang digunakan oleh penderita. Namun, pada umumnya, tanda dan gejala putus obat meliputi:
  • Berkurangnya nafsu makan
  • Perubahan suasana hati (mood)
  • Hidung mampet atau berair
  • Rasa lelah
  • Lebih mudah tersinggung
  • Gelisah 
  • Menggigil 
  • Nyeri otot
  • Mual
  • Muntah
  • Sulit tidur
  • Gemetaran (tremor)
  • Berkeringat
Di samping gejala di atas, putus obat juga dapat menyebabkan delirium tremens. Ini adalah bentuk withdrawal syndrome yang paling parah akibat berhenti konsumsi alkohol. Gejala yang mungkin muncul, seperti:
Mungkin saja ada tanda dan gejala withdrawal syndrome yang tidak disebutkan. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan keluhan tertentu, konsultasikanlah dengan dokter.Baca Juga: Tidak Hanya Sakau, Ini Ciri-Ciri Pengguna Narkoba Lainnya 
Penyebab utama withdrawal syndrome adalah berhenti atau mengurangi konsumsi substansi tertentu yang dilakukan secara mendadak.Ketika seseorang mengonsumsi suatu zat, baik itu obat ataupun alkohol dalam jangka waktu lama, akan muncul efek ketergantungan dalam tubuh. Tubuh menjadi terbiasa menerima asupan zat tersebut dan prosesnya sudah dikenali oleh sistem tubuh. Penghentian zat tersebut akan mengacaukan sistem di dalam tubuh. Akibatnya, keseimbangan tubuh jadi terganggu dan berbagai efek putus obat pun dapat muncul.Selain ketergantungan, tubuh juga bisa menciptakan efek toleransi. Artinya, Anda akan terus-terusan meningkatkan dosisnya untuk mendapatkan efek yang sama pada saat pertama kali mengonsumsi zat tersebut. Dosis yang semakin besar dapat meningkatkan efek withdrawal yang semakin parah.Beberapa zat yang dapat memicu terjadinya withdrawal syndrome dan efek ketergantungan jika dihentikan secara mendadak, di antaranya:
  • Alkohol 
  • Heroin 
  • Ganja atau mariyuana
  • Nikotin 
  • Antidepresan
  • Barbiturat
  • Depresan
  • Halusinogen
  • Inhalansia
  • Opioid (opioid withdrawal)
  • Stimulan
Baca juga: Bahaya Penyalahgunaan Narkoba bagi Kesehatan
Secara umum, dokter akan memastikan diagnosis withdrawal syndrome dengan cara berikut:
  • Tanya jawab. Dokter akan menanyakan riwayat penggunaan obat atau substansi tertentu, kapan konsumsi dihentikan, ada tidaknya kondisi serupa sebelum ini, serta gejala yang sedang dirasakan.
  • Pemeriksaan fisik. Dokter akan mencari ada tidaknya gejala-gejala fisik pada tubuh pasien.
  • Pemeriksaan urine
  • Tes kadar gula darah
  • Tes hitung darah lengkap
  • Pemeriksaan panel metabolik
  • Analisis gas darah 
  • Pemeriksaan enzim jantung (cardiac biomarker)
  • Waktu pembekuan darah (prothrombin time)
  • Skrining toksikologi
  • Pemeriksaan kadar magnesium dan kalsium
  • Pemeriksaan fungsi hati
  • Tes pencitraan seperti rontgen dada atau CT scan 
  • Elektrokardiogram (EKG)
  • Lumbar pungsi
  • Kultur darah
Baca jawaban dokter: Berapa lama narkoba bertahan di urine pecandu ?
Cara mengobati withdrawal syndrome bisa berupa dukungan fisiologis dan obat-obatan yang dapat meringankan gejala serta mencegah komplikasi lebih berat. Beberapa langkah penanganannya meliputi:

1. Obat-obatan

Obat-obatan yang diberikan akan bervariasi dan tergantung pada jenis substansi yang memicu gejala. Pilihan obat yang biasanya digunakan meliputi:
Obat-obatan jenis lain juga mungkin diresepkan oleh dokter untuk membantu dalam mengatasi gejala withdrawal syndrome yang spesifik. Misalnya, obat anticemas, antikejang, antipsikotik, dan obat lain untuk mual serta gangguan tidur.

2. Perubahan pola hidup

Agar proses penyembuhan berjalan lancar, penderita juga perlu melakukan beberapa langkah berikut:
  • Mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang
  • Mencukupi kebutuhan cairan tubuh
  • Mengatur jadwal tidur agar lebih teratur
  • Melakukan teknik relaksasi, seperti meditasi atau yoga
Setelah proses pemulihan withdrawal syndrome selesai, dokter dapat merekomendasikan pasien untuk menjalani penanganan kecanduan yang dimilikinya. Langkah-langkah ini bisa berupa:
  • Psikoterapi
Setelah sembuh dari withdrawal syndrome, pasien bisa disarankan untuk menjalani psikoterapi. Misalnya pada pasien kecanduan alkohol atau kecanduan napza (obat-obatan terlarang). Melalui psikoterapi, psikolog atau psikiater akan membimbing pasien untuk mendeteksi penyebab kecanduan. Setelah pemicunya diketahui, pasien akan diajari guna mengatasi pemicu tersebut tanpa lari ke substansi tertentu.
  • Support group dan pusat rehabilitasi
Penderita kecanduan bisa pula bergabung dalam beberapa support group. Kelompok ini memiliki anggota dengan kecanduan yang serupa. Mereka akan saling menceritakan pengalamannya dan memberikan dukungan moral, di bawah bimbingan seorang penyuluh.Khusus untuk penderita kecanduan narkoba, kini telah tersedia berbagai pusat rehabilitasi narkoba di Indonesia. Proses rehab ini bisa dilakukan dengan rawat inap atau rawat jalan.Keluarga dapat mencari tahu fasilitas rehabilitasi mana yang cocok untuk penderita supaya proses pemulihan bisa berjalan lebih lancar.

3. Dukungan keluarga 

Dukungan orang terdekat maupun keluarga sangat penting dalam penyembuhan penderita withdrawal syndrome. Keluarga perlu membujuk dan mendengarkan dengan saksama agar pengidap bisa lebih terbuka dan menceritakan masalahnya.Dengan begitu, penderita akan lebih semangat dalam menjalani pengobatan withdrawal syndrome. Langkah ini juga berperan dalam mencegah penderita untuk kembali jatuh dalam kecanduan.

Komplikasi withdrawal syndrome

Jika tidak ditangani dengan saksama, withdrawal syndrome bisa memicu berbagai komplikasi di bawah ini:
  • Gangguan tidur yang berkepanjangan
  • Masalah keluarga dan sosial, seperti perceraian atau dikucilkan
  • Dehidrasi akibat muntah terus-menerus
  • Kejang
  • Halusinasi
  • Delirium
  • Kematian jika dehidrasi tidak kunjung ditangani
Baca Juga: Berbagai Tahapan dan Metode Rehabilitasi Narkoba
Pengobatan gejala putus obat atau alkohol hanya berupa penanganan sementara. Setelah gejala berkurang, pasien tetap perlu mencegah withdrawal syndrome dengan cara:
  • Mendiskusikan penanganan penyalahgunaan dan ketergantungan substansi tersebut dengan dokter
  • Menjalani psikoterapi dengan psikolog maupun psikiater
  • Bergabung dalam support group
  • Menceritakan masalahnya dengan keluarga atau orang terdekat
Keluarga dan orang-orang di sekitar penderita pun perlu memberikan bantuan agar ia tidak lagi terjerumus dalam kecanduan. Contohnya, dengan menjadi pendengar yang baik dan senantiasa ada untuk penderita.
Segeralah berkonsultasi ke dokter apabila Anda melihat seseorang menghentikan konsumsi alkohol atau obat-obatan tertentu, lalu mengalami gejala withdrawal syndrome.Penderita kecanduan alkohol atau substansi lain umumnya perlu bantuan dari orang-orang di sekitarnya untuk membujuk mereka memeriksakan diri ke dokter. Pasalnya, mereka jarang menyadari kondisinya sendiri.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, keluarga pasien dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini: 
  • Buat daftar seputar gejala yang dirasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.
  • Temani pasien saat berkonsultasi ke dokter. Anda bisa memberikan dukungan moral maupun membantu pasien dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
  
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah pasien rutin mengonsumsi alkohol atau obat-obatan tertentu?
  • Apakah pasien menghentikan konsumsi alkohol atau obat-obatan tersebut?
  • Apakah pasien pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah dicoba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis withdrawal syndrome agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
National Center for Biotechnology Information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459239/
Diakses pada 25 Oktober 2021
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-withdrawal-how-long-does-it-last-63036
Diakses pada 25 Oktober 2021
American Addiction Centers. https://americanaddictioncenters.org/withdrawal-timelines-treatments
Diakses pada 25 Oktober 2021
WebMD. https://www.webmd.com/mental-health/addiction/alcohol-withdrawal-symptoms-treatments#1
Diakses pada 10 Agustus 2020
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/819502-overview#a1
Diakses pada 25 Oktober 2021
https://americanaddictioncenters.org/withdrawal-timelines-treatments/getting-through-symptoms
Diakses pada 10 Agustus 2020
Badan Narkoba Nasional. https://bnn.go.id/daftar-tempat-rehabilitasi-narkoba-di-indonesia/
Diakses pada 25 Oktober 2021
Clinical Guidelines for Withdrawal Management and Treatment of Drug Dependence in Closed Settings. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK310652/
Diakses pada 25 Oktober 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email